Tampilkan postingan dengan label INFO KOMUNITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INFO KOMUNITAS. Tampilkan semua postingan

WAKATOBI SEGERA JADI CAGAR BIOSFIR DUNIA

Kamis, Maret 15, 2012




"Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 spesies dari 850 spesies terumbu karang dunia.
Di laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan terutama penyelam, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang, sedangkan laut Merah hanya 300 spesies," 


Wilayah Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), segera ditetapkan jadi kawasan cagar biosfir dunia oleh badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Unesco.

"Badan PBB yang menaungi bidang pendidikan dan kebudayaan itu akan bersidang menetapkan Wakatobi sebagai kawasan cagar biosfir dunia di Paris pada April 2012," kata Bupati Wakatobi, Hugua melalui telepon dari Wangi-wangi, ibukota Wakatobi, Rabu.

Menurut Hugua, ada tiga kepentingan yang dilindungi Unesco dalam menetapkan Wakatobi sebagai pusat cagar biosfir dunia, yakni kearifan lokal masyarakat Wakatobi, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, kearifan lokal yang dilindungi di Wakatobi adalah menyangkut tradisi budaya masyarakat Wakatobi dalam memperlakukan alam dan mengambil sesuatu dari alam.

"Masyarakat Wakatobi sangat menghargai alam sekitar karena alam dengan segala kemurahannya menyediakan segala sumber kehidupan manusia cukup berkelimpahan," katanya.

Sedangkan kelestarian lingkungan perlu dilindungi karena kawasan perairan laut Wakatobi memiliki keragaman terumbu karang dan biota laut yang cukup tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain yang ada di dunia.

"Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 spesies dari 850 spesies terumbu karang dunia. Di laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan terutama penyelam, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang, sedangkan laut Merah hanya 300 spesies," katanya. 

Itu artinya ujar Hugua, kawasan perairan laut Wakatobi seluas kurang lebih 1,5 juta hektar, menyimpan potensi sumber daya alam perairan laut, sekitar 90 persen dari total potensi sumber daya kelautan yang ada di seluruh dunia.

Makanya, Unesco memandang kawasan Wakatobi sebagai kawasan yang harus dilindungi karena potensi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, bisa menghidupi jutaan bahkan miliaran penduduk.

Sedangkan kepentingan ekonomi yang perlu dilindungi menurut Hugua, bagaimana masyarakat di kawasan Wakatobi dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan.

"Tiga kepentingan itu yang mendorong pihak Unesco untuk menjadikan kawasan perairan laut Wakatobi sebagai pusat cagar biosfir dunia," katanya.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Kehutanan, sejak tahun 1996, sudah menetapkan kawasan perairan laut Wakatobi seluas 1,3 juta hektar sebagai kawasan Taman Laut Nasional Wakatobi.

Namun dengan status Taman Laut Nasional, yang dilindungi hanya kelestarian alam alam bawah laut Wakatobi, sedangkan masyarakat dan kepentingan ekonomi berkelanjutan tidak mendapat perlindungan.

"Dengan status sebagai pusat cagar biosfir dunia, minimal melindungi tiga kepentingan itu tadi, kearifan lokal masyarakat, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi berkelanjutan," kata Hugua.  
 


READ MORE - WAKATOBI SEGERA JADI CAGAR BIOSFIR DUNIA

SMAN 1 KENDARI JUARA KONTES INOVATOR MUDA KE - 6

Selasa, Desember 13, 2011

 Foto Bersama Finalis KIM 6 dengan Juri Panelis dan Panitia Penyelenggara

Tiga siswa SMA Negeri 1 Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara berhasil menjuarai Kontes Inovator Muda (KIM) ke-6 tahun 2011 dalam babak grandfinal yang berlangsung di Jakarta, akhir pekan lalu. Dalam ajang yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu mereka menyisihkan dua finalis lainnya yaitu SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan SMA Negeri 1 Jakarta yang berturut-turut menjadi juara kedua dan juara ketiga.

Tiga siswa yang mewakili SMAN 1 Kendari itu adalah Athar Abdurrahman, Niartanty Nirmala Saleh, dan Tryana Putri Jumianti. Karya tulis mereka bertajuk “Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini di Pulau Bungkutoko Kota Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)”.

Peserta dari SMA Tarsisius terdiri dari Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari, dan Rosinta Handinata dengan karya tulis berjudul “Penyelamatan Terumbu Karang dengan Kartu Terumbu Karang”.

Sedangkan, peserta dari SMA Negeri 1 Jakarta terdiri dari Nabila Mudin Sutanto, Nael Huda Qonita, dan Ulfi Uswatin Fadhilah dengan karya tulis berjudul “Mengurangi Tekanan Terhadap Terumbu Karang di Kepulauan Seribu Melalui Program Kelompok Ilmiah Remaja (KIR SMA Negeri 1 Jakarta)”.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh “PRLM”, Senin (28/11), penyelenggaraan KIM ke-6 mengangkat topik seputar model pelestarian terumbu karang dari kaca mata generasi muda. Babak final berlangsung di Hall Pameran, Mal Tamini Square, Jakarta Timur, Sabtu (26/11).

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Zainal Arifin menuturkan, sebanyak 92 karya tulis dari seluruh Indonesia dilombakan dalam kontes ini. Menurut dia, jumlah karya tulis peserta pada KIM Ke-6 ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 115 karya tulis. Pada tahun ini penyelenggaraan berlangsung secara terpusat dan tidak ada penyelenggaraan awal di daerah.
 
READ MORE - SMAN 1 KENDARI JUARA KONTES INOVATOR MUDA KE - 6

PAPARKAN PERMAINAN INTERAKTIF, SMA NEGERI 1 KENDARI : RAIH JUARA KIM LIPI

Jumat, Desember 09, 2011

Pemenang KIM 6 : SMAN 1 Kendari, SMA Tarsisius 1 Jakarta dan SMAN 1 jakarta bersama dengan Juri Panelis : Prof. Jamaluddin Jompa, Nurul Dhewani, M. Si dan Artika Dari Devi

 Makalah berjudul “Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini di Pulau Bungkutoko Kota Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)” karya tiga siswa SMA Negeri 1 Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara  berhasil menjuarai Kontes Inovator Muda (KIM) ke-6 tahun 2011.
KIM ke-6 yang mengangkat topik seputar model pelestarian terumbu karang dari kaca mata generasi muda ini, sebelumnya diikuti 92 kelompok pemakalah remaja dari seluruh Indonesia seperti Aceh, Pangkal Pinang, Maumere, Sulawesi, Jakarta serta Biak. Setelah diseleksi terdapat 3 kelompok yakni SMAN 1 Kendari, SMAN 1 Jakarta serta SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan masuk tahap grand final. Babak final berlangsung di Hall Pameran, Mal Tamini Square, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.
Dalam ajang yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu, SMAN 1 Kendari berhasil menyisihkan dua finalis lainnya yaitu SMAK Tarsisius 1 Jakarta dan SMA Negeri 1 Jakarta yang berturut-turut menjadi juara kedua dan juara ketiga.

Tiga siswa yang mewakili SMAN 1 Kendari itu adalah Athar Abdurrahman, Niartanty Nirmala Saleh dan Tryana Putri Jumianti. Karya tulis mereka bertajuk "Permainan Interaktif sebagai Media Pendidikan Pelestarian Terumbu Karang Sejak Dini, di Pulau Bungkutoko KOta Kendari (Studi di SD Negeri 3 Abeli)". Peserta dari SMA Tarsisius 1 Jakarta, teridiri dari Jovita Nathania, Maria Christina Yolenta Lestari dan Rosinta handinata dengan karya tulis berjudul "Penyelamatan Terumbu Karang dengan Kartu Terumbu Karang (metode permainan kartu uno)". Sedangkan peserta dari SMAN 1 Jakarta terdiri dari Nabila Mudin Sutanto, Nael huda Qonita dan UlfiUswatin Fadhillah dengan karya tulis berjudul "Mengurangi Tekanan Terhadap Terumbu Karang di Kepulauan Seribu Melalui Program Kelompok Ilmiah Remaja (KIR SMA Negeri 1 Jakarta)". 
Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Zainal Arifin menuturkan, sebanyak 92 karya tulis dari seluruh Indonesia dilombakan dalam kontes ini. Menurut dia, jumlah karya tulis peserta pada KIM Ke-6 ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berjumlah 115 karya tulis.
READ MORE - PAPARKAN PERMAINAN INTERAKTIF, SMA NEGERI 1 KENDARI : RAIH JUARA KIM LIPI

LEWAT BLOG MELESTARIKAN TERUMBU KARANG

Jumat, November 25, 2011

Kompas/Lasti Kurnia - Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten. Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (COREMAP) telah dilakukan Lembaga Ilmi Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 1998. Setelah selama 13 tahun, COREMAP kini telah memasuki masa akhir tahap penyadaran masyarakat. 

Salah satu pencapaian program COREMAP adalah kegiatan Forum Komunikasi Pecinta Terumbu Karang (Forum Matabuka) Indonesia pada Kamis (24/11/2011) di Jakarta. Di forum ini, remaja tingkat SMA berkumpul untuk menyalurkan ide, aspirasi, dan inovasi untuk penyelamatan terumbu karang. 

"Forum Matabuka dilakukan reguler sejak tiga tahun lalu dan saat ini yang dilakukan adalah pembuatan dan pengisian blog," kata Dr. Ir. Iskandar Zulkarnain, Deputi Ilmu Pengetahuan Kebumian LIPI. Tiap tahun, Forkom Matabuka punya fokus kegiatan berbeda. 

Pada tahun pertama, kegiatan Forum Matabuka fokus pada pemberian pengetahuan tentang cara pembuatan dan pengemasan blog. Sementara tahun kedua diadakan lomba pembuatan blog. Tahun ketiga ini difokuskan pada cara pengisian informasi singkat dan menarik. 

Kelapa Puslit Oseanografi LIPI, Zainal Arifin mengatakan bahwa blog dipilih karena memiliki kedekatan dengan remaja. "Karena pelajar itu dunianya blog, Facebook. Blog akan berefek spiral, impact-nya lebih besar." 

Selain blog, kata Zainal, dalam rangka program COREMAP, LIPI juga telah menyusun buku ajar bagi remaja khusus tentang terumbu karang. Buku ajar tersebut bisa diunduh gratis dan tersedia bagi pelajar SD, SMP, dan SMA.

READ MORE - LEWAT BLOG MELESTARIKAN TERUMBU KARANG

FORKOM MATABUKA UNTUK PELESTARIAN TERUMBU KARANG

Para blogger muda berkumpul di Toko Buku Gramedia, Kamis (24/11/2011) untuk mengikuti edukasi perihal terumbu karang oleh COREMAP.
JAKARTA, KOMPAS.com -- Program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang (COREMAP) tahap II akan berakhir pada akhir tahun ini. Tahapan penyadaran atau edukasi ini yang dilakukan COREMAP, Kamis (24/11/2011) di Toko Buku Gramedia, Jalan Matraman Raya, Jakarta. 

Kegiatan ini dipenuhi para blogger muda yang adalah anak-anak SMA dari berbagai sekolah di Jakarta. 

Acara yang diberi tajuk Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka) ini diharapkan mampu mewadahi para pecinta terumbu karang dalam bentuk ide, aspirasi, dan inovasi penyelematan terumbu karang. 

Deputi Ilmu Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Iskandar Zulkarnain menjelaskan, COREMAP tahap II dilakukan dengan memberi edukasi demi peningkatan dan kepedulian masyarakat akan arti penting terumbu karang. Kegiatan menggandeng para blogger muda seperti ini diharapkan bisa menyebarkan informasi dan mengajak sesamanya untuk peduli akan ekosistem terumbu karang.

READ MORE - FORKOM MATABUKA UNTUK PELESTARIAN TERUMBU KARANG

KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA CAPAI 31,5 %

Kamis, November 24, 2011


Jurnas.com | KONDISI kerusakan terumbu karang yaang berada di wilayah perairan Indonesia kian tinggi. Tercatat kerusakan terumbu karang di perairan Indonesia saat ini telah mencapai angka 31,5 persen. ”Dari penelitian akhir tahun 2008,ada sekitar 31,5 persen terumbu karang di seluruh Indonesia berada dalam kategori rusak. 

Sebagian besar kerusakan ditemukan di perairan yang berdekatan dengan kota besar seperti Teluk Jakarta,” ujar Kepala Pusat Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Zainal Arifin di sela kegiatan Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka) di Jakarta,Kamis (24/11).

Zainal menjelaskan, kerusakan diantaranya terjadi akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Utamanya menyangkut dampak perubahan iklim yaitu terjadinya keasamaan karena PH atau kandungan padat dalam air laut menurun. ”Hal ini buruk karena mengurangi kemampuan terumbu karang untuk membentuk rumah atau kalsium kapur karena terumbu karang terdiri dari bagian itu,” katanya. 

Meski begitu tambah Zaenal, disisi lain, kondisi terumbu karang perairan Indonesia juga cenderung membaik. Pasalnya dalam penelitian juga terungkap sebanyak 30 persen terumbu karang berada dalam kondisi baik. ” Bahkan sebanyak lima persen terpantau sangat baik kondisinya. Untuk itu sampai saat ini terus diterapkan strategi pencegahan dan adapatasi mencegah kerusakan terumbu karang,” katanya. 

Penulis: Aria Triyudha

READ MORE - KERUSAKAN TERUMBU KARANG DI INDONESIA CAPAI 31,5 %

SUMPAH PEMUDA DAN PERUBAHAN IKLIM

Selasa, November 01, 2011


Sekitar 300 mahasiswa lintas agama dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, 28-30 Oktober 2011, akan berkumpul dalam kegiatan Youth for Climate Camp (Y4CC) di Sawangan Golf Resort, Depok, Jawa Barat.

Panitia kegiatan ini, Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia (DNPI), mengambil tema Bertanah Air Satu, Tanah dan Air Indonesia.

Ketua Harian DNPI, Rachmat Witoelar, Kamis (27/10/2011) di Jakarta, mengatakan, Y4CC ini pertama kalinya digelar. Diharapkan, kegiatan ini menjadi media sosialisasi kepada para pemuda, agar mendukung pemerintah mengendalikan permasalahan perubahan iklim.

Pada Jumat besok, tepat Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2011, kegiatan dibuka dengan diskusi mengenai wawasan kebangsaan di Museum Mandiri Jakarta Barat.

Diskusi menghadirkan, Denny Indrayana (Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia), Hj Khofifah Indar Parawangsa (Ketua Umum Muslimat NU), dan KH Thanthowi Musaddad (Tokoh Ulama Lingkungan) yang dipandu Romo Andang Binawan.

Selain masalah iklim, para pemuda juga diajak mendalami nilai agama masing-masing untuk menjadi landasan motivasi kepedulian dan ke-Indonesia-an. Momen ini juga memberi kesempatan perjumpaan lintas agama secara lebih intensif, supaya bisa lebih saling mengenal, memahami, dan menyikapi masalah perubahan iklim.


READ MORE - SUMPAH PEMUDA DAN PERUBAHAN IKLIM

MASYARAKAT ADAT KOFIAU DUKUNG KONSERVASI RAJA AMPAT

Pembangunan berbasis ekosistem bukan saja menjaga alam tetapi sudah memperlihatkan peningkatan pada jumlah pendapatan asli daerah yang sangat berarti.
-- Manuel P Urbinas


RAJA AMPAT - Masyarakat adat Kofiau di Kepulauan Raja Ampat menyatakan komitmennya menjaga kelestarian sumber daya alat lautnya lewat Deklarasi Adat Zonasi Kawasan Konservasi Perairah Daerah (KKPD) di Kofiau dan Boo. Deklarasi ini merupakan bentuk dukungan masyarakat pada sistem zonasi yang telah ditetapkan 2007 lalu.

Deklarasi tersebut berlangsung Rabu (19/10/2011) di Pulau Gebe Kecil, Kepulauan Kofiau, didukung oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Raja Ampat dan LSM The Nature Conservancy (TNC). Dalam deklarasi yang juga ditandai dengan upacara adat itu, tokoh adat setempat, Elias Ambrauw, memberikan dokumen berisi tanda tangan pemegang hak ulayat zona larang tangkap.

Sesuai pembagian sebelumnya, Taman Pulau Kecil Raja Ampat dibagi menjadi 6 KKPD, salah satunya Kofiau dan Boo seluas 170.000 hektar. Adapun wilayah Kofiau dibagi menjadi empat zona, yakni zona ketahanan pangan dan pariwisata (sama dengan zona larang tangkap), zona sasi dan pemanfaatan tradisional masyarakat, zona perikanan berkelanjutan dan budidya, serta zona pemanfaatan lain. Lewat deklarasi ini, masyarakat bersama DKP nantinya akan menguatkan kemitraan untuk menjaga KKKPD Kofiau dan Boo dari kegiatan penangkapan secara berlebihan, penangkapan ikan yang merusak menggunakan bahan peledak dan bahan kimia berbahaya, serta penangkapan biota laut yang dilindungi.

Kepala DKP Kabupaten Raja Ampat, Manuel P Urbinas mengatakan, pemerintah bertekad mendukung kebijaksanaan pengelolaan berbasis ekosistem dalam kerangka kebijakan pembangunan Kabupaten Bahari Raja Ampat.

"Pembangunan berbasis ekosistem bukan saja menjaga alam tetapi sudah memperlihatkan peningkatan pada jumlah pendapatan asli daerah yang sangat berarti," ujarnya.
Manuel juga mengatakan, dukungan masyarakat adat Kofiau menjadi bukti bahwa masyarakat setempat memiliki kearifan lokal. Salah satu bentuk kearifan lokal itu adalah sasi, yakni upaya penutupan sementara atas segala ekstraksi sumber daya alam laut di suatu wilayah dengan kesepakatan bersama.

Pengelolaan alam Raja Ampat perlu dilakukan dengan baik, sebab wilayah ini merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Kofiau sendiri memiliki 292 spesies terumbu karang dan 529 jenis ikan karang. Bagi Indonesia, kelestarian wilayah ini mendukung upaya pengembangan pariwisata Raja Ampat untuk ekonomi masyarakat.




READ MORE - MASYARAKAT ADAT KOFIAU DUKUNG KONSERVASI RAJA AMPAT

INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

Rabu, September 21, 2011


Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten, Sabtu (10/4). Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.

Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.

Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.

"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.

Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.

"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.
Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.

Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collectionkelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.

"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.

Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.


READ MORE - INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

UNDANGAN CALON VOLUNTEER KIM 6 - TAHUN 2011

Senin, Mei 09, 2011



Kepada Yth.
Calon Volunteer KIM 6 dan Forkom Matabuka
di Tempat

Perlu kami informasikan bahwa Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) II - LIPI adalah salah satu program Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk melindungi, merehabilitasi dan mengelola secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indonesia. Melalui Bidang Pendidikan, COREMAP II - LIPI melakukan serangkaian kegiatan pendidikan kelautan yang melibatkan berbagai khalayak mulai dari tingkat SD, SMP, SMA / sederajat hingga Perguruan Tinggi.

Dalam upaya meningkatkan kegiatan pendidikan dari tahun ke tahunnya, pada tahun 2011, Bidang Pendidikan mengadakan agenda nasional yaitu Kontes Inovator Muda yang ke - VI (KIM 6) bagi siswa – siswi SMA / sederajat di seluruh Indonesia. Disamping itu, dilaksanakan juga Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka) berupa Lomba Blog Kelautan untuk Tingkat Pelajar SMA/Sederajat dan Mahasiswa.

Sehubungan dengan kegiatan itu, kami telah membuka kesempatan bagi Mahasiswa (jadwal kuliah tidak padat) atau sudah lulus kuliah (tidak ada keterikatan pekerjaan di perusahan/ instansi lain) untuk bergabung sebagai relawan (volunteer). Maka berdasarkan lamaran dan CV yang telah kami terima, maka kami mengundang sdr/i untuk dapat hadir pada :

Hari/Tanggal : Rabu/ 18 Mei 2011

Waktu : 10.30 WIB – Selesai

Tempat : Gedung COREMAP II - LIPI, Lantai 3
Jalan Raden Saleh No. 43 Jakarta Pusat

Agenda :

- Ramah Tamah (Perkenalan)

- Pengarahan dan penyampaian informasi mengenai kegiatan KIM 6/

Forkom Matabuka terhadap pelaksanaan kerja relawan (volunteer).

Demikian informasi dan undangan kami, atas perhatian dan kerjasama Saudara/i calon volunteers, kami ucapkan terima kasih. Salam Lestari.

Bidang Pendidikan Kelautan,

CRITC COREMAP II-LIPI,

UP. Dwi Sekar Asih, S. Sos/ Ranthi Bariel Putri, S. Si
Gedung COREMAP - LIPI
Lantai 4, Ruang 403
Jl. Raden Saleh No. 43, Jakarta Pusat
Telp/ Fax : 021-3143080 ext 1403/ 1405
Hp : 0852 1000 2298

Perhatian :

Informasi dan undangan ini juga akan kami kirimkan ke email para calon volunteer atau melalui telepon.

Para calon volunteer diharapkan mengkonfirmasikan kehadhirannya melalui SMS dengan Format (Datang/ Tidak Datang, Nama, Tempat/Tanggal Lahir, Asal Universitas) ke 0852 1000 2298 - Contoh : Datang, Putri, Jakarta/09052011, Universitas Indonesia

READ MORE - UNDANGAN CALON VOLUNTEER KIM 6 - TAHUN 2011

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas