Tampilkan postingan dengan label APA DAN MENGAPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label APA DAN MENGAPA. Tampilkan semua postingan

REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA

Selasa, September 20, 2011


The Climate Reality Project yang didirikan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, menyelenggarakan kampanye tentang realitas krisis iklim secara global dalam 24 jam.
Setiap satu jam akan dilakukan presentasi. Secara total, presentasi ini dilakukan oleh 24 presenter, di 24 zona waktu, dalam 13 bahasa, dengan 1 pesan utama.

Para penyaji akan melakukan presentasi dengan wahana multimedia yang dibuat oleh Al Gore. Mereka akan mengungkap realitas krisis iklim ekstrim yang mereka alami, berupa bencana-bencana seperti banjir, kekeringan, dan badai.

Juga akan diungkapkan apa kaitan antara bencana tersebut dengan polusi akibat aktivitas manusia yang telah mengakibatkan perubahan iklim. Semua presentasi akan dilakukan tepat pukul 19.00 waktu setempat.

Rantai presentasi tersebut dimulai dari Mexico City, Meksiko, Boulder di Colorado, AS, Victoria (Australia), Kotzebue (Alaska), Polinesia (di bawah Perancis), Hawai (AS), Tonga di Laut Pasifik Selatan, Auckland (Selandia Baru), Pulau Solomon, Canberra (Australia), Seoul (Korea Selatan), Beijing (China), dan di urutan ke-13 adalah Jakarta.

Di Jakarta, presentasi dilakukan oleh Charles Wirawan yang telah bergabung dengan The Climate Reality Project Indonesia sejak tahun 2009, dulu namanya adalah The Climate Project.
Sejak Al Gore menyajikan film The Inconvenient Truth tahun 2006, sejak itu pula muncul kontroversi apakah perubahan iklim benar terjadi. Untuk itu, The Climate Reality Project menjawabnya dengan presentasi tersebut. Di lokasi -lokasi tempat presentasi dilangsungkan, memang sungguh terjadi dampak dari krisis iklim.

Jakarta misalnya, merupakan lokasi yang sering dilanda banjir yang semakin lama semakin parah, sementara Beijing kini semakin terancam oleh krisis air. Sementara sekitar 30 juta penduduk China diperkirakan pada tahun 2020 harus menjadi pengungsi akibat krisis air.
Presentasi 24 jam global ini, akan membuka mata warga dunia tentang realitas terjadinya krisis iklim. "Pihak-pihak yang menyangkal terjadinya krisis iklim memang memiliki uang, namun kami memiliki realitas," ungkap Presiden dan Direktur Eksekutif The Climate Reality Project Maggie L Fox.

Sementara Al Gore menegaskan, dalam krisis iklim tidak ada batas politik. Badai yang mengerikan dan panas yang mematikan terjadi dengan frekuensi tinggi di seluruh dunia. Pertanyaan satu-satunya adalah seberapa cepat kita bisa beraksi? (The Climate Reality Project/Brigitta Isworo Laksmi)


READ MORE - REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA

ILMUWAN TEMUKAN FOSIL HIDUP BERUMUR 200 JUTA TAHUN

Senin, Agustus 22, 2011

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.


Ahli biologi melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Seperti dikutip dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba, Jepang.

Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.

Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.

Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang 6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.

Menurut penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini masih cukup luas.

Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun.

READ MORE - ILMUWAN TEMUKAN FOSIL HIDUP BERUMUR 200 JUTA TAHUN

PEMANASAN GLOBAL, SEBABKAN POLUTAN BERBAHAYA MUNCUL KEMBALI

Senin, Juli 25, 2011

Pemanasan global menyebabkan bahan kimia berbahaya, yang disebut “Dirty Dozen” termasuk DDT, yang sangat beracun kembali terbebas ke udara dari bongkahan es di lautan Kutub Utara. Temuan ini merupakan hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Nature Climate Change.

Dirty Dozen merupakan istilah untuk polutan organik yang gigih (persistent organic pollutants, disingkat POP), bahan kimia berbahaya yang umum digunakan di insektisida dan pestisida, yang sejak tahun 2001 dilarang untuk dipakai.
Bahan-bahan kimia ini terdiri dari molekul yang sangat kuat sehingga alam membutuhkan waktu beberapa dekade untuk menguraikannya. Mereka juga bisa terus berada di rantai makanan, menghadirkan ancaman kesuburan bagi spesies yang berada di puncak rantai makanan. Parahnya, POPs juga tidak larut di air dan lekas menguap sehingga mereka bisa dengan mudah berpindah dari tanah dan air ke atmosfer jika terkena suhu tinggi.

Peneliti mendapati adanya penurunan konsentrasi tiga bahan kimia berbahaya, seperti DDT, HCH, dan cischlordane, di atmosfer sepanjang 1993 sampai 2009. Namun dari data yang sama, peneliti mendapati bahwa adanya peningkatan emisi POP yang sebelumnya sudah terkunci di dalam es di kutub utara. Artinya, secara bertahap dilepaskan kembali ke atmosfer akibat adanya pemanasan suhu di kawasan tersebut.

“Sejumlah POP telah kembali ke atmosfer di atas Kutub Utara akibat perubahan iklim dan kejadian ini dapat menghambat upaya untuk mengurangi terkenanya bahan kimia beracun pada manusia,” kata Jianmin Ma, ketua tim peneliti dari Environment Canada.

Jordi Dachs, peneliti dari Institute of Environmental Assessment and Water Research, menyebutkan bahwa temuan itu merupakan kabar buruk. Akibat pemanasan global, Kutub Utara telah mengalami kerusakan dua sampai tiga kali lebih parah dibandingkan dengan bagian lain di planet ini. "Kutub Utara bisa menjadi pelopor dalam pelepasan POP. Mungkin akan terjadi juga dari tempat penyimpanan lain, termasuk tanah dan laut dalam," kata Dachs.

“Tampaknya, polutan ini akan memengaruhi lingkungan dalam jangka waktu yang lebih panjang dibanding perkiraan sebelumnya,” kata Dachs. “Polutan yang dihasilkan oleh kakek dan nenek kita, yang jadi bukti perusakan lingkungan di masa lalu, kini muncul kembali,” ucapnya.

READ MORE - PEMANASAN GLOBAL, SEBABKAN POLUTAN BERBAHAYA MUNCUL KEMBALI

MASIH BERJUANG MENJADI NEGARA MARITIM

Senin, Juli 18, 2011


Indonesia dengan luas wilayahnya yang sebagian besar lautan, sepantasnya disebut negara maritim. Namun, sebutan negara maritim yang sudah melekat pada masyarakat Indonesia ternyata belum terbukti. Masih banyak yang harus diperbaiki terutama dalam hal eksplorasi kelautan.

Hal ini disampaikan Prof. Jamaludin Jompa dari Coral Reef Rehabilitation and Management dalam forum weekend tentang Konservasi Kelautan Indonesia. "Apa yang menunjukkan kita negara maritim? Penelitian-penelitian kita saja masih terlalu kecil untuk bisa mengetahui potensi maritim yang dimiliki Indonesia," ujar Jamaludin di Newseum, Jakarta, Sabtu (16/7/2011).

Padahal, menurut Jamaludin, Indonesia termasuk ke dalam Coral Triangle, yakni Negara dengan potensi maritim terbesar di dunia. "Di dunia ini, ada tiga besar wilayah yang memiliki potensi maritim terutama terumbu karang terbesar, yakni wilayah Amazon di Amerika, wilayah Congo Basir di Afrika, dan Coral Triangle di Indonesia. Enam puluh persen terumbu karang Indonesia ada di wilayah timur, dengan jumlah lebih dari 500 spesies," jelasnya.

Dr. Yulian Paonganan, Msc, Direktur Indonesia Maritime Institute yang juga hadir dalam forum ini menambahkan, Indonesia memiliki potensi maritim senilai Rp 7 ribu trilyun per tahun. "Angka tersebut bisa didapatkan Indonesia jika potensi maritim dikelola dengan baik. Indonesia adalah negara dengan hasil alam yang besar, namun tidak bisa mengolahnya. Hampir 90 persen potensi migas kita dikelola asing. Bahkan mungkin tidak banyak yang tahu kalau Raja Ampat adalah penghasil nikel terbesar di dunia. Kapal Sinar Kudus yang dibajak kemarin juga membawa nikel Indonesia senilai Rp 6,5 trilyun, padahal baru berupa kapal kecil," ujarnya.

Yulian menambahkan, sayangnya pelaksanaan konservasi kelautan Indonesia masih berbentuk parsial. "Indonesia masih terkotak-kotak dengan desa, kecamatan, kabupaten, padahal pengelolaan sumber daya alam harus terintegrasi, bukan parsial. Contohnya, apa yang dilakukan di gunung, akan berpengaruh di laut. Tapi tidak banyak masyarakat atau aparat pemerintah yang tahu sampai sejauh ini," tambahnya.

Irwan Mulyawan dari Ikatan Sarjana Kelautan, dalam forum ini menambahkan, masalah otonomi memang menjadi salah satu masalah maritim di Indonesia. "Hal-hal yang menyebabkan Indonesia masih jauh dari istilah negara maritim adalah karena tumpang tindihnya masalah otonomi. Para pejabat di daerah masih belum bersinergi untuk mengelola kelautan secara bersama-sama. Selain itu, belum adanya pendanaan khusus untuk pengelolaan. Tapi pengelolaan juga butuh penelitian dan penelitian ini masih sangat minim karena belum ada indikator yang efektif untuk mengukur keseimbangan ekologi," ujar Irwan.

Prof. Jamaludin juga menyampaikan bahwa masalah utama sulitnya Indonesia menjadi negara maritim adalah masalah penelitian. "Kemampuan riset dan teknologi Indonesia masih jauh dari negara lain. Maritim Indonesia masih terlalu misteri untuk dikelola dengan mudah. Indonesia banyak mengalami pencurian karena penelitian yang kurang. Kita tidak tahu bahwa potensi alam kita sudah dicuri oleh negara lain karena pengetahuan kita akan kekayaan laut sangat kurang. Oleh karena itu, masalah fundamental yang harus dibenahi sekarang ini adalah memahami kekayaan laut Indonesia," jelas Jamaludin.

Sementara Yulian menambahkan, Indonesia juga sering melakukan penelitian yang tidak berkelanjutan. "Banyak penelitian yang tidak berkelanjutan. Padahal hasil penelitian harus berupa aplikator agar bisa dipakai untuk eksplorasi. Namun kenyataannya, berapa banyak penelitian mahasiswa yang berhenti setelah mendapat gelar sarjana? Bagaimana dengan pembangunan dermaga yang masih setengah jadi sudah ditinggalkan? Contoh-contoh seperti ini harus menjadi perhatian. Aktivis, akademisi, dan penentu kebijakan di Republik ini harus nyambung. Ketiga elemen ini harus bekerja sama agar penelitian bisa berkelanjutan, diaplikasikan, sekaligus diawasi," ungkapnya.

Prof. Jamaludin mengungkapkan bahwa CTI (Coral Trader Inisiative) bisa diberlakukan di Indonesia. "Seharusnya sebagai wilayah dalam Coral Triangle, Indonesia bisa menjual terumbu karang lebih banyak, namun sekali lagi, hanya apabila dikelola dengan baik. Ada lima hal yang harus diperhatikan agar kita berhasil dalam CTI, yakni bentang laut dikelola secara bersama-sama, bukan per desa atau per kabupaten karena laut merupakan satu kesatuan.

Kedua, Indonesia harus lebih paham isi laut sebelum mengelola ekosistem. Ketiga, kelola kawasan konservasi laun dalam konteks networking (peneliti-aktifis-penentu kebijakan-pebisnis-masyarakat). Keempat adanya kesadaran bahwa spesies harus segera diperbaiki karena keragaman genetika adalah masa depan populasi manusia.

Terakhir, Indonesia harus peduli bahwa perubahan iklim sudah terjadi di laut Indonesia, misalnya dengan terjadinya coral bleaching di mana warna terumbu karang berubah karena polusi sehingga sulit untuk dijual.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - MASIH BERJUANG MENJADI NEGARA MARITIM

KERAJAAN YANG RAPUH

Jumat, April 29, 2011

Dari polip karang yang mungil, tumbuh sesuatu yang menakjubkan: Great Barrier Reef Australia. Mungkinkah semuanya akan binasa?

Oleh JENNIFER S. HOLLAND
Foto oleh DAVID DOUBILET
Tidak jauh di bawah permukaan Laut Koral, tempat menetapnya Karang Penghalang Besar, gigi ikan kakatua (Scaridae) menggerus karang, cakar kepiting menyentak saat mereka berebut tempat persembunyian, dan ikan grouper (Epinephelus) seberat 275 kilogram menggetarkan kantung renangnya untuk mengumumkan kehadirannya dengan gebrakan yang mantap. Ikan hiu dan silver jacks (Carangidae) berkelebat-kelebat. Cabang anemon bergeletar dan ikan serta udang kecil-kecil seakan menari-nari riang sambil menjaga ceruknya. Benda apa pun yang tidak bisa menempelkan diri pada benda kaku pasti terseret dan terlontar oleh alunan gelombang laut.

Keragaman karang yang amat kaya itulah yang antara lain membuatnya memukau. Terumbu karang itu dihuni oleh 5.000 jenis moluska, 1.800 spesies ikan, 125 jenis hiu, dan berbagai makhluk mini yang tak terhitung banyaknya. Namun, pemandangan yang paling memesona—dan alasan utama terumbu karang ini meraih status Pusaka Dunia—adalah luas bentangannya, mulai dari tangkai bunga karang dan lempengan karang yang rata oleh ombak (Heliofungia actiniformis), hingga bebatuan mirip sarung tangan oven yang digelantungi karang cokelat mirip tombol sehalus sadel dari kulit. Karang lunak bertengger di atas karang keras, ganggang dan spons mewarnai bebatuan, dan setiap celah menjadi hunian makhluk hidup. Makhluk hidupnya, seperti karang ini, bertransformasi dari utara—tempat dimulainya terumbu—hingga ke selatan. Pergerakan kelompok makhluk hidup yang sangat beragam ini tidak ada tandingannya di dunia.

Waktu dan gelombang laut dan sebuah planet yang selalu berubah menciptakan Karang Penghalang Besar jutaan tahun yang silam, menggerogotinya, dan menumbuhkannya kembali—terus-menerus. Sekarang semua faktor penunjang pertumbuhannya mengalami perubahan dengan kecepatan yang belum pernah dialami Bumi. Kali ini terumbu karang tersebut mungkin mengalami kerusakan melebihi ambang batas genting yang menyebabkannya tidak dapat pulih kembali.

Tak Kenal Maka Tak Sayang Bangsa Eropa diperkenalkan kepada Karang Penghalang Besar oleh penjelajah Inggris, Kapten James Cook, yang menemukannya secara kebetulan. Pada suatu senja di bulan Juni 1770, Cook mendengar suara gesekan kayu dengan batu; dia tidak pernah membayangkan bahwa kapalnya membentur dunia makhluk hidup paling luas di Bumi: lebih dari 26.000 kilometer persegi bentangan terumbu karang dan pulau kecil-kecil yang menebal dan menipis dan berlika-liku sepanjang kira-kira 2.300 kilometer.

READ MORE - KERAJAAN YANG RAPUH

BLUE CARBON UNTUK WARGA PESISIR

Rabu, April 27, 2011

Wartawan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyusuri hutan mangrove di Pulau Nusa Lembongan, Bali, 10 April 2011

Wayan Sukitra melepaskan tali yang mengikat setiap perahu dengan tambatannya. Ada delapan perahu yang dinaiki anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), yang menyusuri hutan mangrove seluas 9 kilometer persegi di Pulau Nusa Lembongan, Bali.

Setelah berkeliling dengan perahu yang harga sewanya Rp 70 ribu per unit, peserta diajak mengunjungi kafe dan toko cendera mata. "Ini usaha dari kelompok masyarakat Mangrove Tour," kata Sukitra, yang menjadi ketua kelompok itu, kepada wartawan yang mengunjunginya pada 10 April lalu. Pada Juli hingga September, ujarnya, banyak turis asing berwisata ke hutan mangrove di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan.

Hutan ini menjadi tempat wisata semenjak 2003. Sebelumnya, kata Sukitra, warga menebangi mangrove untuk kayu bakar dan lahan industri garam. Alhasil di beberapa tempat terjadi abrasi. Kemudian seorang turis asal Prancis mengajak Sukitra mengembangkan wisata mangrove.

Warga lantas menanam bakau pada lahan kosong dan membentuk Mangrove Tour. Sekarang kelompok ini memiliki 33 perahu dan masyarakat menggunakan kompor gas untuk memasak. Mereka juga menyajikan hidangan laut, seperti kepiting bakau, untuk wisatawan serta aktivitas menyelam.

Menurut Daniel Murdiyarso, peneliti Center for International Forestry Research (Cifor), apa yang dilakukan warga Jungut Batu merupakan bagian dari adaptasi perubahan iklim. "Hutan bakau memiliki peran yang besar dan selama ini belum dieksplorasi," katanya kepada wartawan peserta workshop yang diadakan Cifor dan SIEJ di Bali pada 8-11 April 2011.

Ternyata, bukan hanya adaptasi, tapi hutan bakau juga memiliki peran dalam mitigasi perubahan iklim. Tanaman ini memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. "Kepadatan karbon hutan mangrove lebih tinggi empat kali daripada hutan tropis umumnya," demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan Cifor dan USDA Forest Services (Departemen Pertanian Amerika Serikat Bidang Kehutanan).

Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam Nature GeoScience edisi 3 April 2011. Riset ini dilakukan oleh Daniel C. Donato, J. Boone Kauffman, Daniel Murdiyarso, Sofyan Kurnianto, Melanie Stidham, dan Markku Kanninen. Sampel penelitian mereka diambil dari hutan mangrove di Kepulauan Mikronesia (Kosrae, Yap, dan Palau), Indonesia (Sulawesi, Jawa, serta Kalimantan), dan Sundarbans (Delta Sungai Gangga-Brahmaputra serta Bangladesh).

Menurut Daniel, ini merupakan studi yang pertama kali mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove. Tim peneliti memperkirakan tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan.

Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove daripada di atas permukaan tanah dan air. Jumlah karbon yang tersimpan di atas tanah sebanyak 100-120 ton per hektare. Sementara yang di bawah tanah bisa 1.200-1.300 ton setiap hektare. "Itu untuk semua jenis mangrove," kata Daniel.

Stephen Crooks, Direktur Perubahan Iklim Biro Konsultasi Perlindungan, Peningkatan, dan Perbaikan Ekosistem yang Bergantung pada Air (ESA-PWA), menjelaskan, hutan mangrove, rawa pasang-surut, dan padang lamun menghilangkan karbon dari atmosfer serta menguncinya di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun.

Tidak seperti hutan daratan umumnya, ekosistem laut secara terus-menerus membangun kantong-kantong karbon. "Juga menyimpan blue carbon dalam jumlah besar ke sedimen dasar laut," kata Crooks, yang hadir di Bali sebagai pembicara dalam lokakarya Tropical Wetland Ecosystems of Indonesia: Science Needs to Address Climate Change Adaptation dan Mitigation.

Cecep Kusmana, ahli mangrove dari Institut Pertanian Bogor, juga menjadi pembicara dalam forum tersebut. Pada 2008 hingga 2010, dia melakukan penelitian mangrove jenis api-api di Muara Angke, Jakarta Utara. "Mangrove usia 2 tahun berhasil menyerap 230 gram karbon dioksida per 100 gram daun," katanya. Sedangkan satu pohon mangrove tersebut berat total daunnya sampai 1,5 kilogram.

Daniel Murdiyarso dan teman-temannya juga menghitung bahwa perusakan dan degradasi ekosistem mangrove diperkirakan menghasilkan hingga 10 persen dari emisi deforestasi global. Sebab, yang hilang bukan hanya karbon di atas permukaan mangrove, tapi juga di bagian bawahnya.

Di Indonesia, saat ini ada 3,1 juta hektare mangrove atau 22,6 persen di dunia. Hutan ini terancam rusak jika tidak ada upaya melindunginya. Di Kalimantan saja, laju kerusakannya mencapai 7 persen dalam lima tahun terakhir.

Perusakan disebabkan oleh penggunaan lahan untuk budi daya perikanan, infrastruktur, dan aktivitas pembangunan lainnya. Ancaman terhadap mangrove bertambah akibat naiknya permukaan air laut, yang diperkirakan mencapai 18-79 sentimeter pada abad ini. Di Jawa, dampak perusakan mangrove telah dirasakan, yaitu abrasi tinggi dan kesulitan mencari ikan.

Daniel berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi hutan mangrove. Apalagi penelitian Cifor dan USDA menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. "Saat ini belum ada insentif bagi perlindungan hutan mangrove," kata Crooks.

Menurut Crooks, upaya tersebut memiliki potensi untuk dikaitkan dengan skema REDD+ (Reduction Emission from Degradation and Deforestation plus) dan mekanisme pendanaan karbon lainnya. Tanpa menunggu kucuran dana dari luar negeri, kelompok masyarakat Mangrove Tour di Pulau Nusa Lembongan, Bali, sudah menunjukkan kepada dunia bahwa, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tidak harus merusak lingkungan.

READ MORE - BLUE CARBON UNTUK WARGA PESISIR

BUDI DAYA KERAPU BISA RUSAK TERUMBU

Senin, April 25, 2011

Budidaya kerapu merupakan salah satu upaya untuk mencegah pengambilan ikan karang tersebut secara langsung di alam. Namun, budidaya yang tidak efisien juga tetap bisa merusak ekosistem terumbu karang.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif LSM Mitra Bentala Herza Yulianto dalam acara Media Trip bersama WWF pada hari Senin (18/4/2011) di Lampung. Ia mengatakan, kerapu biasanya dibudidayakan di keramba apung di laut lepas yang kadang berada di wilayah yang terumbu karangnya masih bagus. Dengan demikian, kondisi lingkungan keramba secara langsung berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang.

Herza mengungkapkan, potensi kerusakan berasal dari material sisa budidaya. "Untuk kerapu, dampak limbahnya bisa lebih kritis karena langsung kontak dengan lingkungannya," ungkap Herza.

Akumulasi sisa pakan, misalnya, bisa mengendap di dasar laut dan terumbu karang. Sisa pakan bisa berubah menjadi zat racun dan mengakibatkan pemutihan terumbu karang. Di Lampung, akumulasi sudah terjadi di wilayah Tanjung Putus.

Menurut Herza, kerusakan masif terumbu karang memang belum terjadi saat ini, tetapi perlu diantisipasi. Ia menekankan penggunaan pakan yang efisien dan pemantauan dasar perairan untuk mendeteksi adanya akumulasi limbah.

Herza bersama timnya juga pernah mengembangkan rumpon untuk mengatasi masalah tersebut. "Harapannya nanti sisa pakan bisa dimakan oleh ikan-ikan yang terkumpul di situ, tidak langsung ke dasar," urainya.

Zonasi dan perizinan

Sementara itu, Koordinator Program Akuakultur WWF Indonesia, Cut Desiana, mengatakan, untuk mengantisipasi dampak lingkungan akibat budidaya, perlu diupayakan peraturan tentang zonasi dan perizinan.

"Soal lingkungan misalnya, zonasi budidaya juga harus melihat wilayah-wilayah tertentu yang dilindungi, misalnya karena adanya terumbu karang, padang lamun, atau lokasi pemijahan ikan," jelasnya.

Menurut dia, peraturan zonasi yang dikeluarkan pemerintah saat ini belum cukup rigid. "Tata ruang pesisir ini banyak yang belum selesai. Pemerintah daerah belum aktif melakukan pendataan," ungkapnya.

Tentang perizinan, Desiana mengatakan, "Izin usaha harus di-screening bahwa lokasinya memang tepat, tidak ada potensi konflik, dilihat potensi wilayah dan kepadatannya seberapa besar."

Desi mengungkapkan bahwa studi tentang perizinan itu harus melihat daya dukung lingkungan. "Ini muaranya adalah adanya pembatasan nantinya, sesuai dengan daya dukung lingkungannya," katanya.

Menurut Desi, pemerintah harus mengadopsi standar yang kredibel dalam mengupayakan lingkungan budidaya yang baik. Selain itu, ia juga menggarisbawahi perlunya melihat akses masyarakat lokal sebab pantai merupakan fasilitas publik.

Desi mendefinisikan budidaya yang ideal dan berkelanjutan sebagai budidaya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - BUDI DAYA KERAPU BISA RUSAK TERUMBU

PENYAKIT MISTERIUS SERANG TERUMBU KARANG

Rabu, April 13, 2011



Karang Karimujawa

Pakar ilmu kelautan Universitas Diponegoro Semarang Prof Agus Sabdono mengatakan bahwa kerusakan terumbu karang di perairan Karimunjawa disebabkan suatu penyakit misterius.

"Terumbu karang yang terserang penyakit itu akan berubah warna menjadi merah muda dan dalam waktu antara 2-3 bulan akan mati. Ini yang tengah kami teliti saat ini," katanya di Semarang, Senin.

Agus yang akan dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip itu menjelaskan terumbu karang yang terkena gejala menyerupai itu sebenarnya pernah ditemukan di perairan India.

Ia mengatakan gejalanya hampir sama, yakni terumbu karang berubah warna menjadi merah muda, namun di India polanya hanya garis-garis di terumbu karang, sementara di perairan Karimunjawa menyeluruh.

"Luasan terumbu karang yang terkena penyakit itu sudah cukup besar. Saya tidak ingat persis angkanya, namun terumbu karang berpenyakit itu banyak ditemukan di sebelah Utara Pulau Sambangan, Pulau Karimunjawa," katanya.

Selain penyakit itu, kata dia, pihaknya juga menemukan berbagai penyakit lain yang menyerang terumbu karang, seperti `white plaque tipe I`, `tipe II`, `tipe III`, dan `black bone disease`," katanya.

Menurut dia, penyakit yang menjangkiti itu juga bisa membuat terumbu karang berubah warna, seperti "white plaque" membuat warna berubah putih atau "black bone disease" membuat terumbu karang menghitam.

"Kalau penyakit-penyakit ini biasa ditemukan di terumbu karang, namun untuk yang membuat warna terumbu karang berubah merah muda itu belum pernah ditemukan. Namun, penyebabnya karena bakteri," katanya.

Ia menjelaskan bahwa penyebab berbagai penyakit yang menyerang terumbu karang itu karena bakteri, diperparah dengan tekanan alam, termasuk pencemaran yang semakin memperlemah sistem pertahanan diri terumbu karang.

"Serangan bakteri ini terjadi mulai level molekuler, sel, hingga ke jaringan terumbu karang sehingga dalam waktu cepat akan membuat terumbu karang mati," katanya.

Penyakit yang menyerang terumbu karang itu, kata dia, tentunya merugikan, karena terumbu karang memiliki berbagai fungsi, seperti obat-obatan, bahan budi daya, dan pencegah terjadinya abrasi pantai.

"Untuk hewan-hewan laut lainnya, terumbu karang juga menjadi sumber makanan dan tempat hidup, seperti udang-udangan, kerang-kerangan, oktopus, dan rumput laut," katanya.

Karena itu, Agus mengatakan pihaknya tengah meneliti langkah untuk membasmi penyakit tersebut dan mengembalikan kondisi dan fungsi terumbu karang secara baik seperti sedia kala.

READ MORE - PENYAKIT MISTERIUS SERANG TERUMBU KARANG

RICHARD BRANSON WUJUDKAN "JET DASAR LAUT"

Jumat, April 08, 2011


Sir Richard Branson Ddan eksplorer Chris Welsh (kiri) saat konferensdi pers di Newport Beach, California, Selasa (5/4/2011) memperkenalkan jet dasar laut berpenumpang tunggal untuk menjelajahi palung dalam.

Siapa saja yang mengenal Sir Richard Branson tidak akan kaget dengan kabar teranyar ini. Setelah merintis wisata murah ke luar angkasa lewat Virgin Galactic, salah satu pengusaha terkaya dari Inggris itu kini bermimpi bisa menyediakan jet dasar laut untuk membawa pengalaman baru ke tempat yang sulit dijamah.

Branson menamakan proyek barunya sebagai Virgin Oceanic. Nama itu selaras dengan maskapai penerbangannya yang bernama Virgin Atlantic dan proyek wisata luar angkasa Virgin Galactic. Ia memperkenalkan kendaraan yang disebut jet dasar laut yang akan digunakan Virgin Oceanic.

"Kapal sepanjang 18 kaki (5,5 meter) ini bisa menyelam hingga kedalaman 11 kilometer di bawah permukaan laut," kata Branson memperkenalkan jet dasar laut yang dikembangkan Virgin Oceanic pada konferensi pers di Newport Beach, California, Selasa (5/4/2011) waktu setempat.

Kendaraan tersebut berpenumpang tunggal. Branson mengatakan, jet dasar laut Virgin Oceanic sanggup membawa pengendaranya selama seharian di dasar laut dalam. Ia memperkirakan, biaya untuk sekali perjalanan ke palung dasar laut sekitar 10 juta dollar AS (sekitar Rp 86 miliar).

Virgin Oceanic akan melakukan lima kali penyelaman dalam dua tahun ke depan. Sasaran pertama adalah mendekati Palung Mariana di Samudra Pasifik pada kedalaman 36.000 kaki atau sekitar 11 kilometer dari permukaan laut. Branson berencana melakukannya sendiri pada kesempatan kedua ke Palung Puerto Rico di Samudra Atlantik. Daerah lain yang akan dikunjungi adalah Molloy Deep di Laut Arktik, Kutub Utara, Palung South Sandwich, dan Diamantina di Laut Hindia.

"Di sana banyak sekali yang bisa diekplorasi. Begitu banyak yang bisa ditemui," kata Branson. Ia berharap terobosan yang dilakukannya bisa turut menyumbang ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia di masa depan.


READ MORE - RICHARD BRANSON WUJUDKAN "JET DASAR LAUT"

WARGA SELAYAR DIMINTA PERANGI PERUSAK TERUMBU KARANG

Kamis, April 07, 2011


Bupati Kepulauan Selayar Syahrir Wahab membuka secara resmi Rapat Koordinasi Pengamanan Taman Nasional Taka Bonerate.

Bupati meminta menjaga Taman Nasional Taka Bonerate, karena itu mengajak terus menjaga kelestarian terumbu karang di Taman Nasional Taka Bonerate.

Dikatakannya Potensi besar Kepulauan Selayar ada di bidang kelautan dan perikanan dengan banyaknya spesies terumbu karang.

Terumbu karang mesti tetap terjaga kelestariannya. Kita harus sepakat menjadikan perusak terumbu karang sebagai musuh bersama.

Olehnya itu kita perlu mensosialisasikan agar masyarakat dapat mengetahui dampak dari illegal fishing. Kemudian menyediakan mata pencaharian alternative dengan budi daya rumput laut dan keramba tancap.

Bupati Kepulauan Selayar Syahrir Wahab mengemukakan kalau pengamanan di laut belum berhasil dengan baik maka langkah yang harus ditempuh adalah pengamanan di darat dengan cara mengidentifikasi pelaku yang sering melakukan illegal fisihing. Kalau ini dijalankan, Bupati yakin ilegal fisihing dapat ditekan seminimal mungkin.

READ MORE - WARGA SELAYAR DIMINTA PERANGI PERUSAK TERUMBU KARANG

LABORATORIUM BAWAH LAUT, WAKATOBI - PULAU HOGA


Laboratorium Bawah Laut Kabupaten Wakatobi di Pulau Hoga, Sulawesi Tenggara (Sultra) akan menjadi pusat penelitian berbagai jenis terumbu karang dan bio energi dunia.

"Penggunaan Laboratorium Bawah Laut Wakatobi sebagai pusat penelitian terumbu karang dan bio energi dunia, akan dimulai bersamaan dengan dibukanya Sekolah Perikanan Internasional yang dibangun Kementerian Kelautan dan Perikanan," kata Bupati Wakatobi, Hugua kepada ANTARA melalui telepon dari Wakatobi, Selasa.

Menurut Bupati Hugua, Sekolah Perikanan Internasional Wakatobi, akan dibuka pada bulan Agustus 2011 mendatang.

Bersamaan dengan peresmian beroperasinya sekolah tersebut kata Hugua, akan digelar penelitian organisma bawah laut Wakatobi yang direncanakan diikuti sebanyak 1.000-an peneliti dari berbagai negara.

Terutama dari universitas yang akan menjalin kerjasama dengan Pemkab Wakatobi untuk mengembangkan sekolah perikanan tersebut.

"Setiap satu peneliti dari luar negeri, akan ditemani peneliti nasional dari LIPI dan berbagai perguruan tinggi di Tanah Air," katanya.

Laboratorium Bawah Laut Wakatobi yang menjadi sarana pendukung utama Sekolah Perikanan Internasional menurut Hugua, akan menjadi pusat penelitian terumbu karang dan bio energi paling aktif di pusat segi tiga terumbu Karang dunia.

Menurut Bupati Hugua, mahasiswa SPI Wakatobi, akan berasal dari enam negara yang menjadi anggota CTI (Coral Triangle Initiative).

Enam Negara tersebut masing-masing Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Salamon, Timor Leste dan Indonesia sendiri.

Bupati Hugua mengatakan, untuk pengembangan dan peningkatan kualitas sekolah tersebut, Pemerintah Kabupaten Wakatobi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, akan menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri.

"Kami sudah dihubungi pihak Universitas Essex, Cambridge, Oxford di Inggeris, Trinity College Dublin University Irlandia dan Harvard Amerika Serikat, untuk bekerjasama mengembangkan Sekolah Perikanan Internasional di Wakatobi," katanya.

READ MORE - LABORATORIUM BAWAH LAUT, WAKATOBI - PULAU HOGA

PENAMBANGAN TIMAH, ANCAM POPULASI TERUMBU KARANG


"Air laut menjadi keruh dan menyulitkan terumbu karang bernapas."

Seorang pengamat lingkungan hidup dari Universitas Bangka Belitung (UBB), Rizza Muftiadi, penambangan bijih timah di Kota Pangkalpinang mengakibatkan tingginya endapan lumpur di perairan yang mengancam populasi terumbu karang.

"Penambangan bijih timah memprodusir lumpur sehingga air laut menjadi keruh dan menyulitkan terumbu karang bernapas, karena tidak bisa ditembus sinar matahari yang pada gilirannya biota laut itu tidak tumbuh dan bisa punah," katanya di Pangkalpinang, Minggu.

Kepunahan terumbu karang dapat menimbulkan banyak efek, diantaranya berkurangnya populasi ikan dan abrasi pantai, ujarnya.

Selain penambangan biji timah, kata dia, ada banyak alat tangkap ikan tertentu, seperti pukat harimau dan racun ikan beroperasi di perairan, sehingga dapat merusak terumbu karang, kendati belakangan aktivitas alat tangkap seperti itu mulai berkurang.

"Ini juga menjadi ancaman populasi terumbu karang, sehingga banyak ditemukan terumbu karang mati di perairan laut Pangkalpinang," ujarnya.

Menurut dia, sangat sulit menghentikan kegiatan ekonomi di perairan tersebut, karena Pangkalpinang sudah sejak lama menjadi alur pelayaran dan aktifitas lainnya.

Ia menghemukakan, untuk menjaga populasi terumbu karang sebagai tempat bersarang ikan dan pemecah gelombang agar tidak terjadi abrasi pantai, harus dilakukan penanaman dan pelestarian pohon bakau.

"Populasi pohon bakau dan lamun atau lalang laut berfungsi menjaga habitat karang dengan menyerap lumpur, sehingga terumbu karang bisa hidup dengan baik," ujarnya.

Menurut dia, jika pohon bakau dan lamun banyak tumbuh di daerah pantai, tentu terumbu tumbuh dengan baik karena sedimentasi lumpur diserap kayu bakau, sehingga lumpur tidak mengendap di terumbu karang.

Ia menyatakan, antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan memang saling berseberangan dan dilematis, pada satu sisi harus memenuhi kebutuhan hidup, namun di sisi lain menyebabkan kerusakan lingkungan.

Namun, kata dia, tetap harus ada upaya melestarikannya yaitu melalui kegiatan penghijauan dengan menanam pohon bakau atau melakukan transplantasi terumbu karang.

"Memang upaya ini sudah dilakukan berbagai pihak seperti menanam bibit bakau di Pantau Tanjung Bunga, namun harus tetap dijaga agar bisa tumbuh dan hidup dengan baik sehingga benar-benar mampu menghindari abrasi dan menjaga populasi terumbu karang," ujarnya.

READ MORE - PENAMBANGAN TIMAH, ANCAM POPULASI TERUMBU KARANG

TERUMBU KARANG MENTAWAI KIAN TERANCAM


Saya tidak ikut mengambil terumbu karang ke laut, hanya mengambil sisa dari tumpukan kalau tak dibawa pemiliknya !!

Terumbu karang di perairan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, kian terancam karena masih digunakan masyarakat setempat untuk alternatif material bahan bangunan rumah.

"Kita akan koordinasikan dengan instansi terkait dan segera menyurati Bupati Mentawai, jika masih berlangsung aktivitas pengambilan terumbu karang di perairan itu," kata Kepala Dinas Keluatan dan Perikanan (DKP) Sumbar Ir Yosmeri ketika dikonfirmasi di Padang, Senin.

Yosmeri mengatakan, di Mentawai sebenarnya sudah ada Peraturan Daerah yang melarang masyarakat mengambil terumbu karang untuk dijadikan material bahan bangunan.

Warga Desa Taikako, Kecamatan Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, Man Yosep (40-an) saat ditemui di Dermaga Taikako, pekan lalu mengatakan, terumbu karang yang ditumpuk di Dermaga itu untuk material alternatif material bangunan.

Batu air untuk material pondasi bahan bangunan sulit didapatkan di Kepulauan Mentawai, karena itu banyak terumbu karang yang dijadikan alternatif.Jasa bagi para pencari adalah Rp100 per meter kubik hingga ke tepi pantai.

"Saya tidak ikut mengambil terumbu karang ke laut, hanya mengambil sisa dari tumpukan kalau tak dibawa pemiliknya," katanya sambil menaikkan karung yang berisi serpihan terumbuk karang ke sepeda motornya.

READ MORE - TERUMBU KARANG MENTAWAI KIAN TERANCAM

MANGROVE HAMBAT PERUBAHAN IKLIM


Hutan mangrove

Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. Masalahnya, mangrove terus mengalami kerusakan dengan cepat di sepanjang garis pantai, sejalan dengan persoalan emisi gas rumah kaca.

Para ahli dari Center for International Forestry Research (Cifor) dan USDA Forest Service menekankan perlunya hutan mangrove dilindungi sebagai bagian dari upaya global dalam melawan perubahan iklim.

"Kerusakan mangrove saat ini sudah pada tingkat yang menghawatirkan. Ini harus dihentikan. Penelitan kami menunjukkan bahwa hutan mangrove mempunyai peranan kunci dalam strategi mitigasi perubahan iklim," kata Daniel Murdiyarso, peneliti senior dari Cifor, Selasa (5/4/2011) malam.

Daniel mengemukakan, pada 15 -20 tahun lalu, luas hutan mangrove Indonesia masih sekitar 8 juta hektar. Saat ini diperkirakan tinggal 2,5 juta hektar.

Cifor mengungkapkan, sebuah studi yang dipublikasikan pada 3 April 2011 dalam Nature GeoScience, para ahli mengukur cadangan karbon dalam hutan mangrove berdasarkan atau luas areal wilayah Indo-Pasifik. Tidak ada studi selama ini yang mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon mangrove berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove.

Dari hasil-hasil tersebut, para ahli mengestimasi bahwa tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan. Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove, yang dapat dilihat, yakni antara tanah dan air.

Mangrove hidup sepanjang pantai dari sebagian besar laut-laut utama di 188 negara. Sebanyak 30 sampai 50 persen berkurangnya mangrove sepanjang setengah abad lalu telah menimbulkan ketakutan. Sebab, bisa jadi mangrove akan punah seluruhnya dalam kurun waktu kurang dari 100 tahun.

Kelanjungan mangrove juga terancam oleh tekanan pertumbuhan kota dan pembangunan industri, sebagaimana ancaman dari pertumbuhan tambak atau fish farm yang tidak terkendali.

"Saat ini belum ada kesadaran akan bahaya kehilangan mangrove bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Sehingga, setiap pemerintah harus ditekan agar menyadari pentingnya dan membuat kebijakan yang dapat melindungi hutan mangrove," kata Daniel.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - MANGROVE HAMBAT PERUBAHAN IKLIM

TEBAR JALA, RAUP RUGI

Kamis, Maret 31, 2011


Seorang nelayan menebar jala untuk menangkap ikan. Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad menuding para pengimpor ikan beku ilegas jadi penyebab meruginya nelayan lokal.

Sejak perjanjian pasar bebas ASEAN-China, ikan terlalu mudah untuk diimpor. Harga ikan lokal tidak dapat bersaing dengan ikan impor yang lebih murah 30%. Kementerian akan keluarkan peraturan pelarangan impor ikan jenis tertentu.

READ MORE - TEBAR JALA, RAUP RUGI

TERUMBU KARANG BALIK PAPAN "MENYUSUT"

Rabu, Maret 16, 2011

Diperkirakan hanya tinggal 10 persen wilayah perairan Balikpapan Kalimantan Timur, yang panjang total pesisirnya 80 km, masih ada terumbu karangnya. Nelayan baru beberapa tahun terakhir ini menyadari pentingnya terumbu karang setelah mereka kian sulit menangkap ikan dan harus melaut semakin jauh.

Saat ini, terumbu karang hanya bisa dijumpai di pesisir wilayah Teritip (Balikpapan Timur) dan perairan sekitar Pulau Balang (Balikpapan Barat). Menurut penuturan para nelayan, hingga awal tahun 90-an, masih banyak terumbu karang sepanjang pesisir Balikpapan.

Namun, satu demi satu, terumbu diambil dan dirusak dengan bom maupun jaring pukat harimau. Menurut Darwis (39), nelayan di Pantai Manggar, Balikpapan Timur, dulu, ia dan kawan-kawannya beranggapan terumbu malah menggangu. Selain merusak jaring, terumbu karang yang tajam, dikhawatirkan merusak badan bawah kapal serta karamba milik nelayan.

Darwis yang sudah melaut sejak kecil ini, dulu sering mengambil terumbu dengan harapan makin leluasa menjaring ikan besar karena dasar pantai lebih lapang. "Ketika ikan mulai sulit didapat, barulah saya sadar. Terumbu karang sangat penting," kata Darwis, Selasa (15/3/2011).

Tahun 1990-an, para nelayan di Manggar dan pesisir Balikpapan, bisa mendapat banyak ikan hanya dengan melaut sejauh 1-2 mil. Namun sekarang 10 mil lebih. Menurut Kamarudin (30), nelayan lain di Manggar, akibatnya adalah, nelayan boros waktu tenaga, dan bahan bakar.

Walikota Balikpapan Imdaad Hamid menegaskan Pemkot harus menggencarkan upaya pemulihan terumbu karang. Perusahaan harus digandeng untuk bekerja sama. "Sekarang, nelayan sudah mulai sadar ketika ikan-ikan mulai hilang karena tidak ada terumbu. Tiga tahun terakhir ini, tidak ada lagi perusakan terumbu," kata Imdaad, saat menerima bantuan sejumlah terumbu karang dari PT Thiess Indonesia, di Pantai Manggar, kemarin.

Kepala Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Balikpapan Chaidar, mengutarakan, terumbu karang juga tak menggangu budidaya rumput laut nelayan. "Terumbu berada di kedalaman tiga meter, sedangkan rumput laut kan berada di permukaan," kata Chaidar.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - TERUMBU KARANG BALIK PAPAN "MENYUSUT"

40 PERSEN TERUMBU KARANG GORONTALO RUSAK PARAH

Selasa, Maret 15, 2011


GORONTALO - Sekitar 40 persen terumbu karang di Teluk Tomini yang ada di kawasan perairan Provinsi Gorontalo, diperkirakan rusak, disebabkan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.

Kepada Bidang Pengelolaan Lingkungan pada Badan Lingkungan Hidup, Riset dan Teknologi Informasi (Balihristi) Provinsi Gorontalo, Rugaya Biki, Selasa, mengatakan kerusakan banyak terjadi pada terumbu karang di daerah pesisir yang berdekatan dengan daratan.

Meski demikian, lanjutnya, secara umum nilai tutupan terumbu karang yang tersebar di pesisir dan pulau-pulau setempat , mulai menyusut, hancur dan tergerus akibat ulah manusia. "Terumbu karang di sejumlah pulau, seperti di pulau Asiangi, Lamua Daa, Raja dan Popaya, relatif masih baik tutupannya, yakni berkisar antara 50 hingga 80 persen," katanya.

Dia mengatakan, terumbu karang di kawasan Teluk Tomini, khususnya di Provinsi Gorontalo terdiri dari dua jenis, yakni terumbu karang cincin (Atol) dan terumbu karang tepian (Fringing Reef).

Terumbu karang berfungsi sebagai pelindung ekosistem pantai juga menahan dan memecah energi gelombang sehingga mencegah terjadinya abrasi dan kerusakan di sekitarnya. Selain itu, terumbu karang juga berfungsi sebagai rumah bagi banyak jenis mahluk hidup di laut.

READ MORE - 40 PERSEN TERUMBU KARANG GORONTALO RUSAK PARAH

TERUMBU KARANG TELUK TOMINI SEMAKIN RUSAK

Selasa, Maret 08, 2011


Kondisi terumbu karang di Teluk Tomini yang masuk dalam wilayah pantai selatan Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, semakin rusak. Kerusakan terumbu karang semakin parah akibat akitivitas pengeboman ikan. Warga berharap polisi meningkatkan patroli di wilayah perairan tersebut.

Berdasar catatan Sustainable Coastal Livelihoods and Management (Susclam), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian alam wilayah Teluk Tomini, tutupan terumbu karang di bawah 50 persen pada tahun 2004. Diperkirakan tutupan terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Pohuwato tersebut semakin menurun pada tahun ini. Pasalnya, pengeboman ikan di wilayah tersebut masih marak terjadi.

"Maraknya pengeboman ikan ini akibat faktor ekonomi masyarakat nelayan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pengeboman ikan masih rendah," kata koordinator Susclam, Rahman Dako, Senin (7/3/2011) di Gorontalo.

Rahman menambahkan, kondisi tutupan terumbu karang di bawah 50 persen dikategorikan rusak. Kondisi lebih parah juga terjadi di perairan selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ada beberapa lokasi di perairan di sana yang tutupan terumbu karangnya kurang dari 30 persen atau rusak berat.

Anggota Komisi C DPRD Pohuwato, Ibrahim Hamzah mengatakan, pengeboman ikan sudah meresahkan nelayan lokal di Pohuwato. Selain membunuh benih ikan, pengeboman juga berdampak pada hancurnya terumbu karang di wilayah perairan tersebut. Padahal, terumbu karang menjadi sarang ikan berbagai jenis.

"Kami meminta agar polisi perairan meningkatkan operasi di wilayah kami. Sebab, pengeboman ikan sudah sangat meresahkan. Selain merusak benih, terumbu karang juga turut hancur," kata Ibrahim.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - TERUMBU KARANG TELUK TOMINI SEMAKIN RUSAK

INDONESIA GANDENG APEC : PERDAGANGAN IKAN KARANG HIDUP BERKELANJUTAN

Senin, Maret 07, 2011



Salah satu isu yang disepakat dalam pertemuan APEC ketiga dan dimuat dalam Deklarasi Paracas adalah isu kelautan terhadap keamanan pangan. Salah satu jenis ikan yang permintaan mengalami peningkatan secara signifikan adalah ikan karang hidup (seperti ikan kerapu), terutama pasar internasional. Sementara itu, perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan merupakan salah satu komponen penting di dalam melaksanakan keamanan pangan. Disampaikan Dr.Gellwynn Jusuf selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan sekaligus Lead Shepherd-APEC Fisheries Working Group pada saat membuka secara resmi workshop internasional bertajuk "market-based improvement on live reef fish food trade" di Hotel Sanur Paradise, Bali hari ini (1/3).

Lebih lanjut Gellwynn menyampaikan bahwa pengaturan perdagangan ikan karang hidup harus dilakukan dengan pendekatan yang konperhensif untuk meyediakan akses masyarakat terhadap pangan, perdagangan, keamanan lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya. Keberadaan lingkungan "sehat" diyakini dapat meningkatkan populasi dan kelangsungan ikan karang. Harga ikan karang hidup di pasaran jauh lebih tinggi dibandingkan ikan sejenis yang telah diolah, bahkan ikan karang hidup dari alam lebih banyak diminati dibandingkan ikan karang hasil budidaya. Untuk itu, forum kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC) sangat berperan dalam menyelaraskan perdagangan ikan karang hidup secara lestari, mengingat sebagian besar yang terlibat dalam perdagangan ikan karang hidup adalah anggota APEC, tegas Gellwyn.

Sementara itu, Dirjen P2HP, Dr. Victor Nikijuluw dalam sambutannya yang disampaikan Sesditjen P2HP, Dr. Syafril Fauzi menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi dunia internasional dalam penyelamatan kelestarian ikan karang hidup, khususnya dalam hal pengaturan perdagangannya. Menurutnya, saat ini kelestarian perdagangan ikan karang hidup terancam karena beberapa hal, yaitu: praktek penangkapan ikan ilegal dan destruktif (bom, sianida dll), penangkapan ikan berlebih (over fishing), menangkap ikan berukuran kecil, dan tingginya permintaan ikan karang hidup dari alam serta anaknya yang setiap tahun mengalami peningkatan. Forum ini diharapkan dapat mengatur mekanisme perdagangan ikan karang hidup sehingga keberlanjutan sumberdaya ini terjaga.

Permintaan ikan karang hidup sejak tahun 1998 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini memberikan dampak serius terhadap kelestarian ikan karang hidup. Saat ini, Hongkong tercatat sebagai importir utama komoditas ikan karang hidup, dengan nilai sekitar Rp 1,4 triliun pada tahun 2008 dan Indonesia menjadi salah satu negara eksportir terbesar ke negara tersebut, yakni sebesar 25 persen atau masih dibawah Filipina yang berkontribusi sebesar 28 persen.

Penyelenggaraan workshop dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan sekretariat APEC dan organisasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF). Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (1-3 Maret 2011) dihadiri oleh 122 peserta dari 12 negara anggota APEC, yaitu: Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Thailand, Vietnam, Peru, Rusia, Filipina, Hongkong, Australia, Papua Nugini, dan Malaysia. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama dari para anggota APEC mengenai pentingnya pengelelolaan perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan, disamping bertukar pengalaman para negara anggota sehingga dapat menjadi proses pembelajaran negara lainnya.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, (HP. 0811836967)

Sumber : Antara News Indonesia

READ MORE - INDONESIA GANDENG APEC : PERDAGANGAN IKAN KARANG HIDUP BERKELANJUTAN

PINDAI LOKASI : HIU PAKAI SISTEM PEMETAAN MENTAL

Jumat, Maret 04, 2011

Hiu memiliki sistem navigasi internal yang memungkinkan mereka menentukan tujuan akhir dalam kurun 30 mil. Hiu juga memanfaatkan medan magnet bumi.

Ilmuwan di Florida Museum of Natural History menemukan bahwa gerakan hiu menetapkan tujuan dengan tepat melibatkan kemampuan pemindaian hiu berdasarkan memori yang tersimpan dari perjalan sebelumnya.

"Penelitian kami menunjukkan hiu memiliki penentuan lokasi dengan sangat tepat. Secara sederhana, mereka tahu harus pergi ke arah mana," ujar ilmuwan Yannis Papastamatiou. Banyak orang yang mampu berjalan dengan tujuan 3,7 hingga lima mil namun bayangkan itu terjadi pada jarak yang lebih jauh di laut pada malam hari.

“Siapapun yang sering menyelam tentu memahami bahwa berada di bawah laut tanpa kompas sangatlah sulit. Namun, kemampuan ini kami temui pada hiu harimau,” kata Papastamatiou lagi.

Hiu mampu mendeteksi 30 mil dengan melihat bentuk gerakan dari skala spasial yang berbeda. Inilah cara menggabungkan jarak dan panjang relatif secara sederhana.

Ilmuwan juga menemukan hiu dewasa memiliki kemampuan navigasi yang lebih baik dari hiu remaja. ini berarti kemampuan pemetaan tersebut dibangun sejalannya waktu.

Kekuatan indrawi hiu memang legendaris. Hewan tersebut juga mampu mendeteksi konsentrasi bahan kimia sekecil apapun dalam air, frekuensi suara rendah hingga ratusan meter serta memanfaatkan medan magnet.

Penelitian terbaru dipublikasikan di Journal of Animal Ecology.

Sumber : Inilah . Com


READ MORE - PINDAI LOKASI : HIU PAKAI SISTEM PEMETAAN MENTAL

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas