Tampilkan postingan dengan label SOSOK PEKAN INI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SOSOK PEKAN INI. Tampilkan semua postingan

DR. MOHAMMAD KASIM MOOSA DIBERI PENGHARGAAN LIPI

Rabu, September 14, 2011


Dr. Kasim Moosa

Mungkin tak banyak yang tahu nama Mohammad Kasim Moosa di Indonesia. Padahal namanya mentereng di kalangan ilmuwan biologi kelautan. Setidaknya dua artikel Kasim Moosa dan kawan-kawannya sesama peneliti biologi kelautan, terpublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Nature.

Kasim Moosa menjadi salah satu penemu Coelancanth, ikan purba yang sebelumnya diduga telah punah sejak masa Cretaceous, 65 juta tahun lalu.

Sebelum penemuan pertamanya di perairan Afrika Selatan tahun 1938, Coelancanth atau ikan berahang dianggap para ilmuwan telah punah. Kemudian diketahui ikan ini berhabitat di perairan Kepulauan Komoro, Samudera Hindia. Hingga pada tahun 1998, nelayan di perairan Manado, Sulawesi Utara, menemukan ikan yang oleh penduduk lokal setempat dinamakan ikan raja. Ikan itu secara fisik mirip dengan Coelancanth yang ada di Kepulauan Komoro.

Kasim Moosa bersama dua koleganya, Mark Erdmann dan Roy L Caldwell, mempublikasikan penemuan tersebut di Nature dengan judul artikel "Indonesian "king of the sea" Discovered.

Kasim Moosa adalah ilmuwan biologi kelautan LIPI, yang dianggap mengangkat reputasi lembaga ilmiah tertua dan terbesar di Indonesia itu di mata internasional.

Ilmuwan kelahiran Jakarta 25 Februari 1937 itu, dianugerahi penghargaan Sarwono Prawirohardjo X oleh LIPI. Penghargaan Sarwono Prawirohardjo ini merupakan ajang tahunan, dalam rangka puncak perayaan ulang tahun LIPI pada 23 Agustus.

Penghargaan ini mengambil nama Ketua LIPI pertama almarhum Prof DR Sarwono Prawirohardjo.

Senin (22/08/2011) ini Kasim Moosa tak sendiri mendapatkan penghargaan. LIPI juga menganugerahkan penghargaan yang sama terhadap mantan Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Prof DR Haryono Suyono.

Ketua LIPI Prof DR Lukman Hakim, mengatakan, kepakaran Kasim Moosa dalam biologi kelautan sungguh sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara maritime.

"Ketekunannya dalam meneliti biota laut diturunkan kepada peneliti-peneliti muda maupun murid-muridnya di Universitas Indonesia maupun Universitas Nasional," kata Lukman.

Kasim menyelesaikan program pendidikan pascasarjana hingga doctoral di Paris, Perancis. Kasim Moosa meraih gelar doktor di Universite Pierre et Marie Curie tahun 1986.

Lebih dari 73 jurnal ilmiah dia hasilkan, termasuk tiga di antaranya yang dipublikasikan di Nature. Kasim Moosa juga tercatat sebagai penemu tiga family, 11 genera, 45 spesies dari kepiting dan stomatopoda. Dia juga yang pernah menginformasikan adanya ikan fosil hidup di Biak, Papua.

READ MORE - DR. MOHAMMAD KASIM MOOSA DIBERI PENGHARGAAN LIPI

Peneliti LIPI Deny Hidayati, Salah Seorang Wanita Terinspiratif 2010

Minggu, Mei 30, 2010

Salah seorang di antara delapan penerima penghargaan Wanita Terinspiratif 2010 dari Ibu Negara Any Yudhoyono pada 30 April lalu adalah Deny Hidayati. Peneliti LIPI itu telah bekerja keras membuat buku serial pesisir-laut untuk siswa SD sampai SMA.

KETIKA menceritakan pengalamannya menerima penghargaan dari ibu negara di Plaza Senayan itu, wajah Deny Hidayati berbinar. Dia terpilih sebagai Wanita Terinspiratif kategori pendidikan.

''Saya terima kabar lewat telepon. Diberi tahu bahwa saya masuk dalam jajaran calon penerima penghargaan Wanita Terinspiratif 2010,'' katanya ketika ditemui di kantornya, Pusat Penelitian Kependudukan (P2K) LIPI, Kamis lalu (6/5). ''Saya kaget,'' tambahnya.

Wanita berambut sebahu itu sama sekali tidak menyangka menjadi salah seorang peraih penghargaan. Namun, dia bangga. Sebab, peraih penghargaan tersebut diseleksi dari 100 wanita dari seluruh wilayah di Indonesia, kemudian diciutkan menjadi 39 orang.

Penghargaan dibagi menjadi delapan kategori. Salah satunya kategori pendidikan. Informasi tersebut, kata perempuan berkacamata itu, sangat kurang. ''Kan saya juga pengen tahu, kenapa kok saya yang dipilih dari kategori pendidikan. Siapa tahu, ada yang lebih hebat dan berprestasi. Seperti yang kita tahu, populasi wanita di Indonesia itu lebih dari 50 persen,'' paparnya.

Dia mengaku minder ketika disandingkan dengan tujuh pemenang penghargaan lainnya. ''Bayangkan, ada yang berdedikasi dan punya prestasi hebat di bidang lingkungan. Ada juga seorang bidan yang concern dengan autisme. Mereka semua hebat-hebat,'' ujarnya.

Namun, Deny juga hebat. Perempuan kelahiran 11 April 1967 itu mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mengam panyekan pelestarian lingkungan, khususnya habitat dan ekosistem laut. Lewat jalur edukasi, dia beserta timnya membuat serial buku pesisir dan laut untuk tingkat SD, SMP, serta SMA. Berkat kiprahnya itu pula, tahun lalu Deny juga meraih Indonesia Berprestasi Award.

Paket bukunya yang diberi nama Serial Buku Pesisir dan Laut Kita merupakan buku pendidikan kelautan terlengkap di Indonesia saat ini. Semua buku tersebut telah divalidasi Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (Puskur Kemendiknas). ''Tujuan validasi adalah agar buku tersebut bisa diimplementasikan di sekolah-sekolah kawasan pesisir yang menjadi target kami,'' jelas Deny.

Selain menyusun buku paket, dia merancang pelatihan untuk guru-guru di kawasan pesisir. Sebab, mayoritas guru di daerah tersebut tidak punya bekal pengetahuan yang cukup tentang kelautan.

Mengapa memilih menggarap pesisir? ''Minimnya informasi dan pengetahuan tentang potensi daerah pesisir bakal berakibat pada perusakan habitat dan ekosistem laut,'' kata sarjana pertanian itu.

Perempuan 49 tahun tersebut mulai concern terhadap pendidikan wilayah pesisir pada pertengahan 1990-an. Dia bersama timnya di LIPI menggarap program nasional penyelamatan terumbu karang di Indonesia, Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program). Kala itu, yang menjadi prioritas adalah penyadaran ma syarakat (public awareness).

Deny beserta timnya giat mengampanyekan pelestarian terumbu karang lewat media. Salah satunya melalui iklan layanan masyarakat. Fase pertama Coremap selesai pada akhir 1990-an. Fase kedua tidak lagi ditangani LIPI, melainkan dialihkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. LIPI kembali melakukan fungsi penelitian dan penyedia informasi.

Berkaca pada fase pertama, wanita asli Palembang, Sumatera Selatan, itu menilai target penyadaran masyarakat cukup berhasil. Iklan layanan masyarakat besutan LIPI banyak dikenal. Bahkan, tim LIPI berhasil mendapatkan penghargaan internasional atas program public awareness tersebut.

Namun, program itu tidak memberikan efek kesadaran yang berlangsung lama. ''Waktu ada iklan, ingat. Tapi, setelah iklannya tidak tayang lagi, ya lewat begitu saja,'' ujar Deny.

Karena itu, dia memilih jalur edukasi sebagai cara paling tepat untuk membuat program penyadaran masyarakat berkesinambungan.

Alumnus The Australian National University itu membidik sekolah. ''Program akan sustained kalau masuk jaringan sekolah,'' ungkap Deny yang mempelajari ilmu ekologi manusia untuk pendidikan S-3-nya itu.

Tidak menunggu lama, begitu fase pertama program berakhir, Deny yang menjabat koordinator edukasi Coremap tersebut bersama timnya merancang program pelatihan bagi para guru di kawasan pesisir. Program itu berjalan, namun belum merata. ''Selain belum sistematis, materinya masih sporadis,'' jelas wanita yang tinggal di kawasan Benhil itu.

Dia lantas menggandeng rekan-rekannya di Pusat Penelitian Oceanografi. Sebab, Deny bukan ahli kelautan. Dia adalah seorang insinyur pertanian. Bersama rekan-rekannya, dia merancang pelatihan untuk guru dengan materi yang lebih padat serta lengkap.

Inti pelatihan pendidikan kelautan, selain materi, adalah proses pembelajaran yang menye nangkan (joyful learning). ''Jadi, kami merancang materi dan cara mengajar yang menye nangkan. Dengan demikian, murid tidak mudah bosan karena pembelajaran kebanyakan dilakukan di luar ruangan dengan memanfaatkan benda sekitar,'' paparnya.

Setelah paket pelatihan guru, Deny langsung beralih pada paket buku yang digunakan para murid. Awal 2000, dia mulai membuat buku. Agar bisa diimplementasikan di sekolah, buku-buku tersebut divalidasi oleh Puskur Kemendiknas.

Pada 2006, Deny dan timnya me-launching paket serial Buku Pesisir dan Laut Kita untuk tingkat SD lengkap dengan buku panduan gurunya. Disesuaikan dengan usia anak SD, buku itu dibuat semenarik mungkin de ngan warna-warna cerah serta ilustrasi yang beragam. Dua tahun kemudian, giliran paket buku SMP dan SMA dirilis. Pada 2010, Deny merilis buku-buku tambahan semacam glossary.

Semua buku tersebut bisa diperoleh secara gratis, tapi khusus untuk daerah pesisir. ''Untuk Indonesia Timur, ada tujuh kabupaten, sedangkan di Indonesia Barat delapan kabupaten. Semua sudah mendapat pelatihan dan menerima paket buku tersebut,'' jelasnya.

Kini, paket buku itu diserahkan sepenuhnya kepada Kemendiknas. Paket buku tersebut tidak dijual bebas. Karena itu, Deny berharap ada tindak lanjut dari Kemendiknas. ''Ya mungkin diterbitkan dalam bentuk e-book atau semacamnya,'' katanya.

Deny bersyukur kini mulai banyak sekolah di kawasan pesisir yang mengajukan permohonan pelatihan pendidikan kelautan. Bahkan, di beberapa kabupaten, pendidikan kelautan sudah menjadi mata pelajaran muatan lokal. ''Saya yakin, ke depan semakin banyak kaum akademisi di kawasan pesisir yang sadar akan kebutuhan edukasi tentang kelautan,'' ujarnya. (*/c5/cfu)

Source : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=132854




READ MORE - Peneliti LIPI Deny Hidayati, Salah Seorang Wanita Terinspiratif 2010

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas