Terumbu Karang Buatan ITS Redam Erosi

Minggu, Oktober 03, 2010

Terumbu karang buatan selama ini dirancang untuk ekosistem ikan, namun berbeda dengan terumbu karang buatan Peneliti Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS Surabaya Dr Ir Haryo Dwito Armono, M.Eng. Haryo mengungkapkan bahwa terumbu karang buatan yang telah ditelitinya sejak 1999 dibuat multifungsi, yaitu menciptakan ekosistem ikan dan juga untuk mengurangi erosi.

Karena fungsinya yang dapat mengurangi erosi itu, maka Haryo dan timnya telah mengadakan uji coba laut yang tidak dalam. Hasil uji coba terumbu karang buatan berbentuk kota di Tuban dan berbentuk silinder di Situbondo menunjukkan bahwa terumbu karang buatan yang tidak terlalu jauh dari pantai mampu merestorasi karang sekaligus meredam ombak, sehingga erosi pantai pun teratasi.

Hanya saja, uji coba di Tuban sedikit bermasalah karena terumbu karang buatan tersebut membuat banyak ikan berdatangan. Hal yang positif sebenarnya, namun para nelayan menjadi berebut dan mengatur blok-blok tertentu sebagai miliknya. Maka daripada itu, Haryo berpikir untuk bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat untuk program ini.
sumber : http://www.indonesiakreatif.net, 01 Maret 2010
READ MORE - Terumbu Karang Buatan ITS Redam Erosi

Terumbu Karang di Pulau Kadatua Mulai Pulih

Kondisi terumbu karang di wilayah pesisir Pulau Kadatua, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang mengalami kerusakan akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak, kini mulai pulih.

"Sejak aktivitas para nelayan menangkap ikan tidak lagi menggunakan bahan peledak, kondisi terumbu karang di sepanjang pesisir Pulau Kdatua, sudah membaik," kata Camat Kadatua, La Mpute di Kadatua, sekitar 45 kilometer dari Pasarwajo, ibu kota Kabupaten Buton, Senin.

Menurut La Mpute, aktivitas para nelayan menangkap ikan dengan menggunakan bahan peledak berhenti, setelah Pulau Kadatua yang terdiri dari 10 desa, mekar dari Kecamatan Batauga menjadi wilayah kecamatan tahun 2003.

Sebelumnya, kata dia, Pulau Kadatua yang berpenduduk sekitar 11.000 jiwa itu, para nelayan setempat sering menggunakan bahan peledak, namun dengan upaya sosialisasi mengenai cara menangkap ikan yang ramah lingkungan, sehingga aktivitas ilegal itu terhenti.

"Sejak wilayah Kadatua menjadi kecamatan, umumnya nelayan menangkap ikan dengan menggunakan redi (alat tangkap ikan berupa jaring-red)), sehingga tidak lagi menimbulkan kerusakan terumbu karang," katanya.

Penggunaan alat tangkap ikan berupa redi tersebut, menurut La Mpute, telah meningkatkan kesejateraan nelayan setempat yang cukup signifikan.

Sebelumnya, pendapatan nelayan sekali melaut (minimal 45 hari), hanya memperoleh hasil Rp1.000.000 hingga Rp2.000.000, tetapi dengan menggunakan alat redi meningkat menjadi Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000.

Waktu melaut pun, kata dia, menjadi berkurang, dari minimal 45 hari menjadi sisa 14 sampai 16 hari.

"Perubahan pola pemanfaatan teknologi tangkap dengan alat redi ini telah berdampak signifikan terhadap cara kerja dan kesejahteraan hidup nelayan Kadatua," katanya.

La Mpute mengatakan, seiring dengan membaiknya kondisi terumbu karang di wilayah pesisir Pulau Kadatua itu, Pemerintah Kabupaten Buton sudah menetapkan wilayah tersebut menjadi kawasan wisata andalan bersama dua pulai kecil di tetangganya, yakni Pulau Liwu Tongkidi dan Pulau Siompu.

Menurut La Mpute, keindahan alam bawah laut di tiga gugusan pulau kecil itu, tidak kalah menarik jika dibanding alam bawah laut di Wakatobi atau Bunaken di Sulawesi Utara.

"Hasil penelitian dari Dinas Perikanan dan Kelautan Buton bekerja sama dengan IPB bahwa terumbu karang di tiga gugusan pulau kecil ini, sangat unik dan beragam," katanya.
 
READ MORE - Terumbu Karang di Pulau Kadatua Mulai Pulih

Pemutihan Karang di Indonesia: Laporan Terbaru 07 Juni 2010


Prediksi para peneliti mengenai salah satu ancaman nyata dari perubahan iklim global mulai semakin terasa. Pemutihan karang atau yang umum disebut coral bleaching. Setelah menjadi fenomena global yang mencengangkan pada periode 1997-1998, tahun 2010 kejadian ini mulai muncul kembali. Minimal 11 propinsi telah dilaporkan telah terkena bleaching.NAD, Sumbar, Jatim, Bali, Sulsel, Sultra, Sulteng, NTB, Papua Barat, Maluku.

Lokasi-lokasi yang mengalami pemutihan karang : Sabang, Padang, Morella dan Ratuhalat Ambon, Parigi Teluk Tomini, Lypah Amed dan Pemuteran Bali, Gili Air Lombok, Pulau Badi Spermonde Sulsel, Wakatobi Sultra, Kofiau dan Misool Papua Barat, Tabulolong Kupang dan Situbondo Jawa Timur.

Jaringan Kerja Reef Check Indonesia, komunitas pemantauan terumbu di Indonesia, menghimpun laporan-laporan dari berbagai sumber yang aktif berkunjung ke terumbu. Mulai dari LSM, penyelam rekreasi, hingga dive center dan komunitas pelestari terumbu. Laporan yang masuk rata-rata pada periode April-Mei 2010. Laporan pemutihan karang yang diterima bervariasi mulai dari laporan anecdotal, foto-foto bawah air, hingga hasil survey.

Secara umum, dari laporan yang masuk kejadian pemutihan karang tahun ini sangat mengkhawatirkan. Luasnya sebaran kejadian pemutihan (Sabang sampai Papua) menunjukkan kejadian ini melanda hampir sebagian besar wilayah terumbu kita. Terbatasnya laporan detil membuat besarannya agak sulit untuk dikuantifikasi, karena sebagian besar berupa foto-foto.

Terkait tingkat pemutihan, berdasarkan laporan-laporan tersebut, dapat diperkirakan kejadian pemutihan ini cukup parah. Beberapa jenis karang yang secara kategori tergolong lebih kuat terhadap peningkatan suhu, terbukti telah mengalami pemutihan juga. Diantaranya ialah dari Genera Porites. Bahkan, jenis-jenis karang lunak juga sudah terkena pemutihan. Di beberapa lokasi yang melakukan survey detil, kejadian pemutihan ini ada yang sudah mencapai 60-75% karang mengalami pemutihan.

Hal lain yang cukup mengkhawatirkan ialah berdasarkan pengalaman dan data tren suhu dari beberapa organisasi (NOAA,dll) periode “hangat” seharusnya mulai turun pada bulan Juni, setelah mulai naik sejak Maret. Kecenderungan yang ada ialah laporan-laporan kejadian ini terus bertambah bahkan secara faktual cuaca semakin menghangat dan langit cenderung menjadi semakin cerah (intensitas penyinaran matahari semakin intensif). Diprediksi kejadian pemutihan karang masih akan berlanjut.

Mengantisipasi hal tersebut, kita masih dapat melakukan beberapa hal, setidaknya untuk tidak memperparah keadaan di terumbu. Bijaksananya, mengurangi aktifitas di wilayah terumbu yang terkena pemutihan karang akan sangat membantu. Pada dasarnya terumbu karang yang terkena pemutihan BELUM mati, namun SEKARAT. Saat suhu kembali normal, karang yang mengalami pemutihan akan memulihkan dirinya kembali. Besarnya peluang untuk kembali sehat tergantung juga dari kesehatan karang itu sendiri. Jadi, tugas kita ialah memastikan karang hanya menghadapi masalah pemutihan ini saja.

Bila terpaksa harus ke terumbu yang mengalami pemutihan, pastikan tidak melakukan aktifitas yang membuat terumbu semakin terganggu. Berikut beberapa tips sederhana :

  1. Bagi penyelam, pilihlah/prioritaskan untuk sebisa mungkin menyelam di tempat yang tidak mengalami kejadian pemutihan.
  2. Bagi penyelam lagi, bila terpaksa harus ke lokasi yang mengalami pemutihan, pastikan penyelaman Anda “aman”. Sangat standar namun patut kita perhatikan lagi. Gunakan mooring bouy untuk menambatkan kapal, pastikan peralatan selam Anda benar-benar terpasang rapi begitu juga kesiapan Anda (penyelam), pastikan tidak ada kontak / sentuhan, pastikan tidak membuang sampah sembarangan terutama di terumbu.
  3. Salah satu komponen paling penting dalam isu ini ialah ikan herbivor. Ikan-ikan ini bertanggungjawab penuh memastikan terumbu kita tidak dipenuhi alga. Minimalkan kurangi penangkapannya dan konsumsi : Parrotfish (Scaridae)/ Ikan kakatua, Surgeonfish (Achanturidae)/Botana, Rabbitfish(Siganidae)/Baronang, serta jenis-jenis Damselfish(Pomacentridae).

Bagi rekan-rekan yang ingin membantu melaporkan kejadian pemutihan karang silahkan masukkan data secara online ke http://www.reefbase.org/contribute/bleachingreport.aspx atau email ke rcindonesia@reefcheck.org

Sumber: goblue indonesia, 20 Juli 2010

READ MORE - Pemutihan Karang di Indonesia: Laporan Terbaru 07 Juni 2010

Terumbu Karang Kuno Ditemukan di Pasifik


JAKARTA--MI: Tim peneliti Australia dan Selandia Baru menemukan gugusan karang kuno berusia 9.000 tahun di dekat Pulau Howe, 600 kilometer sebelah timur Australia.

Selain tua, gugusan terumbu karang ini juga berukuran sangat besar yaitu hampir 30 kali ukuran terumbu karang modern.

Para peneliti berharap gugusan karang kuno ini bisa memberikan banyak informasi soal pengaruh meningkatnya suhu lautan terhadap kelangsungan hidup terumbu karang.

Tim peneliti yang dipimpin Colin Woodroffe dari Universitas Wollongong Australia bersama para peneliti dari Geoscience Australia menemukan daerah seperti perbukitan pada kedalaman 30 meter di Laut Tasmania.

Tim peneliti langsung menduga tempat itu adalah sebuah gugusan terumbu karang kuno. Ukuran dan bentuk 'perbukitan' itu bisa dipetakan dengan alat yang disebut multi-beam echo sounding. Namun kepastian bahwa tempat itu merupakan gugusan terumbu karang baru bisa dipastikan setelah para peneliti mengambil sejumlah contoh.

Namun mengambil contoh bebatuan dari dasar Laut Tasman sangat sulit karena cuaca dan kondisi laut cepat sekali berubah. Sehingga tim peneliti menggunakan mesin bor yang dikendalikan dari atas kapal.

Setelah contoh bebatuan diperoleh dan kemudian dilakukan uji coba maka diperoleh kepastian bahwa tempat itu adalah sebuah gugusan terumbu karang. Dan dengan tes radio karbon, usia terumbu karang itu bisa dipastikan.

Tim peneliti menduga kematian terumbu karang ini disebabkan banjir yang disebabkan naiknya permukaan air laut sekitar 7.000 tahun lalu.

Namun, suhu laut di belahan selatan Bumi juga membatasi pertumbuhan karang. Itulah sebabnya mengapa gugusan karang kuno berukuran lebih besar ketimbang gugusan karang modern.

Di terumbu karang kuno ini terdapat karang-karang yang usianya lebih muda yaitu sekitar 2.000 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa terumbu karang kuno seperti ini bisa menjadi habitat yang cocok bagi karang yang kemungkinan bisa berkembang saat suhu laut meningkat.

Di belahan utara Bumi, seperti di Florida dan Bermuda, terumbu karang di kedua tempat ini memiliki ukuran yang relatif kecil.

Artinya, suhu laut yang meningkat sangat berbahaya bagi terumbu karang di kawasan tropis yang lebih panas. Namun, ini juga berarti di kawasan yang lebih dingin di belahan utara dan selatan Bumi terumbu-terumbu karang baru terus berkembang. (BBC/OL-9)

READ MORE - Terumbu Karang Kuno Ditemukan di Pasifik

Pengembangan Potensi Wisata Bahari Pulau Abang Berbasis Masyarakat

Minggu, Mei 30, 2010


Seberapa besarkah potensi wisata bahari di Pulau Abang dan sekitarnya ?

pertanyaan ini cukup menggelitik dan setelah dikaji ternyata di perairan P. Abang memiliki potensi terumbu karang yang sangat potensial untuk dijual sebagai objek wisata unggulan.

Keindahan dan keanekaragaman hayati ekosistem terumbu karang di perairan P. Abang tak kalah menariknya dengan yang ada di Bunaken atau Raja Ampat di wilayah Timur Indonesia itu. Malah di P. Abang ditemukan spesies karang yang langka yaitu blue coral yang tidak ditemukan di tempat lain dimana blue coral ini hanya hidup di perairan yang jernih dengan
kualitas air yang bagus.

Keberadaan atau umur terumbu karang ini sangat mudah untuk ditentukan karena pertumbuhannya berkisar 1 cm saja pertahun. Jadi, jika ada terumbu karang yang panjang atau besarnya 5 m maka ia telah dibentuk sejak 500 tahun yang lalu. Apa maknanya ? Bahwa Visit Batam 2010 telah lama dipersiapkan oleh Yang Maha Kuasa dengan keindahan terumbu karangnya.

Jika semua pihak sadar akan potensi yang menakjubkan ini sudah pasti tidak perlu mengeluarkan dana banyak untuk mencari dan mengembangkan objek wisata di Batam cukup dengan melirik dan serius mengembangkan potensi terumbu karang yang luar biasa yang sudah tersedia tersebut.

Kenapa berbasis masyarakat dalam pengembangan wisata bahari di P. Abang tersebut ?

Alasannya antara lain :
  1. Agar menjaga kelestarian terumbu karang yang ada tanpa ekploitasi besar-besaran yang hanya menilai investasi dengan tingkat return dan keuntungan yang kurang memperhatikan lingkungan.
  2. Pemberdayaan masyarakat pesisir dalam rangka peningkatan taraf hidup mereka sebagai mata pencaharian alternatif guna mengurangi tekanan terhadap ekosistem laut itu sendiri dari penangkapan (hunting) ikan selama ini.
  3. Melatih mental masyarakat pesisir dalam menjaga dan melestarikan terumbu karang sebagai objek yang dapat mensejahterakan mereka
  4. Program Coremap dan Pemerintah Kota Batam telah melatih masyarakat sebagai pemandu kegiatan penyelaman di daerah ini dengan sertifikasi penyelam.
  5. Home stay dan kelengkapan lain seperti kapal katamaran juga telah disiapkan oleh Coremap dan Pemko Batam
READ MORE - Pengembangan Potensi Wisata Bahari Pulau Abang Berbasis Masyarakat

Selamatkan Terumbu Karang, Sekarang!

Terumbu karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut yang sangat penting di Indonesia. Sumber daya terumbu karang merupakan salah satu sumber pendapatan utama dan bagian dari hidup nelayan. Terumbu karang juga mempunyai nilai estetika sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai objek wisata yang dapat meningkatkan devisa negara. Secara fisik karang melindungl pantal dari degradasi dan abrasi.

Di samping itu terumbu karang mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai tempat memijah, mencari makanan, daerah asuhan dari berbagai biota laut dan sebagai sumber plasma nutfah serta merupakan sumber berbagai makanan dan bahan baku substansi bioaktif yang berguna dalam bidang farmasi dan kedokteran.

Fungsi terumbu karang yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai sarana pendidikan dan penelitian, karena itu dilihat dari nilai pentingnya terumbu karang tersebut, maka perlu adanya konservasi dan pengelolaan untuk menjaga dan memelihara ekosistem tersebut dan habitat yang berasosiasi di sekitarnya agar berada dalam kondisi yang baik.

Pengelolaan terumbu karang secara lestari dan berkembang sangat penting, artinya ekosistem terumbu karang yang sangat produktif dapat mendukung kehidupan nelayan setempat.

Jika habitat terumbu karang tidak diusik maka fungsinya akan optimal dan produksi ikan karang akan dapat dipanen secara berkesinambungan dan memberi keuntungan secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat di seluruh Indonesia untuk masa kini dan masa yang akan datang sejalan pembangunan nasional.

Terumbu karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan produktif dengan tujuan dengan keanekaragaman jenis biota sangat tinggi. Indonesia merupakan pusat sebaran dari jenis karang yang ada di dunia. Variasi bentuk pertumbuhan karang di Indonesia sangat kompleks dan luas, sehingga dapat dipakai sebagai tempat tumbuh bagi biota yang lain. Karang membentuk kerangka kapur yang terdiri dari CaC03 dan di dalam polyp karang terdapat zooxanthella yang merupakan symbion karang. Zooxanthelia ini berupa algae bersel satu yang membantu dalam pembentukan kerangka kapur.

Pembentukan kapur ini sangat penting artinya dalam mengurangi jumlah karbon yang ada di udara. Karbon yang ada di udara akan diubah menjadi CaC03. Para pakar telah menghitung kemampuan karang mengambil karbon yaitu 111 juta ton/tahun yang ekivalen dengan 2 % dari seluruh karbon yang ada.

Diramalkan bahwa pada 50-100 tahun yang akan datang karang dapat menyerap 4 % dari jumlah karbon (C02) yang dilepas di udara, itu jika kondisi terumbu karang di dunia tidak mengalami kerusakan.

Secara umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, oleh karena itu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti air yang jernih, dengan suhu antara 23-32 derajat celcius, dengan kedalaman karang dari 40 m. Salinitas yang optimum untuk pertumbuhan karang antara 32 - 36 % dengan pH 7,5 - 8,5.

Terumbu karang di Indonesia yang umum dijumpai adalah karang tepi (Fringing Reef), karang penghalang (Barrier Reef) dan karang cincin (Atoll). Karang tepi merupakan tipe karang yang paling umum dijumpai dan merupakan terumbu karang yang tumbuh di tepi pantai. Karang penghalang tumbuh sejajar dengan garis pantai dan dipisahkan oleh laut yang cukup dalam. Karang cincin merupakan tipe karang yang menyerupai cincin dengan goa di tengahnya.

Pemanfaatan terumbu karang yang kurang bijaksana dapat berakibat menurunnya kualitas terumbu karang. Kegiatan yang bersifat merusak antara lain penambangan karang untuk batu gamping dan bahan bangunan, penangkapan ikan dengan muroami, dan penggunaan bahan peledak, serta koleksi biota laut untuk hiasan dan penangkapan illo \"hib\" dengan kalium sianida (KCN).

Terumbu karang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan baik yang bersifat fisik maupun kimia. Pengaruh itu dapat mengubah komunitas karang dan menghambat perkembangan terumbu karang secara keseluruhan. Kerusakan terumbu karang pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor fisik, biologi dan karena aktivitas manusia. Faktor fisik umumnya bersifat alami seperti perubahan suhu, dan adanya badai.

Faktor biologis seperti adanya pemangsaan oleh biota yang berasosiasi dengan terumbu karang seperti Bulu Seribu (Acanthaster olanci), sedangkan aktivitas manusia dapat berupa sedimentasi yang berasal dari penebangan hutan, penambangan karang, penangkapan berlebihan, pembangunan fasilitas, limbah industri, buangan kota dan rumah tangga, dan buangan minyak.

Mengkhawatirkan

Kondisi karang di Indonesia pada saat ini adalah 4% dalam kondisi kritis, 46% telah mengalami kerusakan, 33% kondisinya masih bagus dan kira-kira hanya 7 % yang kondisinya sangat bagus. Bertambahnya berbagai aktivitas manusia yarng berorientasi di daerah terumbu karang akan menambah tekanan dan sebagai dampaknya adalah turunnya kualitas terumbu karang. Jika kegiatan yang berhubungan dengan terumbu karang tidak segera dilakukan dengan baik maka persentase terumbu karang dengan kriteria kritis akan bertambah dengan cepat.

Pada saat ini pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah dan pihak swasta serta masyarakat masih sedikit sekali perhatiannya terhadap ekosistem terumbu karang dan habitat sekitar yang berasosiasi dengannya. Oleh karena itu pada saat ini dari segi pendidikan yang berwawasan lingkungan pada umumnya dan ekosistem terumbu karang pada khususnya perlu ditingkatkan. Program latihan dan pendidikan baik formal dan non formal perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan pemanfaatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya terumbu karang.

Konservasi dan pengelolaan ekosistem terumbu karang perlu segera dilakukan karena pada dewasa ini tekanan semakin bertambah besar dengan meningkatnya aktivitas pembangunan di wilayah pesisir. Terumbu karang di wilayah Timur Indonesia menjanjikan kesempatan untuk pengembangan wisata bahari. Tetapi perlu diingat bahwa sukses masa sekarang dalam memanfaatkan sumber daya karang dan kelangsungan hidup komunitas daerah pesisir dan usaha komersial yang berhubungan dengan terumbu karang akan tergantung dari kelangsungan hidup terumbu karang itu sendiri.

Melihat hal-hal tersebut serta besarnya peran terumbu karang, sebagai penyokong bagi biodiversity kelautan, maka membuat beberapa negara di dunia ini telah sepakat untuk berupaya terus melestarikan keseimbangan ekosistem karang. Sehingga ekosistem terumbu karang sebagai bagian penting dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui pengembangan paradigma, etika dan perilaku kehidupan individu, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara, memiliki spirit yang handal untuk berkerjasama dengan berbagai pihak dalam mengelola ekosistem terumbu karang secara sistemik dan holistik, melampaui batas negara, suku, kelompok, agama, ras, dan sektor pembangunan memiliki kehandalan dalam penetapan hukum dan sosialisasi penaatan hukum di bidang lingkungan.

Belum Sadar

Berbagai praktek pemanfaatan sumber daya alam yang hanya memperhatikan keuntungan jangka pendek, seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak dan beracun, penangkapan yang berlebihan, kegiatan wisata yang merusak, kegiatan pembangunan baik di darat maupun di laut yang tidak memperhatikan kelestarian ekosistem ini, serta terjadinya konflik penggunaan di dalam pemanfaatannya memperlihatkan masih rendahnya kesadaran masyarakat mengenai manfaat ekosistem ini.

Rendahnya kesadaran masyarakat akan berakibat rendahnya peran serta dari masyarakat dalam upaya pengelolaannya hal ini tercermin tidak adanya swakarsa masyarakat setempat, misalnya untuk menentukan daerah reservat perikanan yang dilindungi agar menjadi sumber bibit bagi lingkungan sekitarnya.

Terjadinya konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya terumbu karang selain mencerminkan pemikiran yang bersifat sektoral, juga kurangnya kesadaran dan pengetahuan mengenai manfaat dan fungsi terumbu karang dari para pengambil keputusan.

Kegiatan di darat dan di laut yang tidak memperhatikan kelestarian ekosistem ini mencerminkan juga kekurangtahuan masyarakat (pengambil keputusan dan pengusaha) akan hubungan kait mengait antar ekosistem. Pengusaha pariwisata dan wisatawan juga karang menyadari manfaat dan fungsi terumbu karang.

Pembangunan fisik fasilitas wisata bahari serta kegiatan wisatawan seringkali jarang memperhatikan kelestarian terumbu karang yang justru merupakan aset utama kegiatan tersebut.

Harus Tegas

Masyarakat setempat memegang peran penting di dalam kegiatan konservasi dan pengelolaan kawasan terumbu karang. Mereka hidup di atau dekat dengan kawasan terumbu karang dan mata pencahariannya sebagian besar tergantung pada sumber daya di sekitarnya. Pemanfaatan sumber daya terumbu karang dengan cara yang dapat membahayakan ekosistem terumbu karang akan merugikan masyarakat setempat.

Penegakan hukum secara tegas harus diterapkan terhadap perusak terumbu karang. Dengan memperhatikan hal-hal di atas jelas diperlukan usaha penangkapan kesadaran dan peran serta masyarakat penguna dan pemanfaat ekosistem terumbu karang. Hal serupa tidak kalah pentingnya dilakukan terhadap para pengambil keputusan.

Kawasan Konservasi Terumbu Karang

Secara umum, konservasi ekosistem terumbu karang di Indonesia telah dijalankan melalui upayaupaya pengembangan kawasan konservasi laut, antara lain melalui penunjukan penetapan kawasan suaka alam (Cagar Alam Laut dan Suaka Margasatwa Laut) dan kawasan pelestarian alam (Taman Nasional Laut dan Taman Wisata Alam Laut).

Kawasan Suaka Alam mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman jenis karang dan satwa beserta ekosistemnya, serta sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Di dalam Kawasan Suaka Alam ini dapat dilakukan kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan yang menunjang, khusus untuk Suaka Margasatwa dan dapat pula dilakukan kegiatan wisata terbatas.

Kawasan Pelestarian Alam mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di dalam Kawasan Pelestarian Alam ini dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata alam dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. Melalui program pengembangan kawasan konservasi laut di Indonesia, pemerintah telah mencanangkan seluas 30 juta hektar perairan laut Indonesia sebagai kawasan konservasi laut yang kemudian dikelola sesuai dengan masing-masing fungsi kawasan yang telah ditetapkan tersebut!

Dengan adanya penetapan seluas tersebut, diharapkan telah dapat mewakili semua sumber daya alam laut dan tipe ekosistem yang ada di seluruh Indonesia.

Sumber: Laman (Webside) Menlh.go.id, diakses tanggal 30 Mei 2010

READ MORE - Selamatkan Terumbu Karang, Sekarang!

Indonesia Siapkan Pembangunan Museum Kelautan

Pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk membangun museum kelautan di Jakarta. Museum ini menurut rencana akan menjadi tempat penyimpanan barang muatan kapal tenggelam yang memiliki nilai sejarah tinggi.

Pembangunan Museum kelautan ini kini masih menunggu dukungan dar ilembaga dunia bidang pendidikan dan kebudayaan (UNESCO).

Menteri Kelautan dan perikanan Fadel Muhammad usai peringatan ke-50 tahun Komisi Oseanografi Antar Pemerintah(IOC) di Sanur Bali menyatakan pemerintah kini sedang melakukan pendekatan dengan UNESCO. Dimana pemerintah berharap UNESCO bersedia membantu pendanaan pembangunan Museum Kelautan Indonesia.

“Apakah nantinya UNESCO bisa mensponsori kita untuk membangun sebuah museum marine di Indonesia dan museum ini saya rencanakan dibangun di Jakarta dan bekerjasama dengan museum internasional” tegas Fadel Muhammad.

Menteri Kelautan dan perikanan Fadel Muhammad menegaskan dengan adanya rencana pembangunan museum kelautan, maka pelelangan dan penjualan terhadapharta karun di perairan Indonesia tidak lagi menjadi tujuan utama.

Dimana kini pemerintah juga sedang mempertimbangkan adanya penyelesaian dengan parainvestor dan peserta lelang harta karun perairan Indonesia agar tidak mengalamikerugian yang tinggi.(mlt).

Source : http://www.beritabali.com/index.php?reg=&kat=&s=news&id=201005100002
READ MORE - Indonesia Siapkan Pembangunan Museum Kelautan

Peneliti LIPI Deny Hidayati, Salah Seorang Wanita Terinspiratif 2010

Salah seorang di antara delapan penerima penghargaan Wanita Terinspiratif 2010 dari Ibu Negara Any Yudhoyono pada 30 April lalu adalah Deny Hidayati. Peneliti LIPI itu telah bekerja keras membuat buku serial pesisir-laut untuk siswa SD sampai SMA.

KETIKA menceritakan pengalamannya menerima penghargaan dari ibu negara di Plaza Senayan itu, wajah Deny Hidayati berbinar. Dia terpilih sebagai Wanita Terinspiratif kategori pendidikan.

''Saya terima kabar lewat telepon. Diberi tahu bahwa saya masuk dalam jajaran calon penerima penghargaan Wanita Terinspiratif 2010,'' katanya ketika ditemui di kantornya, Pusat Penelitian Kependudukan (P2K) LIPI, Kamis lalu (6/5). ''Saya kaget,'' tambahnya.

Wanita berambut sebahu itu sama sekali tidak menyangka menjadi salah seorang peraih penghargaan. Namun, dia bangga. Sebab, peraih penghargaan tersebut diseleksi dari 100 wanita dari seluruh wilayah di Indonesia, kemudian diciutkan menjadi 39 orang.

Penghargaan dibagi menjadi delapan kategori. Salah satunya kategori pendidikan. Informasi tersebut, kata perempuan berkacamata itu, sangat kurang. ''Kan saya juga pengen tahu, kenapa kok saya yang dipilih dari kategori pendidikan. Siapa tahu, ada yang lebih hebat dan berprestasi. Seperti yang kita tahu, populasi wanita di Indonesia itu lebih dari 50 persen,'' paparnya.

Dia mengaku minder ketika disandingkan dengan tujuh pemenang penghargaan lainnya. ''Bayangkan, ada yang berdedikasi dan punya prestasi hebat di bidang lingkungan. Ada juga seorang bidan yang concern dengan autisme. Mereka semua hebat-hebat,'' ujarnya.

Namun, Deny juga hebat. Perempuan kelahiran 11 April 1967 itu mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mengam panyekan pelestarian lingkungan, khususnya habitat dan ekosistem laut. Lewat jalur edukasi, dia beserta timnya membuat serial buku pesisir dan laut untuk tingkat SD, SMP, serta SMA. Berkat kiprahnya itu pula, tahun lalu Deny juga meraih Indonesia Berprestasi Award.

Paket bukunya yang diberi nama Serial Buku Pesisir dan Laut Kita merupakan buku pendidikan kelautan terlengkap di Indonesia saat ini. Semua buku tersebut telah divalidasi Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (Puskur Kemendiknas). ''Tujuan validasi adalah agar buku tersebut bisa diimplementasikan di sekolah-sekolah kawasan pesisir yang menjadi target kami,'' jelas Deny.

Selain menyusun buku paket, dia merancang pelatihan untuk guru-guru di kawasan pesisir. Sebab, mayoritas guru di daerah tersebut tidak punya bekal pengetahuan yang cukup tentang kelautan.

Mengapa memilih menggarap pesisir? ''Minimnya informasi dan pengetahuan tentang potensi daerah pesisir bakal berakibat pada perusakan habitat dan ekosistem laut,'' kata sarjana pertanian itu.

Perempuan 49 tahun tersebut mulai concern terhadap pendidikan wilayah pesisir pada pertengahan 1990-an. Dia bersama timnya di LIPI menggarap program nasional penyelamatan terumbu karang di Indonesia, Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program). Kala itu, yang menjadi prioritas adalah penyadaran ma syarakat (public awareness).

Deny beserta timnya giat mengampanyekan pelestarian terumbu karang lewat media. Salah satunya melalui iklan layanan masyarakat. Fase pertama Coremap selesai pada akhir 1990-an. Fase kedua tidak lagi ditangani LIPI, melainkan dialihkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan. LIPI kembali melakukan fungsi penelitian dan penyedia informasi.

Berkaca pada fase pertama, wanita asli Palembang, Sumatera Selatan, itu menilai target penyadaran masyarakat cukup berhasil. Iklan layanan masyarakat besutan LIPI banyak dikenal. Bahkan, tim LIPI berhasil mendapatkan penghargaan internasional atas program public awareness tersebut.

Namun, program itu tidak memberikan efek kesadaran yang berlangsung lama. ''Waktu ada iklan, ingat. Tapi, setelah iklannya tidak tayang lagi, ya lewat begitu saja,'' ujar Deny.

Karena itu, dia memilih jalur edukasi sebagai cara paling tepat untuk membuat program penyadaran masyarakat berkesinambungan.

Alumnus The Australian National University itu membidik sekolah. ''Program akan sustained kalau masuk jaringan sekolah,'' ungkap Deny yang mempelajari ilmu ekologi manusia untuk pendidikan S-3-nya itu.

Tidak menunggu lama, begitu fase pertama program berakhir, Deny yang menjabat koordinator edukasi Coremap tersebut bersama timnya merancang program pelatihan bagi para guru di kawasan pesisir. Program itu berjalan, namun belum merata. ''Selain belum sistematis, materinya masih sporadis,'' jelas wanita yang tinggal di kawasan Benhil itu.

Dia lantas menggandeng rekan-rekannya di Pusat Penelitian Oceanografi. Sebab, Deny bukan ahli kelautan. Dia adalah seorang insinyur pertanian. Bersama rekan-rekannya, dia merancang pelatihan untuk guru dengan materi yang lebih padat serta lengkap.

Inti pelatihan pendidikan kelautan, selain materi, adalah proses pembelajaran yang menye nangkan (joyful learning). ''Jadi, kami merancang materi dan cara mengajar yang menye nangkan. Dengan demikian, murid tidak mudah bosan karena pembelajaran kebanyakan dilakukan di luar ruangan dengan memanfaatkan benda sekitar,'' paparnya.

Setelah paket pelatihan guru, Deny langsung beralih pada paket buku yang digunakan para murid. Awal 2000, dia mulai membuat buku. Agar bisa diimplementasikan di sekolah, buku-buku tersebut divalidasi oleh Puskur Kemendiknas.

Pada 2006, Deny dan timnya me-launching paket serial Buku Pesisir dan Laut Kita untuk tingkat SD lengkap dengan buku panduan gurunya. Disesuaikan dengan usia anak SD, buku itu dibuat semenarik mungkin de ngan warna-warna cerah serta ilustrasi yang beragam. Dua tahun kemudian, giliran paket buku SMP dan SMA dirilis. Pada 2010, Deny merilis buku-buku tambahan semacam glossary.

Semua buku tersebut bisa diperoleh secara gratis, tapi khusus untuk daerah pesisir. ''Untuk Indonesia Timur, ada tujuh kabupaten, sedangkan di Indonesia Barat delapan kabupaten. Semua sudah mendapat pelatihan dan menerima paket buku tersebut,'' jelasnya.

Kini, paket buku itu diserahkan sepenuhnya kepada Kemendiknas. Paket buku tersebut tidak dijual bebas. Karena itu, Deny berharap ada tindak lanjut dari Kemendiknas. ''Ya mungkin diterbitkan dalam bentuk e-book atau semacamnya,'' katanya.

Deny bersyukur kini mulai banyak sekolah di kawasan pesisir yang mengajukan permohonan pelatihan pendidikan kelautan. Bahkan, di beberapa kabupaten, pendidikan kelautan sudah menjadi mata pelajaran muatan lokal. ''Saya yakin, ke depan semakin banyak kaum akademisi di kawasan pesisir yang sadar akan kebutuhan edukasi tentang kelautan,'' ujarnya. (*/c5/cfu)

Source : http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=132854




READ MORE - Peneliti LIPI Deny Hidayati, Salah Seorang Wanita Terinspiratif 2010

Kontes Inovator Muda 5 Dimulai,..


READ MORE - Kontes Inovator Muda 5 Dimulai,..

Pelatihan Penyusunan Silabus Muatan Lokal Kelautan, COREMAP II LIPI

Minggu, Maret 07, 2010


Guna menunjang pelaksanaan kegiatan belajar mengajar muatan lokal kelautan, tim Edukasi Coremap II LIPI melaksanakan kegiatan Pelatihan Penyusunan Silabus Muatan Lokal Kelautan, dimana pada pelatihan tersebut berkumpul perwakilan dari guru muatan lokal tingkat SD, SMP dan SMA sekaligus pengawas dan TPK (Tim Pengembang Kurikulum) dari 7 wilayah Kabupaten Coremap II di Indonesia Timur.
Kegiatan tersebut merupakan kegiatan lanjutan dari kegiatan pelatihan guru, yang sebelumnya telah digarap oleh tim Edukasi Coremap II LIPI, dimana pada tahap lanjutan ini peserta pelatihan dapat menyusun silabus sampai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) sehingga nantinya silabus tersebut dapat langsung digunakan oleh guru-guru muatan lokal di sekolahnya masing-masing.

Kegiatan yang diselenggarakan selama 4 hari di Makassar ini, dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Prop. Sulsel yang mana juga merupakan Kepala RCU Coremap II Propinsi Sulawesi Selatan dengan melibatkan Dinas Pendidikan setempat serta  Kementrian Pendidikan Nasional dalam hal ini Pusat Kurikulum Pendidikan Nasional.


Sebelum melakukan penyusunan silabus dan RPP, peserta terlebih dahulu dibekali dengan berbagai materi, yaitu : materi ekosistem kelautan dan pesisir oleh Dr. Soekarno, materi konsep pendekatan pendidikan kelautan oleh Dr. Deny Hidayati, materi pengembangan kurikulum muatan lokal kelautan oleh Dr. Naniek Sri Sayekti dan materi pengintegrasian ekonomi kreatif, keunggulan budaya dan enterpreunership dalam pembelajaran kelautan oleh Dra. Sri Hidayati, M.Si. Selanjutnya peserta dibagi berkelompok sesuai dengan wilayah serta jenjang nya untuk menyusun silabus dan RPP yang dipandu oleh M. Abrar S.Si. beserta para nara sumber yang lain dan  hasil kerjanya dipresentasikan . Produk dari kegiatan ini adalah silabus dan RPP Kabupaten Sikka, Wakatobi, Buton, Biak, Raja Ampat , Pangkep dan Selayar. Silabus dan RPP tiap wilayah tersebut diharapkan dapat digunakan seluruh guru Mulok di wilayah tersebut dengan sedikit penyesuaian di setiap sekolah.

Kegiatan yang berlangsung tanggal 4-7 Maret tersebut, berlangsung lancar dengan animo yang cukup tinggi dari para peserta. Panitia pun berharap melalui kegiatan ini, muatan lokal kelautan dapat diterapkan dengan baik di sekolah - sekolah seluruh kabupaten COREMAP II wilayah Indonesia Timur sebagai bentuk peduli kita terhadap lingkungan laut khususnya ekosistem terumbu karang.


READ MORE - Pelatihan Penyusunan Silabus Muatan Lokal Kelautan, COREMAP II LIPI

Kompetisi Desain Poster Terumbu Karang COREMAP II - DEEP INDONESIA 2010

Rabu, Februari 17, 2010

Latar Belakang.
Pameran DEEP Indonesia 2010 adalah sebuah pameran internasional yang memamerkan perkembangan aktivitas selam, wisata petualangan dan olah raga air di Indonesia, yang akan diselenggarakan mulai tanggal 12–14 Maret 2010 di Hall A, Jakarta Convention Center.

Deep Indonesia 2010 memiliki sasaran untuk mempromosikan industri wisata bahari melalui kegiatan selam, olah raga perairan dan wisata petualangan sekaligus mengajak masyarakat untuk mencintai laut dan sumber daya kelautan.

Salah satu tujuan dari pameran DEEP Indonesia 2010 adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi lingkungan hidup terutama lingkungan hidup kelautan dan sumber daya kelautan. Tujuan inilah yang menjadi dasar dari diselenggarakannya Kompetisi Desain Poster Digital oleh PT. Exhibition Network Indonesia, sebagai penyelenggara pameran bekerjasama dengan Coremap II, sebuah lembaga rehabilitas terumbu karang di bawah Departemen Kelautan & Perikanan Indonesia.


DEEP Indonesia 2010 didukung sepenuhnya oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Departemen Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Persatuan Olah Raga Selam Seluruh Indonesia. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata secara resmi telah mencanangkan pameran DEEP Indonesia sebagai salah satu agenda nasional untuk pengembangan industri selam dan wisata bahari di tanah air. DEEP Indonesia 2010 juga mendapat dukungan penuh dari media-media komunitas terkait tingkat internasional.

LINGKUP KARYA DAN PESERTA KOMPETISI

Kompetisi desain poster dalam wujud digital untuk umum.
Poster merupakan medium komunikasi yang efektif untuk menyampaikan pesan yang singkat tetapi padat, dan impresif karena ukurannya yang relatif besar. Desain poster digital yang dimaksud adalah karya poster dibuat dengan menggunakan program grafis di komputer atau dibuat/ digambar secara manual kemudian dipindai (scanned) atau difoto digital agar berwujud digital. Tujuan digitalisasi ini adalah agar mempercepat, mempermudah dan mengurangi pengeluaran biaya pencetakan. Walaupun bentukan akhirnya adalah digital, tetapi peserta Kompetisi dianjurkan untuk melakukan penilaian ulang mengenai faktor ukuran sebenarnya dari poster tersebut; yaitu setara dengan 60 x 90 cm.

OBJEKTIF KOMPETISI.
  1. Tema poster:
    “Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang untuk Kesejahteraan“
  2. Target poster:
    “Sasaran utama komunikasi adalah untuk merubah prilaku masyarakat untuk
    meningkatkan partisipasi dalam kelestarian terumbu karang”.
  3. Tujuan poster:
    • mengkomunikasikan tema,
    • menggugah masyarakat umum untuk menjadi individu/komunitas yang aktif berpartisipasi menjadi pelestari lingkungan hidup dan sumber daya kelautan,
    • menghidupkan kecintaan para nelayan dan masyarakat umum akan manfaat
      kelestarian alam untuk kekayaan potensi kehidupan laut, serta keindahan alamnya,
    • menggugah kesadaran para nelayan dan masyarakat umum agar melakukan upaya pencegahan individu/kolektif atas perusakan kehidupan kelautan.
  4. Anjuran:
    Peserta Kompetisi dianjurkan untuk memperdalam referensi tentang tema Kompetisi,
    membangun esensi masalah dan sasaran komunikasi (terutama cara pemilihan gaya
    bahasa atau kata-kata yang cocok untuk masyarakat Indonesia secara umum), serta
    mengkaji manfaat desain dan fungsi poster. Terlampir dokumen "Ekosistem Terumbu
    Karang" yang dapat digunakan sebagai acuan dasar pembuatan konsep visual.
KETERANGAN TEKNIS KOMPETISI.
  1. Format karya poster:
    • karya asli: dibuat dengan format RGB, tiff, ukuran 3543 x 5315 pixels (setara dengan 60 x 90 cm, 150 pixels/inch), posisi vertikal,
    • thumbnail (perkecilan) karya: dibuat dengan format RGB, jpg, ukuran 534 x 800 pixels (setara dengan 9 x 13.5 cm, 150 pixel/inch), posisi vertikal, file size < 220 KB.
  2. Ketentuan karya:
    • teknis dan gaya visualisasi bebas, orisinal, asli 100% buatan sendiri dan tidak memakai elemen yang melanggar hak cipta (pastikan apabila menggunakan gambar/foto yang didownload dari internet atau dari sumber manapun, hak ciptanya ada pada peserta) dan etika pembuatan karya cipta (bukan tiruan atau jiplakan),
    • apabila ada pembuktian pelanggaran ketentuan ini, karya akan dianulir dan/atau
      dibatalkan penghargaannya,
    • karya bisa berupa hasil kerja individual atau kolaborasi dengan mengatasnamakan salah satu individu yang terlibat penuh dan memenuhi persyaratan sebagai peserta,
    • karya bisa dibuat dengan menggunakan program grafis di komputer atau
      dibuat/digambar secara manual kemudian dipindai (scanned) atau difoto digital,
      sehingga berwujud digital,
    • hak cipta seluruh karya yang diterima panitia merupakan milik masing-masing peserta. Panitia, penyelenggara dan pihak sponsor berhak mempublikasikan karya tersebut dengan memberi informasi/kredit pemilik hak ciptanya.
  3. Ketentuan isi paket/amplop pengiriman karya:
    • 1 buah CD (compact disc) berisi karya asli dan thumbnail karya
    • 1 buah komputer printout karya ditempel ke atau pada kertas A4 tebal
    • 1 formulir registrasi Kompetisi (cetakan/printout/ foto kopi) yang sudah diisi lengkap (biodata dan penjelasan/rasionalisasi karya)
    • 1 buah photocopy KTP
    • Tulis “Kompetisi Desain Poster Deep Indonesia 2010” pada sudut kiri atas amplop dan amplop tidak digulung/dilipat.
  4. Waktu dan alamat pengiriman karya:
    • paket/amplop karya selambat-lambatnya diterima di alamat panitia tanggal:
      5 Maret 2010, jam 17.00 wib (BUKAN CAP POS)
    • karya dikirim langsung/via pos ke alamat panitia.

PENJURIAN.
Seluruh karya terkirim akan mendapat kesempatan dinilai oleh dewan juri yang akan dilakukan pada tanggal 9 maret 2010. Satu nama peserta hanya punya kesempatan untuk mendapat satu penghargaan.

Dewan Juri terdiri dari profesional di bidang desain grafis dan advertising, serta wakil dariCoremap II.

Keputusan dewan juri bersifat mutlak, tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan komunikasi atau surat menyurat. Jika setelah hasil keputusan juri, kemudian terbukti karya pemenang mengandung unsur pelanggaran ketentuan Kompetisi (terutama pelanggaran unsur hak cipta dan adanya penjiplakan/plagiasi), maka karya tersebut dapat dibatalkan sebagai pemenang, termasuk pembatalan penghargaannya.

Hal yang dijadikan dasar penilaian juri adalah:
- orisinalitas karya,
- kesesuaian tema dan konsep desain,
- lingkup kedalaman eksplorasi tema serta komunikatif dalam menyampaikan pesan,
- inovasi serta sisi artistik penyajian visual.

PENGHARGAAN.

Pemenang kompetisi ini akan mendapatkan sertifikat dan hadiah apresiasi, dalam bentuk sebagai berikut:
  • Pemenang pertama: uang Rp. 5.000.000,-dan hadiah hiburan sponsor
  • Pemenang kedua: uang Rp. 3.000.000,- dan hadiah hiburan sponsor
  • Pemenang ketiga: uang Rp. 2.000.000,-dan hadiah hiburan sponsor
  • Beberapa peserta finalis lainnya akan mendapat hadiah dari sponsor.
Karya pemenang, finalis dan beberapa karya peserta yang layak, akan dipamerkan di acara DEEP Indonesia 2010, tanggal 12–14 Maret 2010 di Hall A, Jakarta Convention Center, dan akan diberikan sertifikat tanda keikutsertaan pameran dan publikasi tingkat internasional.
Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada acara tersebut pada tanggal 14 Maret 2010. Karya finalis juga akan ditayangkan mulai tanggal 10 Maret 2010 di situs internet dengan alamat:
http://www.fdgi.info/
http://www.desaingrafisindonesia.co.cc/.

INFORMASI LEBIH LANJUT:
Panitia Kompetisi Desain Poster
Terumbu Karang Coremap II
Jl. Tebet Barat 5C no 30
Jakarta 12810
KONTAK PANITIA: (harap tidak via sms)
Stella: 0812 959 8875 / 021 985 38382
Caroline Wong: 0817 999 2992 / 021 973 92929

INFORMASI INI DAN FORM REGISTRASI KOMPETISI BISA DIAKSES DARI:
http://www.deepindonesia.com/
http://www.fdgi.info/
http://www.xnetindonesia.com/
http://www.dkp.go.id/
http://www.coremap.or.id/
READ MORE - Kompetisi Desain Poster Terumbu Karang COREMAP II - DEEP INDONESIA 2010

Terumbu Karang Rusak, Dua Pulau di Lombok Timur Tenggelam

Kamis, Januari 28, 2010

MATARAM | SURYA Online - Dua buah gili (pulau kecil) di wilayah Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tenggelam akibat kerusakan terumbu karang.

Bupati Lombok Timur, M Sukiman Azmy, mengemukakan hal itu saat dialog dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata, usai peresmian prototype Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Hybrida di Ketapang, Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur, Selasa (22/12).

“Sudah ada dua gili yang tenggelam akibat kerusakan terumbu karang dan saya tidak menghendaki hal itu terulang kembali,” ujarnya.

Dua gili yang dimaksud yakni Gili Pengadah dan Gili Kapal yang luasnya sekitar belasan hektare namun telah punah (tenggelam) akibat kerusakan terumbu karang. Dua gili tersebut bagian dari delapan gili yang pernah ada di Selat Alas Kabupaten Lombok Timur. Enam gili lainnya yakni Gili Kondo, Gili Lawangan, Gili Sulat, Gili Bidara, Gili Lampu, dan Gili Bagik.

Kini, Gili Kondo pun terancam punah akibat ulah kelompok masyarakat yang mengeksploitasi terumbu karang secara besar-besaran.

Untuk menggapai gili-gili di Selat Alas itu, dapat menggunakan perahu motor dari Pelabuhan Laut Kayangan di ujung timur Pulau Lombok, yang memerlukan waktu tempuh sekitar satu jam.

Sementara jarak tempuh dari Mataram, Ibukota Provinsi NTB ke Pelabuhan Kayangan lebih dari 100 kilometer atau sekitar dua jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Secara keseluruhan, di perairan Kabupaten Lombok Timur terdapat 33 buah gili dari total 278 buah gili yang menyebar di berbagai wilayah kabupaten di NTB.

Sukiman mengatakan, pihaknya tengah memprogramkan pemberdayaan masyarakat yang teridentifikasi sebagai pelaku pengrusakan terumbu karang di perairan Lombok Timur.

“Kami sudah alokasikan sejumlah dana di APBD tahun 2010 yang sudah direstui kalangan legislatif untuk memberdayakan masyarakat yang sering merusak terumbu karang,” ujarnya.

Menurut Sukiman, perusak terumbu karang dari kalangan nelayan akan dimodali peralatan penangkapan ikan agar melupakan terumbu karang. Demikian pula, masyarakat dari kalangan petani dan peternak yang selama ini ikut-ikutan merusak terumbu karang sehingga dua buah gili punah, akan diberikan modal usaha tani ternak.

“Bahkan, akan diberi sapi untuk dikembangkan guna menghasilkan pendapatan keluarga yang menjanjikan,” ujarnya.

Sumber : Surya Online, 22 Desember 2009
READ MORE - Terumbu Karang Rusak, Dua Pulau di Lombok Timur Tenggelam

Coremap II Gelar Pemilihan Duta Karang

Rabu, November 11, 2009

RANAI- Coral Reef Rehabilitation and Management Program (Coremap) II Kabupaten Natuna menggelar pemilihan Duta Karang tingkat SLTA, Senin (5/10). Nantinya, peserta yang terpilih akan diutus ke pemilihan Duta Karang tingkat nasional.

Ketua Panitia, Syahran Mulatua mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh perwakilan dari sembilan sekolah setingkat SLTA. Selain pemilihan Duta Karang, Coremap II juga menggelar acara sosialisasi tentang pengelolaan dan manfaat terumbu karang bagi kalangan pelajar.

"Sasaran yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah terciptanya kecintaan terhadap terumbu karang dan lingkungan sekitarnya di lokasi Coremap II terutama bagi generasi muda," katanya saat ditemui di lokasi acara di aula Hotel Fiona.

Adapun kegiatan yang dilaksanakan, kata Syahran diantaranya, lomba cerdas cermat mengenai terumbu karang, festival atau kontes inovator muda melalui karya tulis ilmiah serta pemilihan Duta Terumbu Karang.

"Nanti akan pilih pelajar yang menjadi Duta Karang Kabupaten Natuna untuk diutus ke tingkat nasional seperti tahun sebelumnya yang berlangsung selama tiga hari," kata pria yang juga ketua Yayasan Lembaga Ekonomi Pengembangan Pesisir (YLEPP) ini.

Sembilan sekolah yang mengikuti kegiatan ini yaitu, SMAN 1 dan SMAN 2 Bunguran Timur, SMKN 1 Kabupaten Natuna, SMAN 1 Pulau Tiga, SMA Ansor Bunguran Selatan, SMA Abdi Umat Bunguran Timur Laut, SMK YPMN, MAN Ranai dan SMAN 1 bunguran Utara.

"Harapan kita, sejak dini kecintaan terhadap lingkungan terkhusus terumbu karang bisa terbangun dari gerasi muda," kata Syahran.

Sumber : sijorimandiri.net, edisi 06 Oktober 2009
READ MORE - Coremap II Gelar Pemilihan Duta Karang

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas