INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

Rabu, September 21, 2011


Penyelam menikmati alam bawah laut perairan Pulau Sanghiang, Serang, Banten, Sabtu (10/4). Pesona terumbu karang yang masih cukup baik di perairan tersebut menarik wisatawan bahari dari wilayah Jabodetabek untuk menyelam pada akhir pekan.

Indonesia merupakan salah satu pusat biodiversity atau keanekaragaman hayati dunia, salah satunya ditandai dengan besarnya jenis spesies di laut. Namun berapa spesies yang sebenarnya ada di laut Indonesia dan apa saja? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan inventarisasi keanekaragaman hayati laut itu sendiri.

Prof Dr Suharsono, Ketua Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia, yang juga peneliti di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, untuk mampu menginventarisasi keragaman hayati itu, kebutuhan utamanya adalah taksonom kelautan. Sayangnya jumlha taknsonom kelautan di Indonesia masih sangat minim.

"Dibutuhkan minimal 45 taksonom kelautan. Tiap kelas dalam satu taksa harus ada yang menangani. Idealnya dalam satu ordo ada satu taksonom," kata Suharsono dalam Kongres dan Seminar Taksonomi Kelautan Indonesia I yang berlangsung hari ini, Selasa (20/9/2011) di Jakarta.

Sejumlah taksonom tersebut diharapkan mampu meneliti beragam taksa makhluk hidup laut, seperti bakteri, firaminifera, porifera, crustacea, mollusca, echinodermata, coelenterata dan beragam jenis tumbuhan laut serta mangrove. Menurut Suharsono, masih banyak biota laut yang kini masih belum diteliti.

"Bakteri laut ini sudah banyak yang meneliti tetapi secara taksonomi belum banyak. Algae juga masih sedikit. Jenis Bryozoa dan Cetacea juga masih belum banyak," katanya.
Suharsono menjelaskan, beberapa strategi tengah dirancang untuk memenuhi kebutuhan taksonom. Salah satunya lewat edukasi. Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Suharsono, tahun ini mulai menyelenggarakan jurusan taksonomi setelah mendapat lampu hijau dari DIKTI.

Strategi lain yang ditempuh adalah advokasi pada pemerintah untuk membangun reference collectionkelautan, membentuk jaringan taksonomi dengan memanfaatkan universitas yang ada, kerjasama dengan lembaga internasional serta melakukan ekepedisi.

"Ke depan taksonom Indonesia harus jadi author dalam penamaan spesies. Saat ini banyak yang terlibat penelitian taksonomi tetapi belum menjadi author," kata Suharsono. Menjadi author berarti nama taksonom tercantum dalam nama spesies, seperti Linnaeus yang diterakan pada banyak spesies.

Saat ini, jumlah peneliti Indonesia yang terlibat dalam penelitian taksonomi adalah 20-30an. Namun, hanya 3 peneliti yang bisa dikatakan sebagai taksonom. Peluang menjadi taksonom di negeri yang kaya akan keanekaragaman hayati ini masih sangat besar.


READ MORE - INDONESIA BUTUH MINIMAL 45 TAKSONOM KELAUTAN

SOSOK IKAN PREDATOR YANG HIDUP 375 JUTA TAHUN YANG LALU

Selasa, September 20, 2011

Fosil ikan predator Laccognathus embryi.

Kurator pada Academy of Natural Sciences di Philadelphia, Amerika Serikat, Edward Daeschler, Selasa (13/9/2011), menyampaikan hasil analisis terhadap fosil Laccognathus embryi, fosil ikan predator yang ditemukan 10 tahun lalu di perairan Amerika Utara.

"Saya tidak akan berenang atau melintasi di dekat ikan itu bersembunyi," kata Daeschler. Fosil menunjukkan panjang ikan 1,5-1,8 meter, dengan kepala yang melebar, mata kecil, rahang kuat, dan gigi tajam.

Daeschler menganalisis, jenis ikan ini bersembunyi di lantai dasar perairan untuk menanti mangsa. Ikan tersebut diperkirakan hidup 375 juta tahun lalu di sekitar Pulau Ellesmere, Arktik, Kanada. Di kawasan tersebut pernah ditemukan fosil Tiktaalik roseae, transisional dari hewan darat menjadi ikan di perairan.

"Keduanya sama-sama predator dan bersaing untuk mendapatkan mangsa," kata Jason Downs, yang juga penulis di Academy of Natural Sciences. Paparan Daeschler ini menjadi puncak analisis terhadap temuan fosil Laccognathus embryi tersebut.

Sumber : LIVE SCIENCE



READ MORE - SOSOK IKAN PREDATOR YANG HIDUP 375 JUTA TAHUN YANG LALU

REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA


The Climate Reality Project yang didirikan mantan Wakil Presiden AS, Al Gore, menyelenggarakan kampanye tentang realitas krisis iklim secara global dalam 24 jam.
Setiap satu jam akan dilakukan presentasi. Secara total, presentasi ini dilakukan oleh 24 presenter, di 24 zona waktu, dalam 13 bahasa, dengan 1 pesan utama.

Para penyaji akan melakukan presentasi dengan wahana multimedia yang dibuat oleh Al Gore. Mereka akan mengungkap realitas krisis iklim ekstrim yang mereka alami, berupa bencana-bencana seperti banjir, kekeringan, dan badai.

Juga akan diungkapkan apa kaitan antara bencana tersebut dengan polusi akibat aktivitas manusia yang telah mengakibatkan perubahan iklim. Semua presentasi akan dilakukan tepat pukul 19.00 waktu setempat.

Rantai presentasi tersebut dimulai dari Mexico City, Meksiko, Boulder di Colorado, AS, Victoria (Australia), Kotzebue (Alaska), Polinesia (di bawah Perancis), Hawai (AS), Tonga di Laut Pasifik Selatan, Auckland (Selandia Baru), Pulau Solomon, Canberra (Australia), Seoul (Korea Selatan), Beijing (China), dan di urutan ke-13 adalah Jakarta.

Di Jakarta, presentasi dilakukan oleh Charles Wirawan yang telah bergabung dengan The Climate Reality Project Indonesia sejak tahun 2009, dulu namanya adalah The Climate Project.
Sejak Al Gore menyajikan film The Inconvenient Truth tahun 2006, sejak itu pula muncul kontroversi apakah perubahan iklim benar terjadi. Untuk itu, The Climate Reality Project menjawabnya dengan presentasi tersebut. Di lokasi -lokasi tempat presentasi dilangsungkan, memang sungguh terjadi dampak dari krisis iklim.

Jakarta misalnya, merupakan lokasi yang sering dilanda banjir yang semakin lama semakin parah, sementara Beijing kini semakin terancam oleh krisis air. Sementara sekitar 30 juta penduduk China diperkirakan pada tahun 2020 harus menjadi pengungsi akibat krisis air.
Presentasi 24 jam global ini, akan membuka mata warga dunia tentang realitas terjadinya krisis iklim. "Pihak-pihak yang menyangkal terjadinya krisis iklim memang memiliki uang, namun kami memiliki realitas," ungkap Presiden dan Direktur Eksekutif The Climate Reality Project Maggie L Fox.

Sementara Al Gore menegaskan, dalam krisis iklim tidak ada batas politik. Badai yang mengerikan dan panas yang mematikan terjadi dengan frekuensi tinggi di seluruh dunia. Pertanyaan satu-satunya adalah seberapa cepat kita bisa beraksi? (The Climate Reality Project/Brigitta Isworo Laksmi)


READ MORE - REALITAS IKLIM 24 JAM DI DUNIA

DR. MOHAMMAD KASIM MOOSA DIBERI PENGHARGAAN LIPI

Rabu, September 14, 2011


Dr. Kasim Moosa

Mungkin tak banyak yang tahu nama Mohammad Kasim Moosa di Indonesia. Padahal namanya mentereng di kalangan ilmuwan biologi kelautan. Setidaknya dua artikel Kasim Moosa dan kawan-kawannya sesama peneliti biologi kelautan, terpublikasikan di jurnal ilmiah bergengsi Nature.

Kasim Moosa menjadi salah satu penemu Coelancanth, ikan purba yang sebelumnya diduga telah punah sejak masa Cretaceous, 65 juta tahun lalu.

Sebelum penemuan pertamanya di perairan Afrika Selatan tahun 1938, Coelancanth atau ikan berahang dianggap para ilmuwan telah punah. Kemudian diketahui ikan ini berhabitat di perairan Kepulauan Komoro, Samudera Hindia. Hingga pada tahun 1998, nelayan di perairan Manado, Sulawesi Utara, menemukan ikan yang oleh penduduk lokal setempat dinamakan ikan raja. Ikan itu secara fisik mirip dengan Coelancanth yang ada di Kepulauan Komoro.

Kasim Moosa bersama dua koleganya, Mark Erdmann dan Roy L Caldwell, mempublikasikan penemuan tersebut di Nature dengan judul artikel "Indonesian "king of the sea" Discovered.

Kasim Moosa adalah ilmuwan biologi kelautan LIPI, yang dianggap mengangkat reputasi lembaga ilmiah tertua dan terbesar di Indonesia itu di mata internasional.

Ilmuwan kelahiran Jakarta 25 Februari 1937 itu, dianugerahi penghargaan Sarwono Prawirohardjo X oleh LIPI. Penghargaan Sarwono Prawirohardjo ini merupakan ajang tahunan, dalam rangka puncak perayaan ulang tahun LIPI pada 23 Agustus.

Penghargaan ini mengambil nama Ketua LIPI pertama almarhum Prof DR Sarwono Prawirohardjo.

Senin (22/08/2011) ini Kasim Moosa tak sendiri mendapatkan penghargaan. LIPI juga menganugerahkan penghargaan yang sama terhadap mantan Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Prof DR Haryono Suyono.

Ketua LIPI Prof DR Lukman Hakim, mengatakan, kepakaran Kasim Moosa dalam biologi kelautan sungguh sangat dibutuhkan Indonesia sebagai negara maritime.

"Ketekunannya dalam meneliti biota laut diturunkan kepada peneliti-peneliti muda maupun murid-muridnya di Universitas Indonesia maupun Universitas Nasional," kata Lukman.

Kasim menyelesaikan program pendidikan pascasarjana hingga doctoral di Paris, Perancis. Kasim Moosa meraih gelar doktor di Universite Pierre et Marie Curie tahun 1986.

Lebih dari 73 jurnal ilmiah dia hasilkan, termasuk tiga di antaranya yang dipublikasikan di Nature. Kasim Moosa juga tercatat sebagai penemu tiga family, 11 genera, 45 spesies dari kepiting dan stomatopoda. Dia juga yang pernah menginformasikan adanya ikan fosil hidup di Biak, Papua.

READ MORE - DR. MOHAMMAD KASIM MOOSA DIBERI PENGHARGAAN LIPI

TERUMBU KARANG DIPERKIRAKAN MUSNAH 30 TAHUN KE DEPAN


Perubahan iklim, penyebaran zat kimia berbahaya di laut yang disertai oleh penangkapan ikan berlebih, pembangunan di kawasan pesisir pantai, dan juga polusi, akan menghancurkan terumbu karang setidaknya dalam waktu 30 tahun ke depan.

Sebagai gambaran, bleaching, atau kasus memutihnya terumbu karang dari aslinya yang berwarna warni cerah akibat perubahan iklim yang terjadi di Samudera India pada tahun 1998 lalu telah menghancurkan 16 persen terumbu karang dunia dalam waktu beberapa pekan saja.

“Kita telah menghapus banyak spesies dalam beberapa tahun belakangan. Namun kali ini, untuk pertama kalinya kita akan benar-benar mengeliminasi seluruh ekosistem,” sebut Peter Sale, ekolog kelautan dari United Nations University dalam bukunya Our Dying Planet: An Ecologist’s View of the Crisis We Face yang baru dipublikasikan.

Meski hanya menguasai luas sebesar 0,1 persen dari seluruh kawasan samudera, namun terumbu karang merupakan bagian yang sangat penting karena keanekaragaman mereka yang sangat luar biasa, jauh lebih kaya dibandingkan dengan keanekaragaman makhluk hidup di hutan hujan.

Sayangnya, terumbu karang juga sangat ringkih, dan sedikit pun perubahan yang terjadi di samudera akan menyebabkan ganggang yang merupakan makanan karang tersebut menjadi musnah. Dan meski ada mikroorganisme karang kecil yang mampu bertahan akibat kehancuran total terumbu karang, hilangnya terumbu karang seringkali menjadi sinyal akan timbulnya kejadian pemusnahan massal. “Hilangnya spesies yang saat ini terjadi dalam berbagai sisi sama dengan kejadian pemusnahan massal yang terjadi di masa lalu,” ucap Sale.  

READ MORE - TERUMBU KARANG DIPERKIRAKAN MUSNAH 30 TAHUN KE DEPAN

CAPIT KEPITING JANTAN LEBIH SEKSI

Selasa, September 13, 2011

  

Capit kepiting merupakan alat mencari mangsa sekaligus pertahanan untuk bersaing dengan kepiting lainnya. Tidak hanya itu, ukuran capit pun menentukan keunggulannya menarik lawan jenis. Tidak harus dengan capit asli, dengan capit buatan pun asal besar menarik perhatian kepiting betina.

Hal itu diberitakan pada 13th Congress of The European Society for Evolutionary Biology. Peneliti mengganti capit kepiting dengan robot dan mencoba menarik perhatian betina dan terbukti bisa.
Menurut penelitian, dengan melambaikan capit robotnya, kepiting betina akan lebih tertarik kepada pejantan. Peneliti mengevaluasi tentang bagaimana ukuran dan kecepatan dari lengan robot ini berpengaruh terhadap lingkungan sekitar, khususnya kegunaannya untuk berkembang biak.

Sophie Callander dari Australian National University mengungkapkan, "Saat ada betina datang, mereka langsung tertarik dengan warna kuning dari capit robot tersebut. Kami menggunakan capit yang dapat diatur secara sepenuhnya yang disebut dengan Robocrab."

Tiga Robocrab mengelilingi si betina untuk dapat mengukur perbedaan dari kecepatan lambaian dan ukuran capit yang dimiliki pejantan. Betina kemudian mendekati pejantan dengan capit terbesar serta tingkat gelombang lambaian yang lebih tinggi.

Selain untuk menarik perhatian, capit yang besar berfungsi untuk melindungi kerabatnya yang lebih kecil. "Hal itu terjadi karena dengan tingkat pertahanan yang lebih besar, maka tingkat keberhasilan perkawinan mereka pun akan semakin tinggi," jelas Callander.

Kepiting yang menjadi percobaan adalah jenis Uca mjoebergi yang hidup di Australia Utara. Para betina akan tertarik kepada pejantan yang menari dan memamerkan ketangguhan capit mereka. Lambaian capit pejantan akan menarik betina yang kemudian masuk ke liang pasir dan tinggal untuk kawin.

READ MORE - CAPIT KEPITING JANTAN LEBIH SEKSI

SPESIES HIU BARU, DITEMUKAN DI PASAR IKAN




William White Spesies hiu baru, Squalus formosus, ditemukan di pasar ikan di Taiwan

Spesies baru hiu ditemukan ilmuwan di pasar ikan Tashi, Taiwan. Ini mungkin bukan hal yang biasa, juga bukan pertama kalinya. Sebelumnya, spesies hiu baru juga pernah ditemukan di pasar ikan Indonesia pada tahun 2007.


William White dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization di Australia mengatakan bahwa nama spesies baru itu adalah Squalus formosus. Spesies yang ditemukan memiliki panjang 1 meter dan hidung pendek seperti dogfish. Selain spesies tersebut, White juga menemukan spesies lain dari genus Squalus.

Jenis Squalus formosus berbeda dengan lainnya karena karakteristik sirip tegak di bagian belakang, tulang yang kuat, serta kepala yang pendek dan bulat. Penemuan spesies ini adalah hasil penelitian mengoleksi ikan di pasar ikan secara sengaja. "Kami mengoleksi beberapa materi dan melihat apakah ada perbedaan dengan hiu yang ditangkap dari dekade sebelumnya," kata White seperti dikutip National Geographic, Kamis (1/9/2011).

Menurut White, spesies hiu ini tertangkap oleh nelayan sebagai hasil by catch (tangkapan sampingan) dari perikanan. Di pasar ikan, tak banyak orang yang mengenali perbedaan ciri spesies baru hiu ini dengan hiu lainnya. Soal, rasa, belum bisa diketahui sebab peneliti belum mencicipinya.

"Spesies dari golongan yang sama di Indonesia dikeringkan dan diasinkan untuk konsumsi manusia, sementara siripnya digunakan untuk bahan baku sup. Namun, hal ini tak langsung merefleksikan apa yang terjadi di Taiwan," kata White.

White mengatakan, saat ini diketahui bahwa spesies hiu baru ini hanya tersebar di Taiwan dan Jepang. Kemungkinan untuk ditemukan di wilayah lain sangat kecil sebab genus Squalus umumnya memiliki persebaran yang sempit.

White menambahkan, mengetahui jangkauan persebaran spesies sangat penting sehingga "kesehatan" populasi suatu spesies dapat diketahui. Pada hiu, pemantauan perlu dilakukan sebab merupakan salah satu jenis yang paling diburu dan berpotensi by catch tinggi.

Penemuan spesies ini dipublikasikan di Journal of Fish Biology, Jumat (26/8/2011). Hiu adalah spesies dengan tingkat reproduksi yang tergolong rendah sehingga akan sangat rentan karena overfishing. "Jadi, secara pribadi saya memilih untuk tidak memakannya," katanya. 



READ MORE - SPESIES HIU BARU, DITEMUKAN DI PASAR IKAN

MENGELOLA DAYA LENTING TERUMBU KARANG DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Kamis, Agustus 25, 2011

Meningkatnya ancaman terhadap terumbu karang di regional Bali dan Lombok, khususnya terkait Perubahan Iklim menuntut para pengelola terumbu karang berpacu dengan waktu dalam pengelolaan terumbu karang di daerah kelola terumbu karang masing-masing. Pada kesempatan ini para pengelola belajar untuk menggunakan faktor-faktor kelentingan terumbu karang dalam pertimbangan pengelolaan terumbu karang. Hal itulah yang dipelajari pada materi “Workshop Kelentingan Terumbu Karang dan Perubahan Iklim”, di Amed – Bali.

Workshop yang diadakan pada tanggal 27-29 Juli 2011 ini diselenggarakan oleh Reef Check Indonesia (RCI) berkolaborasi The Coral Reef Alliance (CORAL), The Nature Conservancy (TNC) dan National Atmospheric Administration (NOAA) Coral Reef Watch Program.

Peserta berasal dari perwakilan 2 (dua) regional Kawasan Segitiga Karang, regional Bali dan regional Lombok. Masing-masing diwakili oleh daerah terumbu karang Buleleng (Bali Utara), Karangasem (Bali Timur) dan Gili – Lombok. Tujuan dari workshop ini ialah memperlengkapi kapasitas para pengelola terumbu karang untuk mengimplementasikan secara praktis strategi pelestarian dengan melibatkan pertimbangan daya lenting kawasan.

Nyoman Sugiartha, peserta dari Bali Utara (Daerah Pengelolaan Laut – Bondalem), menyatakan bahwa workshop ini menyediakan kesempatan yang langka dan sangat berharga baginya untuk bisa bertukar pengalaman dan pembelajaran dengan peserta dari kawasan terumbu yang lain. “Mendengar bagaimana pengelolaan terumbu di Gili – Lombok oleh Gili Ecotrust bersama BKKPN. Hal itu semakin memotivasi saya untuk memulai hal serupa di tempat saya”, jelas pria yang juga berprofesi sebagai Pecalang Segara dan Kepala Keamanan sebuah Bungalow ini.

Selama 2 hari peserta diajak untuk bertukar pikiran dan pengalaman mengelola terumbu karang. Kombinasi antara presentasi, sharing dan kerja kelompok membuat para peserta bebas untuk memberi masukan bagi pengelolaan terumbu yang tepat. ” Untuk sebuah masalah dalam pengelolaan, saya mendapat banyak masukan dan ilmu dari teman-teman dari daerah lain, walaupun strategi/pendekatan pengelolaan yang dilakukan dalam menanganinya cenderung bervariasi antara wilayah satu dengan yang lain” jelas Ketut Anis ”Tetapi itu (masukan dan ilmu dari tempat lain) adalah hal yang sangat berharga bagi kami”.

Materi disampaikan oleh Derta Prabuning (RCI), Naneng Setiasih (CORAL Coral Triangle), dan Jensi Sartin (RCI – Direktur). Materi yang disampaikan bervariasi mulai dari teori iklim dan pemutihan karang, peringatan dini, praktikal implementasi hingga bagaimana mengkomunikasikan kepada publik.

Hal menarik dan yang membedakan workshop ini ialah kehadiran peserta yang bukan ber-latar-belakang disiplin ilmu Kelautan, Biologi, Ekologi maupun Terumbu Karang. Mereka adalah Praktisi Lapangan, Nelayan, dan tidak jarang mereka adalah Pecinta Terumbu Karang yang tidak berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Kondisi ini bukannya membuat workshop tidak kondusif, tetapi malah menambah arti pentingnya melibatkan semua sektor dan kalangan masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang di daerah kelola terumbu karang masing-masing.

Sumber : Go Blue Indonesia

READ MORE - MENGELOLA DAYA LENTING TERUMBU KARANG DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

PENYAKIT MANUSIA MULAI MENULARI TERUMBU KARANG

White Pox Desease - Pada Terumbu Karang

Berbagai penyakit seperti HIV/AIDS dan flu burung awalnya berasal dari kehidupan liar kemudian menular ke manusia. Namun dalam kasus terbaru, penyakit manusia justru menulari kehidupan liar dan membunuh salah satu spesies terumbu karang.

Baru-baru ini, para ilmuwan dari University of Georgia mengungkap penyebab kematian spesies terumbu karang Tanduk Rusa (Elkhorn) di perairan Karibia. Penyebabnya adalah bakteri Serratia marcescens yang lebih sering ditemukan di tubuh manusia.

Pada manusia, bakteri ini merupakan pemicu berbagai masalah infeksi seperti di salurahn napas, luka terbuka dan saluran kemih. Bakteri ini menyebar dan menulari manusia lain melalui kotoran dan air kencing dari orang-orang yang sudah terinfeksi.

Salah seorang ilmuwan yang terlibat dalam penelitian itu, James Porter mengatakan bahwa selama ini infeksi bakteri Serratia marcescens hanya terjadi pada manusia. Karena itu sangat mengejutkan jika ternyata bakteri ini juga menjangkiti terumbu karang Tanduk Rusa.

Porter mengatakan, bakteri Serratia marcescens menyebabkan penyakit White Pox pada terumbu karang Tanduk Rusa dan menyebabkan kematian. Infeksi bakteri ini ditandai dengan munculnya bercak keputihan, yang lama-kelamaan membuat jaringan terumbu karang berlubang dan kelihtan rangkanya.

Penyebab infeksi White Pox pada terumbu karang dipastikan berasal dari manusia, karena bakteri Serratia marcescens tidak ditemukan pada spesies makhluk hidup yang lain. Bahkan menurut Porter, siput-siput perusak terumbu karang tidak memiliki bakteri ini.

Diyakini, bakteri ini ditularkan oleh manusia ke terumbu karang melalui kotoran dan air kencing. Di kepulauan sekitarnya, sanitasi dan saluran pembuangan kotoran tidak terkelola dengan baik sehingga mencemari perairan dan akhirnya menulari terumbu karang.

Berdasarkan pemuan itu, Porter menyimpulkan bahwa penyakit pada manusia turut memicu kerusakan terumbu karang yang mencapai 50 persen dalam 15 tahun terakhir. Dikutip dari LiveScience, Senin (22/8/2011), laju kerusakan paling tinggi dialami terumbu karang Tanduk Rusa yakni 90 persen.

Terumbu karang Tanduk Rusa atau Elkhorn merupakan spesies terumbu karang yang ukurannya sangat besar dan bisa tumbuh hingga mencapai 2 meter. Sesuai namanya, bentuknya sangat mudah dikenali karena memiliki banyak cabang dan melebar seperti tanduk rusa.

READ MORE - PENYAKIT MANUSIA MULAI MENULARI TERUMBU KARANG

SULAWESI HARUS JADI PRIORITAS UTAMA KONSERVASI

Rabu, Agustus 24, 2011

Sulawesi harus jadi prioritas tertinggi dalam konservasi di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh guru besar matematika dan ekologi University of Queensland, Hugh Possingham, dalam kuliah umum bertajuk "The Business of Biodiversity : Decision Science for Conservation Problem", Selasa (16/8/2011) di Kedutaan Australia, Jakarta.

"Indonesia harus mengkaji prioritas konservasinya. Tapi berdasarkan analisis, saya merekomendasikan bahwa Sulawesi harus menjadi prioritas tertinggi dalam konservasi," ungkap Possingham.

Possingham mengatakan, Sulawesi menjadi yang paling utama sebab termasuk dalam kawasan Wallacea. Kawasan Wallacea memiliki keanekaragaman hayati yang kaya, baik di darat maupun lautannya dan relatif belum banyak diperhatikan dibanding Sumatera dan Kalimantan.

Biodiversitas di Sulawesi menurutnya juga penting bagi dunia. Lebih lanjut, Possingham menuturkan, pemilihan Sulawesi bukan berarti mengabaikan masalah yang terjadi di pulau-pulau lain. Namun, dengan budget yang terbatas, pemilihan lokasi memang harus dilakukan sehingga bisa mendapat manfaat tertinggi dalam konservasi serta meminimalkan alokasi budget di tempat yang kurang perlu.

"Setelah Sulawesi, prioritasnya Jawa dan Bali, lalu Borneo dan wilayah Peninsular Malaysia," kata Possingham yang juga Direktur Australian Research Council Center of Excellence for Environmental Decision.

Possingham menggarisbawahi, prioritas konservasi yang dikembangkannya didasarkan pada perhitungan matematis yang melihat tiga faktor, jumlah spesies endemik yang ada di wilayah tertentu, budget yang harus dikeluarkan serta kemungkinan kesuksesan program konservasi. Scoring tiap wilayah kemudian dihitung dan hasilnya menyatakan prioritas wilayah.

Perhitungan matematis yang dikembangkan Possingham tidak hanya berguna untuk penetapan lokasi prioritas, tetapi juga spesies prioritas yang mesti diselamatkan. Ia mengatakan, banyak program konservasi saat ini yang menaruh perhatian pada spesies yang paling terancam punah, padahal pendekatan itu tak selalu tepat. Possingham percaya, perhitungan matematis sangat penting dalam konservasi.

"Ini seperti menjadwalkan kereta api, kalau tak memakai matematika, maka akan terlewat dan takkan berjalan," pungkasnya.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - SULAWESI HARUS JADI PRIORITAS UTAMA KONSERVASI

PROF POSSINGHAM BERIKAN KULIAH UMUM

Keanekaragaman hayati Taman Nasional Danau Sentarum di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, hingga kini masih jadi incaran peneliti.

Kedutaan Besar Australia dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menyelenggarakan kuliah umum oleh Profesor Possingham, Selasa (16 /8/2011), dengan tajuk "Bisnis Keanekaragaman Hayati: Ilmu Keputusan Masalah Konservasi".

Kuliah umum ini merupakan salah satu bagian dari rencana kunjungan ke Indonesia oleh ilmuwan besar Profesor Hugh Possingham pada 15-16 Agustus 2011.

Demikian siaran pers dari Kedutaan Besar Australia yang diterima Kompas, Senin (15/8/2011) pagi.

Possingham akan memberikan kuliah dan diskusi dengan anggota masyarakat ilmu pengetahuan Indonesia, pejabat pemerintah, dosen dan mahasiswa tentang ilmu konservasi dan alokasi dana. Possingham adalah profesor Ekologi dan Matematika di Universitas Queensland, anggota dewan Akademi Ilmu Pengetahuan Australia, dan Direktur Pusat Unggu lan Keputusan Lingkungan Hidup di Dewan Penelitian Australia.

"Saya yakin kunjungan Profesor Possingham akan memberi inspirasi kepada para ilmuwan dan pembuat kebijakan konservasi Indonesia untuk terus melanjutkan karya besar mereka dalam bida ng mereka masing-masing. Kunjungan tersebut juga akan menawarkan kesempatan yang baik kepada ilmuwan Australia dan Indonesia untuk memperdalam pengetahuan mereka dan bertukar gagasan tentang kesempatan-kesempatan penelitian lebih lanjut," ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty.

Profesor Sangkot Marzuki, Direktur Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, yakin kunjungan dan kuliah Possingham akan memperkukuh hubungan dan kerja sama penelitian antara Indonesia dan Australia. Kunjungan Possingham ke Indonesia adalah bagian dari program Seri Pembicara Internasional di Asia yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Australia.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - PROF POSSINGHAM BERIKAN KULIAH UMUM

LINDUNGI HIU PAUS DI TELUK CENDERAWASIH

Hiu paus (Rhincodon typus) di perairan Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua, harus dilestarikan dengan mengategorikan sebagai satwa dilindungi. Pemerintah jangan terlambat mengantisipasi punahnya hiu paus yang terlihat sepanjang tahun di Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih (TNTC) Djati Witjaksono Hadi, hiu paus atau biasa disebut gurano bintang oleh masyarakat lokal termasuk satwa air yang hanya ditemui di perairan Papua, Filipina, Australia, dan Afrika Selatan. Hiu ini beberapa kali terlihat di Sabang, dan Selat Madura, tetapi tak sepanjang tahun.

"Hiu ini bermigrasi mencari tempat makan dan bertelur. Namun, di perairan Kwatisore, Nabire, selama tiga tahun kami mengamati, hiu paus selalu terlihat. Tidak seperti di Australia yang hanya terlihat saat musim panas," kata Djati, Selasa (9/8/2011).

Hiu paus diperkirakan ada sejak 60 juta tahun lalu. Ia mampu hidup sampai umur 150 tahun dengan panjang hingga 14 meter. Hiu yang dijuluki hiu bodoh, karena jinak dan tidak agresif, memasuki usia subur pada umur 30 tahun. Reproduksinya relatif lambat dibandingkan dengan ikan lain. TNTC mencatat, tahun 2011, ada sekitar 40 hiu paus di perairan Teluk Cendrawasih.

Pemerintah perlu meningkatkan status perlindungan hiu paus. Saat ini, perlindungan hanya mengacu International Union for the Conservation of Nature dan Resources bahwa hiu paus adalah satwa yang rentan.

Pemerintah Indonesia, kata Djati, harus mencantumkan hiu paus sebagai satwa dilindungi dan memasukkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa. "Saat ini sedang dibahas di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan Konservasi Alam, dan menunggu uji ilmiah LIPI," kata Djati.

Makanan utama hiu paus adalah ikan puri dan plankton. Tidak seperti hiu lain yang memiliki gigi tajam, hiu ini hanya memiliki gigi halus di ujung bibir. Ia menyedot air laut dan menjaring ikan kecil yang masuk.

Keberadaan hiu paus sepanjang tahun adalah peluang bagi sektor pariwisata Papua. Di Kwatisore, hiu-hiu ini berenang di sekitar bagan ikan milik nelayan. Dengan melempar ikan puri, hiu paus naik ke permukaan air. Adapun di Australia, wisatawan harus menunggu waktu tertentu dan hiu paus digiring lebih dulu agar bisa ditonton.

Djati berharap masyarakat diberdayakan dan menikmati manfaat hiu paus. Daya tarik wisata yang ditawarkan kepada turis adalah menyelam dan snorkeling menikmati keindahan hiu paus sambil memberi makan.

READ MORE - LINDUNGI HIU PAUS DI TELUK CENDERAWASIH

ILMUWAN TEMUKAN FOSIL HIDUP BERUMUR 200 JUTA TAHUN

Senin, Agustus 22, 2011

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.


Ahli biologi melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Seperti dikutip dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba, Jepang.

Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.

Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.

Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang 6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.

Menurut penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini masih cukup luas.

Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun.

READ MORE - ILMUWAN TEMUKAN FOSIL HIDUP BERUMUR 200 JUTA TAHUN

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas