Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

WAKATOBI SEGERA JADI CAGAR BIOSFIR DUNIA

Kamis, Maret 15, 2012




"Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 spesies dari 850 spesies terumbu karang dunia.
Di laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan terutama penyelam, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang, sedangkan laut Merah hanya 300 spesies," 


Wilayah Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), segera ditetapkan jadi kawasan cagar biosfir dunia oleh badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Unesco.

"Badan PBB yang menaungi bidang pendidikan dan kebudayaan itu akan bersidang menetapkan Wakatobi sebagai kawasan cagar biosfir dunia di Paris pada April 2012," kata Bupati Wakatobi, Hugua melalui telepon dari Wangi-wangi, ibukota Wakatobi, Rabu.

Menurut Hugua, ada tiga kepentingan yang dilindungi Unesco dalam menetapkan Wakatobi sebagai pusat cagar biosfir dunia, yakni kearifan lokal masyarakat Wakatobi, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, kearifan lokal yang dilindungi di Wakatobi adalah menyangkut tradisi budaya masyarakat Wakatobi dalam memperlakukan alam dan mengambil sesuatu dari alam.

"Masyarakat Wakatobi sangat menghargai alam sekitar karena alam dengan segala kemurahannya menyediakan segala sumber kehidupan manusia cukup berkelimpahan," katanya.

Sedangkan kelestarian lingkungan perlu dilindungi karena kawasan perairan laut Wakatobi memiliki keragaman terumbu karang dan biota laut yang cukup tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain yang ada di dunia.

"Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 spesies dari 850 spesies terumbu karang dunia. Di laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan terutama penyelam, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang, sedangkan laut Merah hanya 300 spesies," katanya. 

Itu artinya ujar Hugua, kawasan perairan laut Wakatobi seluas kurang lebih 1,5 juta hektar, menyimpan potensi sumber daya alam perairan laut, sekitar 90 persen dari total potensi sumber daya kelautan yang ada di seluruh dunia.

Makanya, Unesco memandang kawasan Wakatobi sebagai kawasan yang harus dilindungi karena potensi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, bisa menghidupi jutaan bahkan miliaran penduduk.

Sedangkan kepentingan ekonomi yang perlu dilindungi menurut Hugua, bagaimana masyarakat di kawasan Wakatobi dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan.

"Tiga kepentingan itu yang mendorong pihak Unesco untuk menjadikan kawasan perairan laut Wakatobi sebagai pusat cagar biosfir dunia," katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Kehutanan, sejak tahun 1996, sudah menetapkan kawasan perairan laut Wakatobi seluas 1,3 juta hektar sebagai kawasan Taman Laut Nasional Wakatobi.

Namun dengan status Taman Laut Nasional, yang dilindungi hanya kelestarian alam alam bawah laut Wakatobi, sedangkan masyarakat dan kepentingan ekonomi berkelanjutan tidak mendapat perlindungan.

"Dengan status sebagai pusat cagar biosfir dunia, minimal melindungi tiga kepentingan itu tadi, kearifan lokal masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi berkelanjutan," kata Hugua.  
 


READ MORE - WAKATOBI SEGERA JADI CAGAR BIOSFIR DUNIA

SISTEM PEMETAAN SATELIT BARU BISA SELAMATKAN TERUMBU KARANG

Laporan kelompok organisasi lingkungan yang berjudul "Reefs at Risk Revisited" menyebutkan sistem pemetaan satelit yang baru bisa dimanfaatkan untuk mempelajari dunia terumbu karang.


Dunia terumbu karang makin terancam, sebagian besar disebabkan kegiatan manusia. Terancamnya terumbu karang ini dianggap sebagai akibat perubahan iklim yang mengancam organisme laut. Kelompok organisasi lingkungan menerbitkan sebuah laporan berjudul, "Reefs at Risk Revisited" mengenai hal itu. Laporan itu menyebutkan pemanfaatan sistem pemetaan satelit yang baru untuk mempelajari dunia terumbu karang.

Pimpinan  Lembaga Kelautan dan Atmosfir Amerika (National Oceanic and Atmospheric atau NOAA), Jane Lubchenco, mengatakan, “Dewasa ini,  sekitar 75 persen terumbu karang dunia terancam baik oleh kondisi-kondisi setempat maupun dunia”.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ancaman terumbu karang akan terus berlanjut, kecuali jika ada upaya dilakukan untuk menyelamatkannya.
"Jika gejala itu terus berlangsung,  proyeksi laporan ini mencatat bahwa pada 20 tahun dari sekarang, separuh dari terumbu karang dunia akan terkena panas dan menyebabkan pemutihan yang parah. Dalam waktu 50 tahun persentase itu akan naik menjadi lebih dari 95 persen,” paparnya.

Nancy Knowlton, yang bekerja di Lembaga Smithsonian, mengatakan bahwa terancamnya terumbu karang akan berakibat besar pada kehidupan di laut.
"Diperkirakan paling sedikit seperempat atau paling banyak sepertiga dari semua spesies yang hidup di laut terkait dengan terumbu karang. Hal itu membuat terumbu karang sebagai jenis hewan yang paling terancam punah di dunia, bahkan lebih terancam punah dibanding katak,” ujarnya.

Jutaan spesies laut tergantung pada terumbu karang. Terumbu karang sebagai sumber makanan yang sangat penting bagi jutaan orang di seluruh dunia. Terumbu karang juga melindungi tepi pantai dari badai dan banjir. Terumbu juga menjadi sumber pendapatan di banyak negara.

Lauretta Burke, yang bekerja di Institut Sumbar Daya Dunia, mengatakan, "Pariwisata merupakan penyumbang perekonomian penting di lebih dari 95 negara dan wilayah di seluruh dunia. Pariwisata menyumbang lebih dari 20 persen pendapatan domestik kotor di seluruh dunia”.

Ia adalah penulis utama laporan itu. Ia mengatakan bahwa lebih dari 275 juta orang punya ketergantungan pada terumbu karang, terutama yang tinggal di Asia Tenggara dan Samudra Hindia.

Laporan itu mencatat bahwa penangkapan ikan yang berlebihan dan perubahan iklim adalah dua ancaman paling serius terhadap laut di dunia. Dikatakan, kadar asam tinggi yang disebabkan oleh pembakaran karbondioksida juga merupakan masalah. Ancaman lain termasuk penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan, dan bahan beracun serta pencemaran lain.

Lebih lanjut Lauretta Burke mengatakan, "Penangkapan ikan yang berlebihan adalah ancaman yang paling meluas yang merusak 55 persen terumbu karang dunia. Ancaman itu khususnya terjadi di Asia Tenggara. Polusi dari tanggul air dan pembangunan di daerah pesisir berdampak pada seperempat terumbu karang dunia”.

Burke mengatakan bahwa kondisi terumbu karang di Australia adalah yang terbaik berkat usaha pelestarian, tetapi terumbu karang yang terdapat di Asia Tenggara sangat terancam. Sembilan puluh persen  terumbu karang itu dalam keadaan menyedihkan akibat penangkapan ikan yang berlebihan.

Laporan itu menyebutkan bahwa terumbu karang sangat penting. Disebutkan juga bahwa pengelolaan dan kebijakan yang lebih baik harus dilakukan untuk mengurangi ancaman ekosistem yang bernilai itu.

READ MORE - SISTEM PEMETAAN SATELIT BARU BISA SELAMATKAN TERUMBU KARANG

WASPADA !!! SEAFOOD ADA YANG MENGANDUNG ALGA BERACUN


Para peneliti kelautan dunia menemukan sekitar 300 jenis alga beracun di seluruh perairan dunia. Sekitar 35 jenis alga berbahaya tersebut hidup di perairan Indonesia. Alga yang termasuk ke dalam harmful algal blooms (HABs) ini dimakan oleh ikan dan hewan laut lainnya yang terkategori sebagai seafood (makanan laut).

"Padahal, seafood tersebut kebanyakan dikonsumsi oleh manusia,” ungkap Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2 Oseanografi LIPI), Zainal Arifin, pada acara Training dan Seminar Seafood Safety in Indonesia, Senin (20/2), di Jakarta.

Acara tersebut terselenggara atas kerja sama antara LIPI dengan United States Agency for International Development (USAID). Para peserta yang hadir berasal dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat, USAID, otoritas pembuat kebijakan dari sejumlah kementerian dan para peneliti LIPI.

Zaenal menjelaskan, ada beberapa perairan di Indonesia yang perlu diwaspadai karena potensial sebagai habitat alga beracun terutama di kawasan teluk. Perairan tersebut adalah  perairan Ambon, Lampung, Kaobe (Sulawesi), Kalimantan Timur, dan Jakarta.

"Namun, untuk perairan di Teluk Jakarta tidak perlu dikhawatirkan karena bukan konsentrasi habitat alga beracun," tandasnya. Pada umumnya, alga beracun akan berkembang pesat pada musim panas (dry season).

Vera Trainer, Koordinator Penelitian HABs dan Human Health dari NOAA menambahkan, perlu langkah strategis menetapkan program pemantauan perluasan organisme berbahaya tersebut. Di negara maju, pemantauan dilakukan dengan menggunakan satelit. Selain itu, diperlukan pula pertukaran informasi dengan negara-negara yang telah melakukan penelitian lebih detil tentang hal itu, seperti Amerika Serikat.

Menurutnya, perlu pemahaman komprehensif untuk mendeteksi alga beracun yang masuk ke dalam makanan laut. Misalnya saja, akibat limbah berbahaya yang dibuang ke laut dari beragam industri yang tidak memiliki pengolahan limbah termasuk limbah nutrient dari aquaculture.

Kandungan fosfat, nitrat dan silikat yang berbahaya dari limbah termakan oleh alga sehingga alga menjadi beracun. Kemudian, alga beracun akan dimakan oleh ikan dan hewan laut lainnya. Mengkonsumsi seafood tersebut tentu berbahaya bagi manusia, bahkan bisa berakibat kematian.

Dikatakannya, jenis alga yang memakan limbah beracun ini terbagi dua kategori, yaitu alga yang tidak beracun dan alga yang beracun. "Jenis alga yang beracun biasanya banyak ditemui di area coral reef (karang), tentu berbahaya pula untuk dikonsumsi," imbuh Vera.

Upaya agar aman dalam mengkonsumsi makanan laut adalah dengan memilih ikan atau makanan laut sejenisnya yang berumur muda. Sebab, kandungan racun tentu lebih sedikit ketimbang pada ikan yang berumur lebih tua di mana racun telah terakumulasi pada ikan tersebut.

Langkah pencegahan agar makanan laut tetap aman dikonsumsi adalah dengan menggunakan test kit (tes untuk mendeteksi racun di dalam alga) secara berkala. "Tes dianjurkan seminggu sekali," ujarnya. (Sumber: Humas LIPI)

READ MORE - WASPADA !!! SEAFOOD ADA YANG MENGANDUNG ALGA BERACUN

CRITC DAN DIVISI EDUKASI COREMAP FASE II BERAKHIR

Selasa, Desember 27, 2011


Suatu  pertemuan khusus telah diadakan di gedung LIPI pada tanggal 21 Desember 2011 yang menandai berakhirnya kegiatan CRITC (Coral Reef Information and Training Centre) dan Divisi Edukasi COREMAP II (Coral Reef Rehabilitation and Management Program, Phase II) setelah aktif bergiat dalam bidang rehabilitasi dan  pengelolaan terumbu karang di Indonesia selama 13 tahun terakhir. Pertemuan ini merupakan refleksi akan perjalanan  sejarah, capaian dan pembelajaran Program COREMAP selama ini, khususnya peran tanggung jawab yang diemban oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia).

COREMAP I (Tahap I) dilaksanakan pada tahun 1998 – 2004 di bawah kordinasi LIPI, sedangkan COREMAP II (Tahap II) di bawah kordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan.  Program COREMAP mendapat bantuan pendanaan dari GEF/World Bank, Asia Development Bank, dan selama Tahap I juga dari AusAID (Australia).

Mulai sejak awal persiapan sampai implementasi Program COREMAP, LIPI telah memainkan peran signifikan terutama dalam bidang riset dan informasi, edukasi, dan penyadaran masyarakat. Sejumlah besar informasi mengenai terumbu karang dan berbagai hal yang terkait dengannya telah dikumpulkan, dikaji dan diteliti untuk mendukung upaya pengelolaan terumbu karang.  Tak sedikit jumlah tenaga dari berbagai penjuru Indonesia  yang telah dididik dan diberi pelatihan untuk menunjang pengelolaan dan rehabilitasi terumbu karang. Kampanye penyadaran masyarakat tentang terumbu karang telah dilaksanakan dengan intensif yang berujung dengan diraihnya penghargaan internasional 
Gold Quill Award dari International Assocaition of Business Communicators (IABC). Di samping itu, Divisi Edukasi telah mengembangkan kerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Budaya untuk mengembangkan silabus, kurikulum, dan berbagai bahan ajar tentang laut yang telah digunakan secara luas di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar sampai tingkat sekolah menengah atas, di hampir seantero Indonesia.

Menurut Dr. Zainal Arifin, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI, capaian terpenting COREMAP bersifat intangible atau tak berwujud fisik seperti bangunan atau konstruksi yang kasat mata.  Capaian terbesarnya  adalah  berhasil mengubah pola pikir (mindset) masyarakat  luas dari yang semula tak tahu dan tak acuh tentang lingkungan laut menjadi masyarakat yang sadar, peduli dan bersedia ikut serta melindungi, mengkonservasi dan memanfaatkan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan. 

Dalam pertemuan itu, beberapa kegiatan pasca selesainya proyek diusulkan, antara lain  perlunya segera disusun buku yang memberikan gambaran tentang sejarah, capaian, dan pembelajaran dari perjalanan COREMAP selama ini, yang diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan untuk kegiatan-kegiatan dan kebijakan pengelolaan sumberdaya pesisir di kemudian hari. 

Ada pula disarankan untuk mengembangkan pusat latihan tentang pengelolaan pesisir yang berskala nasional ataupun regional dengan modal berbagai keahlian dan pengalaman yang telah diraih, dan berbagai fasilitas pendukung yang telah diperoleh dari Program COREMAP selama ini. 



READ MORE - CRITC DAN DIVISI EDUKASI COREMAP FASE II BERAKHIR

KARYA TERBAIK "LOMBA PENULISAN ARTIKEL" DALAM AJANG FORKOM MATABUKA 2011 AKAN DIJADIKAN SUMBER TULISAN DALAM BLOG

Senin, Desember 19, 2011


Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) - LIPI, melalui Bidang Pendidikan mengkampanyekan berbagai program ke masyarakat luas dalam membangun paradigma baru tentang upaya pelestarian terumbu karang. Salah satu upaya yang diselenggarakan adalah membangun jaringan komunikasi dalam bentuk Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka). Komunikasi para komunitas yang terdiri dari siapapun dan kalangan manapun yang memiliki visi yang sama yaitu sebagai pelestari terumbu karang telah memanfaatkan berbagai media sosial salahsatunya webblog.

Pada tahun 2011, bersamaan dengan rangkaian kegiatan Kontes Inovator Muda (KIM) ke-6 dilaksanakanlah kegiatan 'Forum Diskusi dan Lomba Penulisan Artikel' yang bertemakan "Bahana Pena Maya Blogger Muda Dalam Melestarikan Terumbu Karang". Kegiatan ini melibatkan sekitar 250 peserta dari siswa/i SMA - sederajat dan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi se-Jabodetabek.

Berkaitan dengan kegiatan Lomba Penulisan Artikel, didapatkan 3 Penulis Artikel Terbaik (hasil penilaian dewan juri) yang diumumkan pada acara puncak KIM 6, terdiri dari :
Juara 1 : atas nama Marcella perwakilan SMA K 7 Penabur, judul artikelnya "Tentang Dunia yang (Hampir) Hilang".
Juara 2 : atas nama Fifiani Lugito perwakilan SMA K Penabur Gading Serpong, dengan judul artikel "Melindungi yang Jauh Dimata, Dekat Dihati"
Juara 3 : atas nama Alivia Hadisisabella perwakilan SMK Negeri 8 Jakarta, judul artikel "Kawula Muda sebagai Ujung Tombak Pelestarian Terumbu Karang"

Setiap karya tulis pemenang dan beberapa karya yang dinilai baik oleh juri dan penyelenggara, akan ditayangkan secara bergilir pada webblog Forkom Matabuka (http://cintaterumbukarang.blogspot.com) dengan harapan melalui karya tulis para peserta ini dapat menyumbangkan ide dan pendapat kepada masyarakat Indonesia maupun Dunia untuk selalu peduli lingkungan khususnya lingkungan laut beserta biotanya, terutama terumbu karang. (SELAMATKAN TERUMBU KARANG, SEKARANG !! KALAU BUKAN SEKARANG, KAPAN LAGI !!, KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI !!)

Sumber : Tim Penyelenggara Kegiatan Forkom Matabuka 2011
READ MORE - KARYA TERBAIK "LOMBA PENULISAN ARTIKEL" DALAM AJANG FORKOM MATABUKA 2011 AKAN DIJADIKAN SUMBER TULISAN DALAM BLOG

SMAN 1 KENDARI JUARA KONTES INOVATOR MUDA KE - 6

Selasa, Desember 13, 2011

 Foto Bersama Finalis KIM 6 dengan Juri Panelis dan Panitia Penyelenggara

Tiga siswa SMA Negeri 1 Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara berhasil menjuarai Kontes Inovator Muda (KIM) ke-6 tahun 2011 dalam babak grandfinal yang berlangsung di Jakarta, akhir pekan lalu. Dalam ajang yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mereka menyisihkan dua finalis lainnya yaitu SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan SMA Negeri 1 Jakarta yang berturut-turut menjadi juara kedua dan juara ketiga.

Tiga siswa yang mewakili SMAN 1 Kendari itu adalah Athar Abdurrahman, Niartanty Nirmala Saleh, dan Tryana Putri Jumianti. Karya tulis mereka bertajuk “Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini di Pulau Bungkutoko Kota Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)”.

Peserta dari SMA Tarsisius terdiri dari Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari, dan Rosinta Handinata dengan karya tulis berjudul “Penyelamatan Terumbu Karang dengan Kartu Terumbu Karang”.

Sedangkan, peserta dari SMA Negeri 1 Jakarta terdiri dari Nabila Mudin Sutanto, Nael Huda Qonita, dan Ulfi Uswatin Fadhilah dengan karya tulis berjudul “Mengurangi Tekanan Terhadap Terumbu Karang di Kepulauan Seribu Melalui Program Kelompok Ilmiah Remaja (KIR SMA Negeri 1 Jakarta)”.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh “PRLM”, Senin (28/11), penyelenggaraan KIM ke-6 mengangkat topik seputar model pelestarian terumbu karang dari kaca mata generasi muda. Babak final berlangsung di Hall Pameran, Mal Tamini Square, Jakarta Timur, Sabtu (26/11).

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Zainal Arifin menuturkan, sebanyak 92 karya tulis dari seluruh Indonesia dilombakan dalam kontes ini. Menurut dia, jumlah karya tulis peserta pada KIM Ke-6 ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 115 karya tulis. Pada tahun ini penyelenggaraan berlangsung secara terpusat dan tidak ada penyelenggaraan awal di daerah.
 
READ MORE - SMAN 1 KENDARI JUARA KONTES INOVATOR MUDA KE - 6

PAPARKAN PERMAINAN INTERAKTIF, SMA NEGERI 1 KENDARI : RAIH JUARA KIM LIPI

Jumat, Desember 09, 2011

Pemenang KIM 6 : SMAN 1 Kendari, SMA Tarsisius 1 Jakarta dan SMAN 1 jakarta bersama dengan Juri Panelis : Prof. Jamaluddin Jompa, Nurul Dhewani, M. Si dan Artika Dari Devi

 Makalah berjudul “Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini di Pulau Bungkutoko Kota Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)” karya tiga siswa SMA Negeri 1 Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara  berhasil menjuarai Kontes Inovator Muda (KIM) ke-6 tahun 2011.
KIM ke-6 yang mengangkat topik seputar model pelestarian terumbu karang dari kaca mata generasi muda ini, sebelumnya diikuti 92 kelompok pemakalah remaja dari seluruh Indonesia seperti Aceh, Pangkal Pinang, Maumere, Sulawesi, Jakarta serta Biak. Setelah diseleksi terdapat 3 kelompok yakni SMAN 1 Kendari, SMAN 1 Jakarta serta SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan masuk tahap grand final. Babak final berlangsung di Hall Pameran, Mal Tamini Square, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
Dalam ajang yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, SMAN 1 Kendari berhasil menyisihkan dua finalis lainnya yaitu SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan SMA Negeri 1 Jakarta yang berturut-turut menjadi juara kedua dan juara ketiga.

Tiga siswa yang mewakili SMAN 1 Kendari itu adalah Athar Abdurrahman, Niartanty Nirmala Saleh dan Tryana Putri Jumianti. Karya tulis mereka bertajuk "Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini, di Pulau Bungkutoko KOta Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)". Peserta dari SMA Tarsisius 1 Jakarta, teridiri dari Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari dan Rosinta handinata dengan karya tulis berjudul "Penyelamatan Terumbu Karang dengan Kartu Terumbu Karang (metode permainan kartu uno)". Sedangkan peserta dari SMAN 1 Jakarta terdiri dari Nabila Mudin Sutanto, Nael huda Qonita dan UlfiUswatin Fadhillah dengan karya tulis berjudul "Mengurangi Tekanan Terhadap Terumbu Karang di Kepulauan Seribu Melalui Program Kelompok Ilmiah Remaja (KIR SMA Negeri 1 Jakarta)". 
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Zainal Arifin menuturkan, sebanyak 92 karya tulis dari seluruh Indonesia dilombakan dalam kontes ini. Menurut dia, jumlah karya tulis peserta pada KIM Ke-6 ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 115 karya tulis.
READ MORE - PAPARKAN PERMAINAN INTERAKTIF, SMA NEGERI 1 KENDARI : RAIH JUARA KIM LIPI

SISWA SMA ADU IDE SELAMATKAN TERUMBU KARANG

Selasa, November 29, 2011

Gambar : Okezone.com

Kepedulian generasi muda terhadap kelestarian alam, khususnya biota laut semakin meningkat. Berbagai aksi nyata mereka tuangkan dengan menghasilkan ide kreatif untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati di Nusantara, khususnya.

Sebagai wahana bagi ide kreatif kawula muda, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menghelat Kompetisi Inovator Muda (KIM). Ajang yang diperuntukan bagi pelajar SMA  ini diikuti oleh 92 sekolah di seluruh Indonesia.

Kompetisi besutan Bidang Edukasi Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) LIPI ini mencoba melihat inovasi kawula muda dalam memberikan solusi penyelamatan eksositem terumbu karang di Indonesia. KIM kali keenam ini mengusung tema Model Pelestarian Terumbu Karang dari Kacamata Generasi Muda.

Kepala LIPI Lukman Hakim mengungkapkan, Indonesia merupakan negara kepulauan, dengan sekira 17 ribu pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke. Maka, kekayaan bahari Indonesia, terutama terumbu karang, tentu sangat melimpah.

"Indonesia merupakan segitiga terumbu karang dunia. Namun, pemberdayaan terhadap sumber daya tersebut masih sangat memprihatinkan," kata Lukman di Tamini Square, Jakarta Timur, akhir pekan lalu.

Lukman mengatakan, melalui penelitian yang dilakukan oleh LIPI, kekayaan terumbu karang Indonesia dalam keadaan memprihatikan. Hanya 26 persen ekosistem terumbu karang dalam keadaan baik dan 36 persen dalam keadaan cukup. Namun, 32 persen ekosistem terumbu karang Indonesia dalam kondisi rusak.

"Manusia memiliki andil dalam kerusakan ekosistem terumbu karang tersebut. Faktor utama yang mendasari hal ini adalah minimnya tingkat pengetahuan untuk melestarikan terumbu karang," ujarnya.

Terakhir, Lukman berpesan agar para generasi muda kembali meningkatkan kepedulian untuk menjaga kelestarian terumbu karang sebagai kekayaan laut Indonesia. "Menjadi tanggung jawab generasi muda untuk memelihara dan menjaga terumbu karang untuk keberlanjutan bagi generasi selanjutnya," tuturnya.

Setelah melalui berbagai seleksi, tersisa tiga tim untuk berlaga di grand final. Mereka adalah SMAN 1 Kendari, SMAN 1 Jakarta, dan SMAK Tarsisius 1 Jakarta. Bertempat di Tamini Square, Jakarta Timur, ketiga tim menyampaikan hasil karya mereka di hadapan para pengunjung.

READ MORE - SISWA SMA ADU IDE SELAMATKAN TERUMBU KARANG

LEWAT BLOG MELESTARIKAN TERUMBU KARANG

Jumat, November 25, 2011

Kompas/Lasti Kurnia - Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten. Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP) telah dilakukan Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 1998. Setelah selama 13 tahun, COREMAP kini telah memasuki masa akhir tahap penyadaran masyarakat. 

Salah satu pencapaian program COREMAP adalah kegiatan Forum Komunikasi Pecinta Terumbu Karang (Forum Matabuka) Indonesia pada Kamis (24/11/2011) di Jakarta. Di forum ini, remaja tingkat SMA berkumpul untuk menyalurkan ide, aspirasi, dan inovasi untuk penyelamatan terumbu karang. 

"Forum Matabuka dilakukan reguler sejak tiga tahun lalu dan saat ini yang dilakukan adalah pembuatan dan pengisian blog," kata Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI. Tiap tahun, Forkom Matabuka punya fokus kegiatan berbeda. 

Pada tahun pertama, kegiatan Forum Matabuka fokus pada pemberian pengetahuan tentang cara pembuatan dan pengemasan blog. Sementara tahun kedua diadakan lomba pembuatan blog. Tahun ketiga ini difokuskan pada cara pengisian informasi singkat dan menarik. 

Kelapa Puslit Oseanografi LIPI, Zainal Arifin mengatakan bahwa blog dipilih karena memiliki kedekatan dengan remaja. "Karena pelajar itu dunianya blog, Facebook. Blog akan berefek spiral, impact-nya lebih besar." 

Selain blog, kata Zainal, dalam rangka program COREMAP, LIPI juga telah menyusun buku ajar bagi remaja khusus tentang terumbu karang. Buku ajar tersebut bisa diunduh gratis dan tersedia bagi pelajar SD, SMP, dan SMA.

READ MORE - LEWAT BLOG MELESTARIKAN TERUMBU KARANG

KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA CAPAI 31,5 %

Kamis, November 24, 2011


Jurnas.com | KONDISI kerusakan terumbu karang yaang berada di wilayah perairan Indonesia kian tinggi. Tercatat kerusakan terumbu karang di perairan Indonesia saat ini telah mencapai angka 31,5 persen. ”Dari penelitian akhir tahun 2008,ada sekitar 31,5 persen terumbu karang di seluruh Indonesia berada dalam kategori rusak. 

Sebagian besar kerusakan ditemukan di perairan yang berdekatan dengan kota besar seperti Teluk Jakarta,” ujar Kepala Pusat Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Zainal Arifin di sela kegiatan Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka) di Jakarta,Kamis (24/11).

Zainal menjelaskan, kerusakan diantaranya terjadi akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Utamanya menyangkut dampak perubahan iklim yaitu terjadinya keasamaan karena PH atau kandungan padat dalam air laut menurun. ”Hal ini buruk karena mengurangi kemampuan terumbu karang untuk membentuk rumah atau kalsium kapur karena terumbu karang terdiri dari bagian itu,” katanya. 

Meski begitu tambah Zaenal, disisi lain, kondisi terumbu karang perairan Indonesia juga cenderung membaik. Pasalnya dalam penelitian juga terungkap sebanyak 30 persen terumbu karang berada dalam kondisi baik. ” Bahkan sebanyak lima persen terpantau sangat baik kondisinya. Untuk itu sampai saat ini terus diterapkan strategi pencegahan dan adapatasi mencegah kerusakan terumbu karang,” katanya. 

Penulis: Aria Triyudha

READ MORE - KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA CAPAI 31,5 %

NELAYAN LANGKAT INGIN KEMBALIKAN HUTAN MANGROVE

Selasa, November 08, 2011


Keberadaan Perkebunan kelapa sawit yang menggunakan lahan pada ekosistem mangrove di Kabupaten Langkat Sumatera Utara, menyebabkan kesejahteraan Nelayan terganggu. Konversi hutan mangrove membuat hasil tangkapan berkurang dan menimbulkan intrusi laut ke rumah-rumah warga.

Presidium Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Region Sumatera, Tajruddin Hasibuan, Selasa (8/11/2011) dihubungi dari Jakarta, mengatakan ekosistem mangrove merupakan tempat bertelur dan membesarkan biota-biota Laut komersial seperti kepiting, udang, dan ikan. Namun ironisnya, ekosistem ini banyak dikonversi menjadi areal Kebun kelapa sawit.

"Nelayan yang menggantungkan Hidup pada hasil laut, sangat terganggu penghidupannya," ucap Tajruddin. Di Sumatera, konversi mangrove menjadi sawit banyak terjadi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Di Langkat, ujarnya, sedikitnya 20.000 hektar Hutan mangrove sudah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Meski sejak tahun 2000 telah diprotes warga, Perkebunan itu terus berlangsung. Namun, kesabaran warga telah habis.

"Besok, hari Rabu ini, ribuan warga di Lubuk Kertang Kecamatan Berandan Barat Langkat, akan mengadakan aksi untuk mengembalikan fungsi lahan sawit yang seharusnya adalah ekosistem mangrove," ucapnya.

Dari sisi yuridis, ucapnya, warga merasa yakin karena lahan ekosistem itu dilindungi secara hukum, tetapi dikonversi menjadi Kebun sawit.

"Kawasan itu sudah jelas teregister dan tercatat di Kementerian Kehutanan sebagai daerah yang tidak boleh dikonversi atau diubah menjadi bentuk apa pun," ucap Tajruddin.


READ MORE - NELAYAN LANGKAT INGIN KEMBALIKAN HUTAN MANGROVE

PRODUK HASIL RISET


Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim menegaskan bahwa produk hasil riset para ilmuwan harus bisa diserap oleh industri dan mendominasi pasar lokal.

"Selama ini produk masih dikuasai luar. Contohnya obat, banyak sekali obat potensial. Tetapi bagaimana memecah pasar lokal yang sudah dikuasai importir. Selama puluhan tahun, 90 persen pasar obat dikuasai oleh importir," kata Lukman dalam acara LIPI Expo di Hotel Bidakara, Senin (7/11/2011).

Dominasi produk luar negeri membuat Indonesia hanya menjadi penonton dan tidak mendapatkan nilai tambah. Lukman mencontohkan pada produk ponsel, Indonesia hanya bisa menjadi konsumen, mengeluarkan pulsa terus-menerus tanpa punya keuntungan tambahan selain pemakaian.
Lukman mengungkapkan, "Ini bukan kita tidak mampu, tetapi karena persaingan. Makanya, bagaimana caranya kita bisa mendominasi dan tidak hanya jadi konsumen. Pasar bisa dikuasai produk yang hasil pengembangan para ilmuwan."

Menurut Lukman, LIPI telah menghasilkan beberapa produk yang sebenarnya bisa diaplikasikan. Contohnya antara lain senyawa berkhasiat obat dan alat penjernih air. Namun, LIPI perlu rekan untuk bekerja sama sehingga hasil penelitian bisa menjadi poduk jadi. Kalangan yang diharapkan bisa diajak kerja sama adalah industri. Selama ini, hasil penelitian banyak, tetapi masih minim industri yang berminat.

"Itu sebabnya dari pemerintah kami dorong insentif sehingga gap yang besar antara supply dandemand ini didekatkan," jelas Lukman.

Dalam LIPI Expo kali ini dipamerkan beberapa produk, di antaranya es krim tempe, reaktor ozon pengolah limbah cair, instalasi pengolah air gambut, dan biotrik (biogas listrik). Lukman berharap ajang LIPI Expo bisa menjadi tempat pihak-pihak yang berkepentingan dengan hasil penelitian untuk bertemu dan menindaklanjuti hasil riset.


READ MORE - PRODUK HASIL RISET

PRAKARSA TERUMBU KARANG, LIBATKAN TIGA MENTERI


Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif C Sutardjo serta Menteri Riset dan Teknologi Gusti M Hatta mengadakan temu koordinasi yang dikoordinasi langsung oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono terkait Prakarsa Terumbu Karang  (CTI). 

Temu koordinasi para ketiga menteri tersebut yang juga dihadiri Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim Rachmat Witoelar, serta wakil-wakil dari Kementerian Kehutanan, Bappenas, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta dari Gubernur Sulawesi Utara berlangsung di Jakarta, Rabu (2/11). 

Pertemuan tersebut berlangsung dengan efektif dan mencatat hasil-hasil temu yang konkrit ke depan dalam rangka mendukung Prakarsa Terumbu Karang atau Coral Triangle Initiative (CTI) dalam waktu dekat. 

Sebelumnya, juga telah diadakan pertemuan  tingkat pejabat tinggi Senior Official Meeting (SOM) sebanyak tujuh kali membahas tentang CTI. 

Dilanjutkan dengan tiga kali pertemuan tingkat menteri atau Ministerial Meeting (MM) dan satu kali tingkat kepala negara atau CTI Summit oleh ke-enam negara-negara anggota CTI dan para mitra CTI sejak pertama digagas lima tahun lalu. 

Negara-negara anggota CTI yakni Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. 



READ MORE - PRAKARSA TERUMBU KARANG, LIBATKAN TIGA MENTERI

INDONESIA TUAN RUMAH FESTIVAL LAUT INTERNATIONAL

Jumat, September 30, 2011


INDONESIA yang merupakan negara kepulauan terbesar nomor dua di dunia dipercaya menjadi tuan rumah Perayaan Festival Laut 2011 atau dikenal dengan Celebrate the Sea (CTS) Festival 2011. Menurut Direktur Jenderal Pemasaran Pariwisata Kementerian Budaya dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, CTS Festival merupakan event kompetisi pencitraan bawah laut terbesar di kawasan Asia Pasifik setelah Mondial de I'image Sous Marine (festival foto bawah air dunia) yang diselenggarakan setiap tahun di Marselle Perancis.

"Melalui penyelenggaraan Celebrate the Sea Festival 2011 kami ingin mempromosikan keindahan dan kekayaan laut Indonesia ke seluruh dunia," kata Sapta, Sabtu (24/9), di Manado, Sulawesi Utara.

Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi pilihan penyelenggaraan event tahunan berskala internasional ini. Acara dimulai selama tiga hari di Sintesa Peninsula Hotel pada 23 September dan berakhir besok malam, 25 September 2011. Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Sarundajang, dijadwalkan akan membuka CTS Festival 2011 nanti malam.

Penyelenggaraan CTS Festival 2011 sendiri diharapkan menjadi ajang utama bagi Indonesia mempromosikan konservasi, wisata bahari, serta memberikan pendidikan dan hiburan. Ajang ini ditujukan untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar terhadap lingkungan laut Indonesia. Acara yang dimotori Kementerian Budaya dan Pariwisata bekerjasama dengan Ocean Environment Australia ini diikuti lebih dari 25 negara di seluruh belahan dunia.

Pada penyelenggaraan CTS Festival 2011 digelar serangkaian acara, antara lain, forum konservasi laut, festival film bawah air, lomba foto bawah air internasional, lomba seni, forum serta seminar samudera dengan mengundang para tokoh kelautan dunia, hingga Gala Award Ceremony.

Para pembicara tokoh kelautan dunia yang hadir di antaranya National Geographic Explorer yang juga penemu bangkai Kapal Titanic, Emory Kristof; sineas Deep Sea and Coral Reef Eden IMAX 3D, Howard dan Michele Hall; Pengajar National University of Singapore, Chou Loke Ming; Penasehat Senior, Indonesia Marine Program, Mark Erdmann; penulis Richest Reefs Indonesia, Beneath Bunaken, Ocean Geographic, Michael AW; penulis Essential Digital Underwater Photography, Mathieu Meur; penjelajah dan wartawan foto bawah air, Steve Jones; Pemimpin Redaksi Ocean Geographic, Joe Moreira; fotografer bawah air Indonesia, Ronny Rengkung; dan ahli dan pelestari hiu dari Australia, Valerie Taylor.


READ MORE - INDONESIA TUAN RUMAH FESTIVAL LAUT INTERNATIONAL

FOTOGRAFI BAWAH LAUT HARUS MAMPU MEMOTRET MASALAH KONSERVASI

Rabu, September 28, 2011


Banyak fotografer dunia yang menekuni fotografi bawah laut belakangan ini. Memang tak mengherankan sebab pesona bawah laut menjanjikan banyak objek menarik bagi para fotografer. Namun, dengan adanya beragam masalah kelautan, fotografer dituntut untuk tidak hanya mampu memotret keindahan tetapi juga memotret permasalahan yang terjadi.

Michael AW, fotografer bawah laut kawakan yang juga founder festival Celebrate The Sea (CTS) mengatakan, "Banyak fotografer yang memotret bawah laut sekarang. Orang biasa pun ada walau pada tempat yang tidak terlalu dalam. Hasilnya bagus, tapi banyak yang tidak menyajikan masalah," katanya ketika ditemui di CTS, Sabtu (24/9/2011) lalu.

Fotografer bawah laut harus mengerti masalah konservasi, demikian dikatakan Michael. Menurutnya, fotografi bawah laut tidak bisa hanya menyajikan keindahan makhluk bawah laut semata, tetapi juga menampilkan sisi buram kehidupan laut akibat tekanan manusia yang mungkin tak banyak disadari.
 
Untuk bisa melakukannya, Michael yang juga direktur funding OceaNEnvironment mengatakan, "Fotografer harus punya passion pada skill-nya. Lewat foto, mereka harus mengkomunikasikan kebenaran. Jika buruk, maka katakanlah buruk. Dan jika baik, katakanlah baik dan tak perlu membuatnya kelihatan lebih baik.

Michael melanjutkan, CTS adalah ajang untuk memberi penghargaan bagi fotografer bawah laut. Lewat CTS, diharapkan makin banyak fotografer yang mampu menghasilkan foto berkualitas dari segi pesan sehingga foto pun bisa memberi pengaruh bagi masyarakat luas. Ia juga mengharapkan harus ada semakin banyak pula fotografer Indonesia yang mampu melakukannya, sebab baik pesona maupun permasalahan kelautan banyak terjadi di negara ini.


READ MORE - FOTOGRAFI BAWAH LAUT HARUS MAMPU MEMOTRET MASALAH KONSERVASI

INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

Rabu, September 21, 2011


Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten, Sabtu (10/4). Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.

Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.

Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.

"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.

Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.

"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.
Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.

Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collectionkelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.

"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.

Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.


READ MORE - INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA

Selasa, September 20, 2011


The Climate Reality Project yang didirikan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, menyelenggarakan kampanye tentang realitas krisis iklim secara global dalam 24 jam.
Setiap satu jam akan dilakukan presentasi. Secara total, presentasi ini dilakukan oleh 24 presenter, di 24 zona waktu, dalam 13 bahasa, dengan 1 pesan utama.

Para penyaji akan melakukan presentasi dengan wahana multimedia yang dibuat oleh Al Gore. Mereka akan mengungkap realitas krisis iklim ekstrim yang mereka alami, berupa bencana-bencana seperti banjir, kekeringan, dan badai.

Juga akan diungkapkan apa kaitan antara bencana tersebut dengan polusi akibat aktivitas manusia yang telah mengakibatkan perubahan iklim. Semua presentasi akan dilakukan tepat pukul 19.00 waktu setempat.

Rantai presentasi tersebut dimulai dari Mexico City, Meksiko, Boulder di Colorado, AS, Victoria (Australia), Kotzebue (Alaska), Polinesia (di bawah Perancis), Hawai (AS), Tonga di Laut Pasifik Selatan, Auckland (Selandia Baru), Pulau Solomon, Canberra (Australia), Seoul (Korea Selatan), Beijing (China), dan di urutan ke-13 adalah Jakarta.

Di Jakarta, presentasi dilakukan oleh Charles Wirawan yang telah bergabung dengan The Climate Reality Project Indonesia sejak tahun 2009, dulu namanya adalah The Climate Project.
Sejak Al Gore menyajikan film The Inconvenient Truth tahun 2006, sejak itu pula muncul kontroversi apakah perubahan iklim benar terjadi. Untuk itu, The Climate Reality Project menjawabnya dengan presentasi tersebut. Di lokasi -lokasi tempat presentasi dilangsungkan, memang sungguh terjadi dampak dari krisis iklim.

Jakarta misalnya, merupakan lokasi yang sering dilanda banjir yang semakin lama semakin parah, sementara Beijing kini semakin terancam oleh krisis air. Sementara sekitar 30 juta penduduk China diperkirakan pada tahun 2020 harus menjadi pengungsi akibat krisis air.
Presentasi 24 jam global ini, akan membuka mata warga dunia tentang realitas terjadinya krisis iklim. "Pihak-pihak yang menyangkal terjadinya krisis iklim memang memiliki uang, namun kami memiliki realitas," ungkap Presiden dan Direktur Eksekutif The Climate Reality Project Maggie L Fox.

Sementara Al Gore menegaskan, dalam krisis iklim tidak ada batas politik. Badai yang mengerikan dan panas yang mematikan terjadi dengan frekuensi tinggi di seluruh dunia. Pertanyaan satu-satunya adalah seberapa cepat kita bisa beraksi? (The Climate Reality Project/Brigitta Isworo Laksmi)


READ MORE - REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA

TERUMBU KARANG DIPERKIRAKAN MUSNAH 30 TAHUN KE DEPAN

Rabu, September 14, 2011


Perubahan iklim, penyebaran zat kimia berbahaya di laut yang disertai oleh penangkapan ikan berlebih, pembangunan di kawasan pesisir pantai, dan juga polusi, akan menghancurkan terumbu karang setidaknya dalam waktu 30 tahun ke depan.

Sebagai gambaran, bleaching, atau kasus memutihnya terumbu karang dari aslinya yang berwarna warni cerah akibat perubahan iklim yang terjadi di Samudera India pada tahun 1998 lalu telah menghancurkan 16 persen terumbu karang dunia dalam waktu beberapa pekan saja.

“Kita telah menghapus banyak spesies dalam beberapa tahun belakangan. Namun kali ini, untuk pertama kalinya kita akan benar-benar mengeliminasi seluruh ekosistem,” sebut Peter Sale, ekolog kelautan dari United Nations University dalam bukunya Our Dying Planet: An Ecologist’s View of the Crisis We Face yang baru dipublikasikan.

Meski hanya menguasai luas sebesar 0,1 persen dari seluruh kawasan samudera, namun terumbu karang merupakan bagian yang sangat penting karena keanekaragaman mereka yang sangat luar biasa, jauh lebih kaya dibandingkan dengan keanekaragaman makhluk hidup di hutan hujan.

Sayangnya, terumbu karang juga sangat ringkih, dan sedikit pun perubahan yang terjadi di samudera akan menyebabkan ganggang yang merupakan makanan karang tersebut menjadi musnah. Dan meski ada mikroorganisme karang kecil yang mampu bertahan akibat kehancuran total terumbu karang, hilangnya terumbu karang seringkali menjadi sinyal akan timbulnya kejadian pemusnahan massal. “Hilangnya spesies yang saat ini terjadi dalam berbagai sisi sama dengan kejadian pemusnahan massal yang terjadi di masa lalu,” ucap Sale.  

READ MORE - TERUMBU KARANG DIPERKIRAKAN MUSNAH 30 TAHUN KE DEPAN

PENYAKIT MANUSIA MULAI MENULARI TERUMBU KARANG

Kamis, Agustus 25, 2011

White Pox Desease - Pada Terumbu Karang

Berbagai penyakit seperti HIV/AIDS dan flu burung awalnya berasal dari kehidupan liar kemudian menular ke manusia. Namun dalam kasus terbaru, penyakit manusia justru menulari kehidupan liar dan membunuh salah satu spesies terumbu karang.

Baru-baru ini, para ilmuwan dari University of Georgia mengungkap penyebab kematian spesies terumbu karang Tanduk Rusa (Elkhorn) di perairan Karibia. Penyebabnya adalah bakteri Serratia marcescens yang lebih sering ditemukan di tubuh manusia.

Pada manusia, bakteri ini merupakan pemicu berbagai masalah infeksi seperti di salurahn napas, luka terbuka dan saluran kemih. Bakteri ini menyebar dan menulari manusia lain melalui kotoran dan air kencing dari orang-orang yang sudah terinfeksi.

Salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam penelitian itu, James Porter mengatakan bahwa selama ini infeksi bakteri Serratia marcescens hanya terjadi pada manusia. Karena itu sangat mengejutkan jika ternyata bakteri ini juga menjangkiti terumbu karang Tanduk Rusa.

Porter mengatakan, bakteri Serratia marcescens menyebabkan penyakit White Pox pada terumbu karang Tanduk Rusa dan menyebabkan kematian. Infeksi bakteri ini ditandai dengan munculnya bercak keputihan, yang lama-kelamaan membuat jaringan terumbu karang berlubang dan kelihtan rangkanya.

Penyebab infeksi White Pox pada terumbu karang dipastikan berasal dari manusia, karena bakteri Serratia marcescens tidak ditemukan pada spesies makhluk hidup yang lain. Bahkan menurut Porter, siput-siput perusak terumbu karang tidak memiliki bakteri ini.

Diyakini, bakteri ini ditularkan oleh manusia ke terumbu karang melalui kotoran dan air kencing. Di kepulauan sekitarnya, sanitasi dan saluran pembuangan kotoran tidak terkelola dengan baik sehingga mencemari perairan dan akhirnya menulari terumbu karang.

Berdasarkan pemuan itu, Porter menyimpulkan bahwa penyakit pada manusia turut memicu kerusakan terumbu karang yang mencapai 50 persen dalam 15 tahun terakhir. Dikutip dari LiveScience, Senin (22/8/2011), laju kerusakan paling tinggi dialami terumbu karang Tanduk Rusa yakni 90 persen.

Terumbu karang Tanduk Rusa atau Elkhorn merupakan spesies terumbu karang yang ukurannya sangat besar dan bisa tumbuh hingga mencapai 2 meter. Sesuai namanya, bentuknya sangat mudah dikenali karena memiliki banyak cabang dan melebar seperti tanduk rusa.

READ MORE - PENYAKIT MANUSIA MULAI MENULARI TERUMBU KARANG

PEMANASAN GLOBAL, SEBABKAN POLUTAN BERBAHAYA MUNCUL KEMBALI

Senin, Juli 25, 2011

Pemanasan global menyebabkan bahan kimia berbahaya, yang disebut “Dirty Dozen” termasuk DDT, yang sangat beracun kembali terbebas ke udara dari bongkahan es di lautan Kutub Utara. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change.

Dirty Dozen merupakan istilah untuk polutan organik yang gigih (persistent organic pollutants, disingkat POP), bahan kimia berbahaya yang umum digunakan di insektisida dan pestisida, yang sejak tahun 2001 dilarang untuk dipakai.
Bahan-bahan kimia ini terdiri dari molekul yang sangat kuat sehingga alam membutuhkan waktu beberapa dekade untuk menguraikannya. Mereka juga bisa terus berada di rantai makanan, menghadirkan ancaman kesuburan bagi spesies yang berada di puncak rantai makanan. Parahnya, POPs juga tidak larut di air dan lekas menguap sehingga mereka bisa dengan mudah berpindah dari tanah dan air ke atmosfer jika terkena suhu tinggi.

Peneliti mendapati adanya penurunan konsentrasi tiga bahan kimia berbahaya, seperti DDT, HCH, dan cischlordane, di atmosfer sepanjang 1993 sampai 2009. Namun dari data yang sama, peneliti mendapati bahwa adanya peningkatan emisi POP yang sebelumnya sudah terkunci di dalam es di kutub utara. Artinya, secara bertahap dilepaskan kembali ke atmosfer akibat adanya pemanasan suhu di kawasan tersebut.

“Sejumlah POP telah kembali ke atmosfer di atas Kutub Utara akibat perubahan iklim dan kejadian ini dapat menghambat upaya untuk mengurangi terkenanya bahan kimia beracun pada manusia,” kata Jianmin Ma, ketua tim peneliti dari Environment Canada.

Jordi Dachs, peneliti dari Institute of Environmental Assessment and Water Research, menyebutkan bahwa temuan itu merupakan kabar buruk. Akibat pemanasan global, Kutub Utara telah mengalami kerusakan dua sampai tiga kali lebih parah dibandingkan dengan bagian lain di planet ini. "Kutub Utara bisa menjadi pelopor dalam pelepasan POP. Mungkin akan terjadi juga dari tempat penyimpanan lain, termasuk tanah dan laut dalam," kata Dachs.

“Tampaknya, polutan ini akan memengaruhi lingkungan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding perkiraan sebelumnya,” kata Dachs. “Polutan yang dihasilkan oleh kakek dan nenek kita, yang jadi bukti perusakan lingkungan di masa lalu, kini muncul kembali,” ucapnya.

READ MORE - PEMANASAN GLOBAL, SEBABKAN POLUTAN BERBAHAYA MUNCUL KEMBALI

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas