Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPINI. Tampilkan semua postingan

TERUMBU KARANG BALIK PAPAN "MENYUSUT"

Rabu, Maret 16, 2011

Diperkirakan hanya tinggal 10 persen wilayah perairan Balikpapan Kalimantan Timur, yang panjang total pesisirnya 80 km, masih ada terumbu karangnya. Nelayan baru beberapa tahun terakhir ini menyadari pentingnya terumbu karang setelah mereka kian sulit menangkap ikan dan harus melaut semakin jauh.

Saat ini, terumbu karang hanya bisa dijumpai di pesisir wilayah Teritip (Balikpapan Timur) dan perairan sekitar Pulau Balang (Balikpapan Barat). Menurut penuturan para nelayan, hingga awal tahun 90-an, masih banyak terumbu karang sepanjang pesisir Balikpapan.

Namun, satu demi satu, terumbu diambil dan dirusak dengan bom maupun jaring pukat harimau. Menurut Darwis (39), nelayan di Pantai Manggar, Balikpapan Timur, dulu, ia dan kawan-kawannya beranggapan terumbu malah menggangu. Selain merusak jaring, terumbu karang yang tajam, dikhawatirkan merusak badan bawah kapal serta karamba milik nelayan.

Darwis yang sudah melaut sejak kecil ini, dulu sering mengambil terumbu dengan harapan makin leluasa menjaring ikan besar karena dasar pantai lebih lapang. "Ketika ikan mulai sulit didapat, barulah saya sadar. Terumbu karang sangat penting," kata Darwis, Selasa (15/3/2011).

Tahun 1990-an, para nelayan di Manggar dan pesisir Balikpapan, bisa mendapat banyak ikan hanya dengan melaut sejauh 1-2 mil. Namun sekarang 10 mil lebih. Menurut Kamarudin (30), nelayan lain di Manggar, akibatnya adalah, nelayan boros waktu tenaga, dan bahan bakar.

Walikota Balikpapan Imdaad Hamid menegaskan Pemkot harus menggencarkan upaya pemulihan terumbu karang. Perusahaan harus digandeng untuk bekerja sama. "Sekarang, nelayan sudah mulai sadar ketika ikan-ikan mulai hilang karena tidak ada terumbu. Tiga tahun terakhir ini, tidak ada lagi perusakan terumbu," kata Imdaad, saat menerima bantuan sejumlah terumbu karang dari PT Thiess Indonesia, di Pantai Manggar, kemarin.

Kepala Dinas Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Kota Balikpapan Chaidar, mengutarakan, terumbu karang juga tak menggangu budidaya rumput laut nelayan. "Terumbu berada di kedalaman tiga meter, sedangkan rumput laut kan berada di permukaan," kata Chaidar.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - TERUMBU KARANG BALIK PAPAN "MENYUSUT"

TERUMBU KARANG TELUK TOMINI SEMAKIN RUSAK

Selasa, Maret 08, 2011


Kondisi terumbu karang di Teluk Tomini yang masuk dalam wilayah pantai selatan Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, semakin rusak. Kerusakan terumbu karang semakin parah akibat akitivitas pengeboman ikan. Warga berharap polisi meningkatkan patroli di wilayah perairan tersebut.

Berdasar catatan Sustainable Coastal Livelihoods and Management (Susclam), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian alam wilayah Teluk Tomini, tutupan terumbu karang di bawah 50 persen pada tahun 2004. Diperkirakan tutupan terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Pohuwato tersebut semakin menurun pada tahun ini. Pasalnya, pengeboman ikan di wilayah tersebut masih marak terjadi.

"Maraknya pengeboman ikan ini akibat faktor ekonomi masyarakat nelayan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pengeboman ikan masih rendah," kata koordinator Susclam, Rahman Dako, Senin (7/3/2011) di Gorontalo.

Rahman menambahkan, kondisi tutupan terumbu karang di bawah 50 persen dikategorikan rusak. Kondisi lebih parah juga terjadi di perairan selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ada beberapa lokasi di perairan di sana yang tutupan terumbu karangnya kurang dari 30 persen atau rusak berat.

Anggota Komisi C DPRD Pohuwato, Ibrahim Hamzah mengatakan, pengeboman ikan sudah meresahkan nelayan lokal di Pohuwato. Selain membunuh benih ikan, pengeboman juga berdampak pada hancurnya terumbu karang di wilayah perairan tersebut. Padahal, terumbu karang menjadi sarang ikan berbagai jenis.

"Kami meminta agar polisi perairan meningkatkan operasi di wilayah kami. Sebab, pengeboman ikan sudah sangat meresahkan. Selain merusak benih, terumbu karang juga turut hancur," kata Ibrahim.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - TERUMBU KARANG TELUK TOMINI SEMAKIN RUSAK

MASYARAKAT ENGGANO MINTA DIPASANGKAN SIRINE TANDA TSUNAMI

Senin, Maret 07, 2011

ENGGANO-- Masyarakat di Pulau Enggano Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara meminta pemerintah memasang sirene peringatan dini tsunami di pulau berpenduduk lebih 2.800 jiwa itu.

"Sampai saat ini belum ada alat sirene tsunami yang dipasang di Pulau Enggano padahal sama seperti Bengkulu, daerah ini juga sering dilanda gempa bumi," kata Koordinator Kepala Suku Enggano yang disebut Pa'abuki Iskandar Zulkarnain Kauno di Enggano, Ahad.

Ia mengatakan setiap gempa besar yang melanda Bengkulu, getarannya dirasakan kuat oleh masyarakat yang tinggal di pulau berjarak 106 mil dari Kota Bengkulu itu. Untuk itu kata dia, perlu dipasang sistem peringatan dini berupa sirene tsunami untuk mengurangi risiko bencana gempa dan tsunami yang berpotensi melanda pulau itu.

"Gempa besar tahun 2000 dan 2007 juga terasa sangat kuat di Enggano, bahkan masyarakat sudah banyak yang mengungsi, padahal di sini daerah yang tinggi sangat jauh dari pemukiman penduduk," jelasnya.

Ia berharap pemerintah memprioritaskan pemasangan sirene tsunami di pulau itu, selain masyarakat tetap siaga jika sewaktu-waktu gempa bumi terjadi. Iskandar mengatakan saat ini sudah ada jalur evakuasi yang dibuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di pulau itu, bahkan masyarakat juga sudah mendapat sosialisasi dan simulasi bencana gempa bumi dan tsunami dari Palang Merah Indonesia (PMI) Bengkulu.

"Tapi alat itu tetap penting sebagai peringatan bagi masyarakat untuk melakukan penyelamatan diri sebelum bencana terjadi," katanya.

READ MORE - MASYARAKAT ENGGANO MINTA DIPASANGKAN SIRINE TANDA TSUNAMI

INDONESIA GANDENG APEC : PERDAGANGAN IKAN KARANG HIDUP BERKELANJUTAN



Salah satu isu yang disepakat dalam pertemuan APEC ketiga dan dimuat dalam Deklarasi Paracas adalah isu kelautan terhadap keamanan pangan. Salah satu jenis ikan yang permintaan mengalami peningkatan secara signifikan adalah ikan karang hidup (seperti ikan kerapu), terutama pasar internasional. Sementara itu, perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan merupakan salah satu komponen penting di dalam melaksanakan keamanan pangan. Disampaikan Dr.Gellwynn Jusuf selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan sekaligus Lead Shepherd-APEC Fisheries Working Group pada saat membuka secara resmi workshop internasional bertajuk "market-based improvement on live reef fish food trade" di Hotel Sanur Paradise, Bali hari ini (1/3).

Lebih lanjut Gellwynn menyampaikan bahwa pengaturan perdagangan ikan karang hidup harus dilakukan dengan pendekatan yang konperhensif untuk meyediakan akses masyarakat terhadap pangan, perdagangan, keamanan lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya. Keberadaan lingkungan "sehat" diyakini dapat meningkatkan populasi dan kelangsungan ikan karang. Harga ikan karang hidup di pasaran jauh lebih tinggi dibandingkan ikan sejenis yang telah diolah, bahkan ikan karang hidup dari alam lebih banyak diminati dibandingkan ikan karang hasil budidaya. Untuk itu, forum kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC) sangat berperan dalam menyelaraskan perdagangan ikan karang hidup secara lestari, mengingat sebagian besar yang terlibat dalam perdagangan ikan karang hidup adalah anggota APEC, tegas Gellwyn.

Sementara itu, Dirjen P2HP, Dr. Victor Nikijuluw dalam sambutannya yang disampaikan Sesditjen P2HP, Dr. Syafril Fauzi menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi dunia internasional dalam penyelamatan kelestarian ikan karang hidup, khususnya dalam hal pengaturan perdagangannya. Menurutnya, saat ini kelestarian perdagangan ikan karang hidup terancam karena beberapa hal, yaitu: praktek penangkapan ikan ilegal dan destruktif (bom, sianida dll), penangkapan ikan berlebih (over fishing), menangkap ikan berukuran kecil, dan tingginya permintaan ikan karang hidup dari alam serta anaknya yang setiap tahun mengalami peningkatan. Forum ini diharapkan dapat mengatur mekanisme perdagangan ikan karang hidup sehingga keberlanjutan sumberdaya ini terjaga.

Permintaan ikan karang hidup sejak tahun 1998 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini memberikan dampak serius terhadap kelestarian ikan karang hidup. Saat ini, Hongkong tercatat sebagai importir utama komoditas ikan karang hidup, dengan nilai sekitar Rp 1,4 triliun pada tahun 2008 dan Indonesia menjadi salah satu negara eksportir terbesar ke negara tersebut, yakni sebesar 25 persen atau masih dibawah Filipina yang berkontribusi sebesar 28 persen.

Penyelenggaraan workshop dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan sekretariat APEC dan organisasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF). Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (1-3 Maret 2011) dihadiri oleh 122 peserta dari 12 negara anggota APEC, yaitu: Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Thailand, Vietnam, Peru, Rusia, Filipina, Hongkong, Australia, Papua Nugini, dan Malaysia. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama dari para anggota APEC mengenai pentingnya pengelelolaan perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan, disamping bertukar pengalaman para negara anggota sehingga dapat menjadi proses pembelajaran negara lainnya.

Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, (HP. 0811836967)

Sumber : Antara News Indonesia

READ MORE - INDONESIA GANDENG APEC : PERDAGANGAN IKAN KARANG HIDUP BERKELANJUTAN

PINDAI LOKASI : HIU PAKAI SISTEM PEMETAAN MENTAL

Jumat, Maret 04, 2011

Hiu memiliki sistem navigasi internal yang memungkinkan mereka menentukan tujuan akhir dalam kurun 30 mil. Hiu juga memanfaatkan medan magnet bumi.

Ilmuwan di Florida Museum of Natural History menemukan bahwa gerakan hiu menetapkan tujuan dengan tepat melibatkan kemampuan pemindaian hiu berdasarkan memori yang tersimpan dari perjalan sebelumnya.

"Penelitian kami menunjukkan hiu memiliki penentuan lokasi dengan sangat tepat. Secara sederhana, mereka tahu harus pergi ke arah mana," ujar ilmuwan Yannis Papastamatiou. Banyak orang yang mampu berjalan dengan tujuan 3,7 hingga lima mil namun bayangkan itu terjadi pada jarak yang lebih jauh di laut pada malam hari.

“Siapapun yang sering menyelam tentu memahami bahwa berada di bawah laut tanpa kompas sangatlah sulit. Namun, kemampuan ini kami temui pada hiu harimau,” kata Papastamatiou lagi.

Hiu mampu mendeteksi 30 mil dengan melihat bentuk gerakan dari skala spasial yang berbeda. Inilah cara menggabungkan jarak dan panjang relatif secara sederhana.

Ilmuwan juga menemukan hiu dewasa memiliki kemampuan navigasi yang lebih baik dari hiu remaja. ini berarti kemampuan pemetaan tersebut dibangun sejalannya waktu.

Kekuatan indrawi hiu memang legendaris. Hewan tersebut juga mampu mendeteksi konsentrasi bahan kimia sekecil apapun dalam air, frekuensi suara rendah hingga ratusan meter serta memanfaatkan medan magnet.

Penelitian terbaru dipublikasikan di Journal of Animal Ecology.

Sumber : Inilah . Com


READ MORE - PINDAI LOKASI : HIU PAKAI SISTEM PEMETAAN MENTAL

MEMULIHKAN ALAM MELALUI WISATA BAHARI

Rabu, Maret 02, 2011


Restoran menjadi salah satu aspek penting dalam pariwisata. Destinasi wisata di daerah pesisir menjadikan bahan-bahan laut sebagai hidangan utama di restoran. Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil, Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa mengatakan selalu ada godaan untuk mengambil sumber daya laut yang berdekatan dengan pasar secara berlebihan.

"Orang yang makan tidak pernah tahu ikan dari mana dan kondisi laut bagaimana. Nelayan sebagai pengamat alam. Komoditi ikan masih bisa diproduksi secara alami misalnya seperti ikan baronang yang pertumbuhannya cepat, bisa dimanfaatkan secara lestari," ungkapnya Selasa, (1/3/2011). Hanya saja, lanjutnya, asal setiap area ikan tidak ditangkap secara berlebihan. Ia menuturkan ikan memiliki populasi optimun dan bisa diatur pengambilan ikan secara lestari.

"Laut bukan seperti tambang. Alam punya kemampuan untuk tumbuh sendiri. Kalau tidak diambil akan mati alami. Hanya saja, manusia mengambil sumber daya laut melebihi kemampuan alam untuk memproduksi," katanya. Ia menambahkan untuk meningkatkan produksi maka perlu turunkan dulu produksi.

"Tapi kita nggak pernah kasih break. Kalau kita manage kan ada istilahnya zoning. Tempat lain bisa diambil secara lestari baik jumlah maupun ukurannya. Ini perlu tindakan kolektif. Ekstraktif boleh saja, tapi diatur," ungkapnya.

Ia mengatakan untuk ikan agar jangan ambil yang masih kecil. "Cukup berikan 1 kali untuk ikan kawin sudah oke. Ikan bisa bertelur puluhan ribu. Kenapa ikan bisa habis? Karena tidak diberi kesempatan satu kali saja untuk kawin. Itu solusinya. Seringkali pikiran nelayan kalau lepas ikan kecil mikirnya besok diambil nelayan. Perlu menahan godaan secara kolektif," jelasnya.

Sebagai contoh adalah Australia. Jamaluddin mengatakan kepiting betina tidak boleh dikonsumsi di Australia. "Di Indonesia populasi kepiting turun terus. Tidak ada kepedulian untuk melestarikan laut secara action," imbuhnya. Wisata bahari, menurutnya, tidak sekadar laut yang sedap dipandang namun juga kesempatan alam untuk pulih.

READ MORE - MEMULIHKAN ALAM MELALUI WISATA BAHARI

2050, TERUMBU KARANG DUNIA "PUNAH"

Selasa, Maret 01, 2011

Eksploitasi berlebihan tanpa diikuti dengan pelestarian jangka panjang pada terumbu karang meningkatkan resiko kepunahan terumbu karang. Laporan Lembaga Sumber Daya Dunia (WRI) di Washington berikut 25 organisasi lainnya meramalkan bila kondisi itu tidak mengalami perubahan maka di tahun 2050 mendatang, terumbu karang dunia akan punah.

WRI juga menyebutkan terumbu karang yang membentang dari Samudera Hindia, Australia hingga Karibia merupakan kawasan terumbu karang yang paling bersiko punah. Di kawasan itu sebagian besar negara mengekploitasi terumbu karang guna kegiatan ekonomi konsumtif.

Jane Lubchenco, peneliti dari US National Oceanic dan Atmospheric, mengatakan perubahan iklim ditambah ancaman dari daratan seperti bergerakan lempeng bumi dan lainnya serta tekanan dari lautan berupa badai atau tsunami menyebabkan resiko signifikan terhadap keberlangsungan hidup terumbu karang." Kondisi ini mutlak membutuhkan gerak cepat terutama dalam pengurangan emisi gas rumah kaca dan karbondioksida guna mencegah situasi yang mengerikan menimpa terumbu karang," papar dia seperti dikutip Dailymail, Kamis (24/2).

WRI juga menyebut Emisi karbon dioksida dari konsumsi bahan bakar berkontribusi membuat lautan lebih asam, yang menghalangi pembentukan karang. Selain itu, suhu permukaan laut lebih hangat menyebabkan pemutihan karang.

Penyebab lainnya yang juga berbahaya bagi terumbu karang adalah aktivitas manusia seperti penangkapan ikan secara berlebihan, metode penangkapan ikan yang merusak seperti menggunakan bahan peledak atau racun, limbah kimia dari pertanian, minyak tumpah, kapal yang menyeret jangkar dan rantai di terumbu serta aktivitas pariwisata berkelanjutan.

Lebih dari 275 juta orang di dunia bertempat tinggal berjarak 18 mil dari terumbu karang. Padahal do lebih dari 100 negara, terumbu karang melindungi daratan lebih dari 93.000 mil dari garis pantai.

Laporan ini juga mengidentifikasi 27 negara - sebagian besar di Karibia, Pasifik dan samudra India - diramalkan mengalami masalah sosial dan ekonomi jika terumbu karang rusak atau hilang. Di antara 27 negara, sembilan negara seperti Komoro, Fiji, Grenada, Haiti, Indonesia, Kiribati, Filipina, Tanzania dan Vanuatu, merupakan negara dengan terumbu karang yang paling rentan punah.

Lauretta Burke, salah seorang Peneliti WRI mengatakan situasi ini merupakan ancaman sempurna. Menurut dia, situasi ini adalah fase sangat kritis bagi sistem ekologi kelautan dunia.

READ MORE - 2050, TERUMBU KARANG DUNIA "PUNAH"

RUMPON PENYEBAB SULITNYA IKAN TUNA DITANGKAP DI BITUNG

Jumat, Februari 25, 2011


Nelayan di Kota Bitung Sulawesi Utara mengeluhkan makin sulitnya menangkap ikan tuna. Hal ini berdampak pada hasil tangkapan dan keuntungan yang didapat. Menurut mereka, kesulitan mencari tuna terjadi setelah tahun 2005.

"Sebelum tahun 2005, sekali melaut bisa dapat 18 ekor. Setelah tahun 2005, paling dapatnya 7 ekor," kata Mustafa Demolingo, salah seorang nelayan di kampung Candi, Bitung yang puluhan tahun telah melaut mencari tuna.

Kesulitan berkaitan dengan berkurangnya stok ikan di wilayah tempat nelayan biasa mencari tuna. Mustafa mengatakan, "sekarang kita harus cari tuna makin jauh, lebih dari 80 mil."

Yusuf Tamara yang juga nelayan di wilayah Candi mengatakan, dahulu nelayan biasa menangkap tuna di jarak kurang dari 30 mil. "Cuma di belakang Pulau Lembeh itu (pulau dekat pantai Bitung)," ungkapnya. Waktu yang dibutuhkan untuk menangkap ikan pun lebih lama. Nelayan mengatakan bahwa saat ini diperlukan 7-10 hari. Padahal, sebelumnya hanya perlu sehari untuk mengisi penuh kapal.

Mustafa mengungkapkan, rumpon yang terdapat di laut lepas ialah biang keladi permasalahan itu. "Banyak nelayan asing pasang rumpon di Laut Maluku. Karena tuna sudah ditangkap di sana, maka tidak datang ke sini," katanya.

Rumpon adalah alat yang diciptakan oleh nelayan untuk mengumpulkan ikan di wilayah tertentu. Dalam perikanan tuna, rumpon digunakan untuk mengumpulkan cakalang, pangan tuna. Kumpulan cakalang akan menarik kawanan tuna datang sehingga lebih mudah ditangkap.

Sementara, Mustafa dan Yusuf mengatakan, umumnya nelayan asing yang dimaksud berasal dari Filipina dan Taiwan. Nelayan Filipina biasanya menangkap ikan hingga perairan Sulawesi, Maluku, Halmahera Utara dan Irian Jaya. Sementara nelayan Taiwan biasanya menangkap di perairan Arafura.

Untuk mengatasi kesulitan mendapat ikan, saat ditemui Kompas.com Kamis (24/2/2011), Mustafa mengatakan, "Pemerintah ini harus kontrol kapal-kapal asing itu. Kalau tidak diatasi ya makin susah."

Dengan berkurangnya penangkapan ikan, Yusuf mengatakan bahwa penghasilan bisa turun drastis. "Kalau sekarang ini dapatnya 10 juta per tahun rata-rata. Kalau dulu itu 10 juta per bulan," paparnya.

Nelayan Candi adalah kalangan yang menangkap tuna dengan memancing (handline). Tuna yang ditangkap oleh nelayan tersebut adalah tuna yang sedang bergerak, berada relatif lebih dekat dari permukaan air.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - RUMPON PENYEBAB SULITNYA IKAN TUNA DITANGKAP DI BITUNG

EKOWISATA MEMBANTU PELESTARIAN


Ecotourism atau ekowisata dapat membantu pelestarian hutan. Salah seorang delegasi dari Kamboja dalam acara International Youth Forum On Climate Change, di JCC Jakarta mengungkapkan hal tersebut pada sesi Komodo, Biodiversity, Climate Change, pada Kamis (24/2/2011).

"Kami punya ekowisata untuk menjaga hutan. Namun hutan ditebas untuk kebutuhan tambang," katanya.

Ia mengatakan ekowisata yang dikembangkan tersebut hanya bertahan satu tahun karena hutan diubah menjadi lahan pertambangan. Pihaknya bertahun-tahun mencoba mempengaruhi pemerintah untuk mempertahankan hutan. Tetapi, usaha ini selalu buntu.

Siti Nuramaliati Prijoni dari LIPI saat menanggapi pernyataan tersebut mengatakan bahwa permasalahan tersebut juga terjadi di Indonesia. Namun, Indonesia mempunyai regulasi yang ketat bila mengubah hutan menjadi kebutuhan lain.

"Saat ini tidak mudah untuk mengkonversi hutan menjadi fungsi lain, seperti pertambangan," kata Siti.

Ia mengaku umumnya pemerintah daerah memerlukan uang secara cepat. Sementara itu, pertambangan menghasilkan uang lebih banyak dan cepat daripada ekowisata.

Sumber : Kompas Indonesia


READ MORE - EKOWISATA MEMBANTU PELESTARIAN

TAMAN TERUMBU KARANG BUATAN - DARI PATUNG MANUSIA DI MEKSIKO

Kamis, Februari 24, 2011


Pernah tahu soal terumbu karang buatan? Kala becak tak lagi boleh beroperasi, di Jakarta pernah ada kebijakan untuk membuang becak-becak itu ke laut. Maksudnya bukan asal buang, melainkan untuk dijadikan terumbu karang buatan. Baru-baru peletakan terumbu artifisial juga dilakukan di Cancun, Meksiko. Namun, terumbu karang buatan dibuat dari patung-patung khusus.

Lebih dari 400 patung permanen telah dipasang beberapa bulan terakhir di Taman Laut Nasional Cancun, Isla Mujeres, dan Punta Nizuc sebagai bagian dari karya seni besar yang disebut "The Silent Evolution". Instalasi tersebut adalah usaha sebuah museum bawah laut baru bernama MUSA (Museo de Arte Subacuático).

Patung-patung manusia berukuran sebesar manusia itu bibuat oleh pematung Inggris yang tinggal di Meksiko, Jason deCaires Taylor. Penempatan di laut Karibia ini rencananya mencakup area seluas lebih dari 420 meter persegi.

Taylor berharap patung-patungnya bisa menggantikan terumbu karang di wilayah tersebut, yang telah rusak akibat polusi, pemanasan global, exploitasi, dll. "Masyarakat" bawah air tersebut diharapkan mampu mengalihkan perhatian lebih dari 750.000 wisatawan yang tiap tahun mengunjungi terumbu karang di situ.


"(Wisata) Itu membuat mengancam keberadaan terumbu karang yang ada," kata Taylor kepada National Geographic. "Jadi, proyek ini adalah bagian dari rencana untuk benar-benar menjauhkan orang-orang dari terumbu alami dan membawa mereka ke area terumbu buatan."


READ MORE - TAMAN TERUMBU KARANG BUATAN - DARI PATUNG MANUSIA DI MEKSIKO

PENYU LANGKA TAMPAKKAN DIRI DI SUMATERA

Rabu, Februari 23, 2011

Penyu belimbing (Dermochelys coriacea) menampakkan diri di salah satu pantai di Sumatera. Penyu belimbing adalah salah satu jenis penyu yang sangat langka dan tergolong paling terancam punah.

Khairul Amra, anggota grup konservasi lokal, Kamis (17/2/2011) mengatakan kepada AP bahwa ia menjumpai penyu itu selama akhir pekan sebelum penyu itu kembali ke air. Khairul mengatakan, ia menjumpai penyu tersebut bersama lusinan telur yang diletakkan penyu itu.

Ini untuk ketiga kalinya para ahli menjumpai penyu jenis tersebut di pantai yang sama. Penyu belimbing adalah spesies yang telah mengembara lautan selama 100 juta tahun. Namun, kini jumlah penyu belimbing hanya sekitar 30.000 ekor.

Spesies yang ditemui di Sumatera ini memiliki ukuran 3 meter, ukuran maksimal penyu jenis itu bisa tumbuh. Keberadaan spesies ini terancam oleh perburuan telur dan perikanan komersial.

READ MORE - PENYU LANGKA TAMPAKKAN DIRI DI SUMATERA

KEARIFAN LOKAL TIDAK BISA CEGAH DEGRADASI TERUMBU KARANG

Jumat, Januari 28, 2011

MAKASSAR- Degradasi terumbu karang yang saat ini masih terus berlangsung dan tidak lagi bisa diatasi hanya dengan kearifan lokal dan pengelolaan tradisional saja tanpa memahami dinamika ekologisnya.

Degradasi itu hanya dapat dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang strategis dan komprehensif berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dan terdepan (frontier of sciences), ucap Prof Dr Ir Jamaluddin Jompa, MSc dalam orasi penerimaan jabatan Guru Besar Universitas Hasanuddin di Makassar, Senin (24/1).
Dalam orasi berjudul "Terumbu karang Indonesia di tengah globalisasi dan ancaman pemanasan global" di dalam rapat Senat Terbuka Luar Biasa Unhas dipimpin Rektor/Ketua Senat Unhas Prof Dr dr Idrus A Paturusi, Jamaluddin Jompa mengatakan, terumbu karang Indonesia secara alamiah telah ditakdirkan menjadi pusat segitiga karang dunia, yang bukan hanya terluas, melainkan juga tertinggi tingkat keanekaragaman hayati lautnya di seluruh perairan laut yang ada di planet bumi ini.

"Globalisasi dan perubahan iklim adalah fakta yang tidak bisa dihindari, sehingga pengelolaan ekosistem terumbu karang pun harus merespon perubahan-perubahan peluang dan tantangan tersebut," ujar guru besar Ekologi Terumbu Karang Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas tersebut.

Dia menyebutkan, secara umum, minimal ada lima solusi yang strategis untuk pengelolaan terumbu karang Indonesia ke depan. Pertama mengurangi/mengatasi berbagai penyebab kerusakan/tekanan ekosistem. Kedua, menerapkan sistem pemanfaatan sumberdaya terumbu karang berbasis ekosistem. Ketiga, memelihara/meningkatkan ketahanan ekosistem (ecosystem resilience). Keempat, membangun jejaring kawasan konservasi laut yang berkualitas. Kelima, pengelolaan yang adaptif termasuk adaptasi perubahan iklim.

Menurut Jamaluddin, ekosistem memang dikenal sangat produktif, sehingga terumbu karang yang sehat bisa menghasilkan ikan karang yang lestari sekitar 30 metrik ton per km2/tahun. Namun demikian, akibat tekanan yang berlebihan melewati daya dukung tdua ton per km2/tahun.


"Dengan memahami dan menerapkan pemanfaatan berbasis ekologis, maka terumbu karang Indonesia yang luasnya sekitar 70.000 km2, sungguh merupakan potensi besar bagi perekeonomian nasional," kala lulusan doktor Ekologi Terumbu Karang, James Cook University, Australia 2001 tersebut.

Kemampuan ekosistem mempertahankan dan memulihkan diri dari berbagai tekanan, termasuk akibat pemanasan global, sangat tergantung dari kesehatan ekosistem terumbu karang itu sendiri. Keseimbangan bio-ekologis dari unsur-unsur pembentuk ekosistem terumbu karang merupakan salah satu kunci yang sangat penting.

Salah satu strategi pengelolaan sumberdaya perikanan internasional yang terbukti dapat menjaga keseimbangan ekologis secara efektif adalah melalui pengembangan kawasan konservasi. Keseimbangan ekologis ini terbukti memberi manfaat yang besar terhadap perbaikan dan pemulihan populasi organism terumbu karang, bukan hanya di dalam kawasan konservasi, melainkan juga di sekitar, bahkan di luar kawasan konservasi.

"Hal ini dimungkinkan karena sifat ekosistem laut yang memiliki keterhubungan yang sangat kuat antara berbagai habitat dengan jarak yang relatif jauh," kata guru besar ke-270 Unhas yang sudah menyampaikan orasi penerimaan jabatannya. (ant/hrb)

READ MORE - KEARIFAN LOKAL TIDAK BISA CEGAH DEGRADASI TERUMBU KARANG

Penyelamatan Harta Karun Kendal

Selasa, Oktober 27, 2009

Di manakah ikan berumah? Orang akan dengan mudah menjawab di laut, atau lebih umum lagi di air. Tapi di bagian manakah di laut? Banyak yang tidak menyadari atau tidak mengetahui, termasuk kaum nelayan sendiri, Tuhan menciptakan terumbu karang di laut dengan salah satu manfaatnya menjadi semacam tempat tinggal bagi ikan.

Di terumbu karang itulah, yang sebetulnya juga merupakan makhluk hidup yang terbentuk dari binatang-binatang karang atau planula yang telah mengalami proses pengerasan atau pengapuran selama bertahun-tahun, ikan-ikan bertelur dan berbiak. Tidak aneh, dari 1 km2 terumbu karang yang sehat, dapat diperoleh 20 ton ikan yang cukup untuk memberi makan 1.200 orang di wilayah pesisir setiap tahun (Burke et al., 2002).

Beruntunglah nelayan Kendal yang masih memiliki ”harta karun” kawasan terumbu karang seluas 13,7 hektar yang berada di Karang Kelop, Rome-rome, Tandes dan Karang Jahe. Untuk menyelamatkan harta karun itu, pada 11 Oktober 2009 penulis bersama tim dari Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal melakukan ”Reef Check Day”.

Lewat Reef Check Day ini, dilakukan penyelaman dan pemantauan terumbu karang yang meliputi 3 (tiga) hal utama, yaitu kondisi substrat, kondisi ikan indikator, kondisi invertebrata indikator, serta dampak aktifitas manusia terhadap terumbu karang.

Dari hasil reef check ini, pihak-pihak terkait seyogianya duduk bersama mendiskusikan tentang masa depan terumbu karang yang merupakan aset dan gantungan hidup bersama. Dalam diskusi, dibedah tentang fakta kerusakan dengan faktor-faktor penyebabnya, kemudian masing-masing sepakat siapa melakukan apa.

Penyebab Kerusakan Secara umum kehidupan terumbu karang Indonesia, memang telah cedera berat, lebih dari 71 persen dari 65.000 km persegi habitat terumbu karang Indonesia dalam kondisi rusak berat.

Padahal dari 1 km persegi habitat terumbu karang yang baik dapat menghasilkan ikan 15-30 ton per tahun. Berdasarkan perhitungan Bank Dunia, Indonesia kehilangan potensi laut Rp 6,5 triliun per tahun gara-gara kehancuran habitat penghuni dasar laut ini.

Inilah kenapa, kerusakan terumbu karang alami yang disebabkan oleh aktivitas manusia dan proses alam sendiri telah menjadi perhatian serius.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kerusakan terumbu karang alami dapat terjadi oleh beberapa sebab di antaranya, aktivitas rekreasi pantai, pengendapan lumpur, penyaluran kotoran ke laut, masuknya nutrien yang melebihi ambang batas serta oleh kelebihan tangkapan ikan suatu perairan (overfishing).

Jika spesies dan kepadatan ikan pemakan algae mengalami penurunan, maka akan berakibat pada pertumbuhan algae yang lebih cepat dan akan menutupi terumbu karang. Merangkul Nelayan Terumbu karang sangat besar perannya sebagai tempat bagi banyak spesies ikan untuk bertumbuh kembang. Menyelamatkan terumbu karang, berarti menjaga ketersediaan ikan bagi kelangsungan kehidupan.

Aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan yang banyak dilakukan nelayan, termasuk nelayan Kendal, diakui mengakibatkan terumbu karang rusak, bahkan mati. Padahal, kerusakan dan matinya terumbu karang merupakan lonceng kematian bagi spesies ikan di dalamnya.

Lihat saja pengakuan Tanoyo (55), nelayan Kendal yang kini ”dirangkul” Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, adalah satu dari sekian nelayan Kendal yang sekitar 10 tahun lalu menggunakan jaring cantrang untuk mencari ikan.

Dengan jaring cantrang, kakek satu cucu ini mengakui, hasil laut yang diperoleh jauh lebih besar daripada hanya mengandalkan alat tangkap tradisional, seperti pancing rawai.

Nelayan seperti Tanoyo memang tidak paham jika menangkap ikan menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan dapat membahayakan terumbu karang, yang berakibat mengurangi ketersediaan ikan. Bagi mereka, selama hasil tangkapan ikan melimpah, segala cara akan ditempuh.

Kesadaran pentingnya kelestarian terumbu karang yang menjadi ”rumah” bagi ratusan jenis ikan baru timbul sejak Tanoyo dirangkul sebagai ketua kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas).

Perlahan tetapi pasti, Tanoyo paham bahwa mengelola terumbu karang dengan baik dan berkesinambungan menjadi hal penting demi keberlanjutan kehidupan masyarakat Kendal yang mengandalkan hidup dari laut.

Sebagai motivator, kini Tanoyo aktif memotivasi nelayan Kendal untuk menghentikan penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan.

Kesadaran akan pentingnya kelestarian terumbu karang ditularkan Tanoyo kepada nelayan lainnya. Ya, kerja keras untuk membangun kesadaran nelayan agar terlibat dalam penyelamatan terumbu karang memang masih panjang. (35)

Joko Suprayoga, PNS di Dinas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan Kabupaten Kendal

Sumber : Suara Merdeka, edisi 16 Oktober 2009
READ MORE - Penyelamatan Harta Karun Kendal

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas