
GORONTALO - Sekitar 40 persen terumbu karang di Teluk Tomini yang ada di kawasan perairan Provinsi Gorontalo, diperkirakan rusak, disebabkan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak.
FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT PECINTA TERUMBU KARANG (FORKOM MATABUKA)
My site is worth$11,136.6Your website value?

Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 16.33 0 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA

Kondisi terumbu karang di Teluk Tomini yang masuk dalam wilayah pantai selatan Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, semakin rusak. Kerusakan terumbu karang semakin parah akibat akitivitas pengeboman ikan. Warga berharap polisi meningkatkan patroli di wilayah perairan tersebut.Berdasar catatan Sustainable Coastal Livelihoods and Management (Susclam), organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian alam wilayah Teluk Tomini, tutupan terumbu karang di bawah 50 persen pada tahun 2004. Diperkirakan tutupan terumbu karang di wilayah perairan Kabupaten Pohuwato tersebut semakin menurun pada tahun ini. Pasalnya, pengeboman ikan di wilayah tersebut masih marak terjadi.
"Maraknya pengeboman ikan ini akibat faktor ekonomi masyarakat nelayan. Selain itu, penegakan hukum terhadap pelaku pengeboman ikan masih rendah," kata koordinator Susclam, Rahman Dako, Senin (7/3/2011) di Gorontalo.
Rahman menambahkan, kondisi tutupan terumbu karang di bawah 50 persen dikategorikan rusak. Kondisi lebih parah juga terjadi di perairan selatan Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Ada beberapa lokasi di perairan di sana yang tutupan terumbu karangnya kurang dari 30 persen atau rusak berat.
Anggota Komisi C DPRD Pohuwato, Ibrahim Hamzah mengatakan, pengeboman ikan sudah meresahkan nelayan lokal di Pohuwato. Selain membunuh benih ikan, pengeboman juga berdampak pada hancurnya terumbu karang di wilayah perairan tersebut. Padahal, terumbu karang menjadi sarang ikan berbagai jenis.
"Kami meminta agar polisi perairan meningkatkan operasi di wilayah kami. Sebab, pengeboman ikan sudah sangat meresahkan. Selain merusak benih, terumbu karang juga turut hancur," kata Ibrahim.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 10.35 0 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI

ENGGANO-- Masyarakat di Pulau Enggano Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara meminta pemerintah memasang sirene peringatan dini tsunami di pulau berpenduduk lebih 2.800 jiwa itu.Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 15.09 0 komentar

KENDARI-- Sekolah Pengelolaan Perlindungan Kelautan Perikanan berskala internasional (School For Marine Protected Area Management) di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, segera dibangun dalam waktu dekat.Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 12.32 0 komentar
Label: BERITA


Salah satu isu yang disepakat dalam pertemuan APEC ketiga dan dimuat dalam Deklarasi Paracas adalah isu kelautan terhadap keamanan pangan. Salah satu jenis ikan yang permintaan mengalami peningkatan secara signifikan adalah ikan karang hidup (seperti ikan kerapu), terutama pasar internasional. Sementara itu, perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan merupakan salah satu komponen penting di dalam melaksanakan keamanan pangan. Disampaikan Dr.Gellwynn Jusuf selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan sekaligus Lead Shepherd-APEC Fisheries Working Group pada saat membuka secara resmi workshop internasional bertajuk "market-based improvement on live reef fish food trade" di Hotel Sanur Paradise, Bali hari ini (1/3).
Lebih lanjut Gellwynn menyampaikan bahwa pengaturan perdagangan ikan karang hidup harus dilakukan dengan pendekatan yang konperhensif untuk meyediakan akses masyarakat terhadap pangan, perdagangan, keamanan lingkungan dan keberlanjutan sumberdaya. Keberadaan lingkungan "sehat" diyakini dapat meningkatkan populasi dan kelangsungan ikan karang. Harga ikan karang hidup di pasaran jauh lebih tinggi dibandingkan ikan sejenis yang telah diolah, bahkan ikan karang hidup dari alam lebih banyak diminati dibandingkan ikan karang hasil budidaya. Untuk itu, forum kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC) sangat berperan dalam menyelaraskan perdagangan ikan karang hidup secara lestari, mengingat sebagian besar yang terlibat dalam perdagangan ikan karang hidup adalah anggota APEC, tegas Gellwyn.
Sementara itu, Dirjen P2HP, Dr. Victor Nikijuluw dalam sambutannya yang disampaikan Sesditjen P2HP, Dr. Syafril Fauzi menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi dunia internasional dalam penyelamatan kelestarian ikan karang hidup, khususnya dalam hal pengaturan perdagangannya. Menurutnya, saat ini kelestarian perdagangan ikan karang hidup terancam karena beberapa hal, yaitu: praktek penangkapan ikan ilegal dan destruktif (bom, sianida dll), penangkapan ikan berlebih (over fishing), menangkap ikan berukuran kecil, dan tingginya permintaan ikan karang hidup dari alam serta anaknya yang setiap tahun mengalami peningkatan. Forum ini diharapkan dapat mengatur mekanisme perdagangan ikan karang hidup sehingga keberlanjutan sumberdaya ini terjaga.
Permintaan ikan karang hidup sejak tahun 1998 terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini memberikan dampak serius terhadap kelestarian ikan karang hidup. Saat ini, Hongkong tercatat sebagai importir utama komoditas ikan karang hidup, dengan nilai sekitar Rp 1,4 triliun pada tahun 2008 dan Indonesia menjadi salah satu negara eksportir terbesar ke negara tersebut, yakni sebesar 25 persen atau masih dibawah Filipina yang berkontribusi sebesar 28 persen.
Penyelenggaraan workshop dilaksanakan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan sekretariat APEC dan organisasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF). Kegiatan yang berlangsung selama 3 hari (1-3 Maret 2011) dihadiri oleh 122 peserta dari 12 negara anggota APEC, yaitu: Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Thailand, Vietnam, Peru, Rusia, Filipina, Hongkong, Australia, Papua Nugini, dan Malaysia. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama dari para anggota APEC mengenai pentingnya pengelelolaan perdagangan ikan karang hidup secara berkelanjutan, disamping bertukar pengalaman para negara anggota sehingga dapat menjadi proses pembelajaran negara lainnya.
Untuk keterangan lebih lanjut silakan menghubungi Dr. Yulistyo Mudho, M.Sc, Kepala Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, (HP. 0811836967)
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 12.15 1 komentar
Label: AKTIVITAS KOMUNITAS, APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI
Hiu memiliki sistem navigasi internal yang memungkinkan mereka menentukan tujuan akhir dalam kurun 30 mil. Hiu juga memanfaatkan medan magnet bumi.Ilmuwan di Florida Museum of Natural History menemukan bahwa gerakan hiu menetapkan tujuan dengan tepat melibatkan kemampuan pemindaian hiu berdasarkan memori yang tersimpan dari perjalan sebelumnya.
"Penelitian kami menunjukkan hiu memiliki penentuan lokasi dengan sangat tepat. Secara sederhana, mereka tahu harus pergi ke arah mana," ujar ilmuwan Yannis Papastamatiou. Banyak orang yang mampu berjalan dengan tujuan 3,7 hingga lima mil namun bayangkan itu terjadi pada jarak yang lebih jauh di laut pada malam hari.
“Siapapun yang sering menyelam tentu memahami bahwa berada di bawah laut tanpa kompas sangatlah sulit. Namun, kemampuan ini kami temui pada hiu harimau,” kata Papastamatiou lagi.
Hiu mampu mendeteksi 30 mil dengan melihat bentuk gerakan dari skala spasial yang berbeda. Inilah cara menggabungkan jarak dan panjang relatif secara sederhana.
Ilmuwan juga menemukan hiu dewasa memiliki kemampuan navigasi yang lebih baik dari hiu remaja. ini berarti kemampuan pemetaan tersebut dibangun sejalannya waktu.
Kekuatan indrawi hiu memang legendaris. Hewan tersebut juga mampu mendeteksi konsentrasi bahan kimia sekecil apapun dalam air, frekuensi suara rendah hingga ratusan meter serta memanfaatkan medan magnet.
Penelitian terbaru dipublikasikan di Journal of Animal Ecology.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 14.51 0 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI

Restoran menjadi salah satu aspek penting dalam pariwisata. Destinasi wisata di daerah pesisir menjadikan bahan-bahan laut sebagai hidangan utama di restoran. Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Laut, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil, Universitas Hasanuddin, Jamaluddin Jompa mengatakan selalu ada godaan untuk mengambil sumber daya laut yang berdekatan dengan pasar secara berlebihan. "Orang yang makan tidak pernah tahu ikan dari mana dan kondisi laut bagaimana. Nelayan sebagai pengamat alam. Komoditi ikan masih bisa diproduksi secara alami misalnya seperti ikan baronang yang pertumbuhannya cepat, bisa dimanfaatkan secara lestari," ungkapnya Selasa, (1/3/2011). Hanya saja, lanjutnya, asal setiap area ikan tidak ditangkap secara berlebihan. Ia menuturkan ikan memiliki populasi optimun dan bisa diatur pengambilan ikan secara lestari.
"Laut bukan seperti tambang. Alam punya kemampuan untuk tumbuh sendiri. Kalau tidak diambil akan mati alami. Hanya saja, manusia mengambil sumber daya laut melebihi kemampuan alam untuk memproduksi," katanya. Ia menambahkan untuk meningkatkan produksi maka perlu turunkan dulu produksi.
"Tapi kita nggak pernah kasih break. Kalau kita manage kan ada istilahnya zoning. Tempat lain bisa diambil secara lestari baik jumlah maupun ukurannya. Ini perlu tindakan kolektif. Ekstraktif boleh saja, tapi diatur," ungkapnya.
Ia mengatakan untuk ikan agar jangan ambil yang masih kecil. "Cukup berikan 1 kali untuk ikan kawin sudah oke. Ikan bisa bertelur puluhan ribu. Kenapa ikan bisa habis? Karena tidak diberi kesempatan satu kali saja untuk kawin. Itu solusinya. Seringkali pikiran nelayan kalau lepas ikan kecil mikirnya besok diambil nelayan. Perlu menahan godaan secara kolektif," jelasnya.
Sebagai contoh adalah Australia. Jamaluddin mengatakan kepiting betina tidak boleh dikonsumsi di Australia. "Di Indonesia populasi kepiting turun terus. Tidak ada kepedulian untuk melestarikan laut secara action," imbuhnya. Wisata bahari, menurutnya, tidak sekadar laut yang sedap dipandang namun juga kesempatan alam untuk pulih.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 17.10 0 komentar

Eksploitasi berlebihan tanpa diikuti dengan pelestarian jangka panjang pada terumbu karang meningkatkan resiko kepunahan terumbu karang. Laporan Lembaga Sumber Daya Dunia (WRI) di Washington berikut 25 organisasi lainnya meramalkan bila kondisi itu tidak mengalami perubahan maka di tahun 2050 mendatang, terumbu karang dunia akan punah.Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 10.30 1 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI

Nelayan di Kota Bitung Sulawesi Utara mengeluhkan makin sulitnya menangkap ikan tuna. Hal ini berdampak pada hasil tangkapan dan keuntungan yang didapat. Menurut mereka, kesulitan mencari tuna terjadi setelah tahun 2005."Sebelum tahun 2005, sekali melaut bisa dapat 18 ekor. Setelah tahun 2005, paling dapatnya 7 ekor," kata Mustafa Demolingo, salah seorang nelayan di kampung Candi, Bitung yang puluhan tahun telah melaut mencari tuna.
Kesulitan berkaitan dengan berkurangnya stok ikan di wilayah tempat nelayan biasa mencari tuna. Mustafa mengatakan, "sekarang kita harus cari tuna makin jauh, lebih dari 80 mil."
Yusuf Tamara yang juga nelayan di wilayah Candi mengatakan, dahulu nelayan biasa menangkap tuna di jarak kurang dari 30 mil. "Cuma di belakang Pulau Lembeh itu (pulau dekat pantai Bitung)," ungkapnya. Waktu yang dibutuhkan untuk menangkap ikan pun lebih lama. Nelayan mengatakan bahwa saat ini diperlukan 7-10 hari. Padahal, sebelumnya hanya perlu sehari untuk mengisi penuh kapal.
Mustafa mengungkapkan, rumpon yang terdapat di laut lepas ialah biang keladi permasalahan itu. "Banyak nelayan asing pasang rumpon di Laut Maluku. Karena tuna sudah ditangkap di sana, maka tidak datang ke sini," katanya.
Rumpon adalah alat yang diciptakan oleh nelayan untuk mengumpulkan ikan di wilayah tertentu. Dalam perikanan tuna, rumpon digunakan untuk mengumpulkan cakalang, pangan tuna. Kumpulan cakalang akan menarik kawanan tuna datang sehingga lebih mudah ditangkap.
Sementara, Mustafa dan Yusuf mengatakan, umumnya nelayan asing yang dimaksud berasal dari Filipina dan Taiwan. Nelayan Filipina biasanya menangkap ikan hingga perairan Sulawesi, Maluku, Halmahera Utara dan Irian Jaya. Sementara nelayan Taiwan biasanya menangkap di perairan Arafura.
Untuk mengatasi kesulitan mendapat ikan, saat ditemui Kompas.com Kamis (24/2/2011), Mustafa mengatakan, "Pemerintah ini harus kontrol kapal-kapal asing itu. Kalau tidak diatasi ya makin susah."
Dengan berkurangnya penangkapan ikan, Yusuf mengatakan bahwa penghasilan bisa turun drastis. "Kalau sekarang ini dapatnya 10 juta per tahun rata-rata. Kalau dulu itu 10 juta per bulan," paparnya.
Nelayan Candi adalah kalangan yang menangkap tuna dengan memancing (handline). Tuna yang ditangkap oleh nelayan tersebut adalah tuna yang sedang bergerak, berada relatif lebih dekat dari permukaan air.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 10.49 1 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI

Ecotourism atau ekowisata dapat membantu pelestarian hutan. Salah seorang delegasi dari Kamboja dalam acara International Youth Forum On Climate Change, di JCC Jakarta mengungkapkan hal tersebut pada sesi Komodo, Biodiversity, Climate Change, pada Kamis (24/2/2011)."Kami punya ekowisata untuk menjaga hutan. Namun hutan ditebas untuk kebutuhan tambang," katanya.
Ia mengatakan ekowisata yang dikembangkan tersebut hanya bertahan satu tahun karena hutan diubah menjadi lahan pertambangan. Pihaknya bertahun-tahun mencoba mempengaruhi pemerintah untuk mempertahankan hutan. Tetapi, usaha ini selalu buntu.
Siti Nuramaliati Prijoni dari LIPI saat menanggapi pernyataan tersebut mengatakan bahwa permasalahan tersebut juga terjadi di Indonesia. Namun, Indonesia mempunyai regulasi yang ketat bila mengubah hutan menjadi kebutuhan lain.
"Saat ini tidak mudah untuk mengkonversi hutan menjadi fungsi lain, seperti pertambangan," kata Siti.
Ia mengaku umumnya pemerintah daerah memerlukan uang secara cepat. Sementara itu, pertambangan menghasilkan uang lebih banyak dan cepat daripada ekowisata.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 10.33 0 komentar

Pernah tahu soal terumbu karang buatan? Kala becak tak lagi boleh beroperasi, di Jakarta pernah ada kebijakan untuk membuang becak-becak itu ke laut. Maksudnya bukan asal buang, melainkan untuk dijadikan terumbu karang buatan. Baru-baru peletakan terumbu artifisial juga dilakukan di Cancun, Meksiko. Namun, terumbu karang buatan dibuat dari patung-patung khusus.Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 13.59 3 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA, OPINI
YContest! (YourContest) adalah Kontes Kreatif dengan tema Share Pengalaman Hijau. Yaitu pengalaman kamu dalam hal membantu menghijaukan kehidupan di sekitarmu, dari mulai kegiatan-kegiatan kecil tentang kebersihan, pengalaman usaha kamu dalam menghijaukan lingkungan atau kegiatan besar; pengabdian masyarakat, kegiatan amal sosial, atau kegiatan yang lain yang bahkan sampai merubah hidup kamu, sangat terkenang.Penilaian:
Penilaian cerita didasarkan beberapa aspek ;
Hadiah (Prices):
Waktu:
Pendaftaran Ditutup : 28 Februari 2011
Penjurian Cerita : 1- 15 Maret 2011
Pengumuman Pemenang : 17 Maret 2011
Pengumuman pemenang dapat dilihat di website http://yourshopers.com.
(Hati-hati Penipuan! YShop tidak pernah memungut biaya apapun kepada pemenang,
kecuali biaya pendaftaran)
Sumber : YourShopper - Gerakan Mahasiswa Menghidupkan Penghijauan
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 10.34 0 komentar
Label: INFO LOMBA
Spesies baru kuda laut berhasil ditemukan. Kuda laut ini unik sebab berukuran hanya beberapa milimeter. Selain itu, spesies baru ini juga tidak memiliki struktur sirip di bagian dorsal atau punggung.Spesies baru kuda laut ini dinamai Hippocampus paradoxus. Keberadaannya baru disadari setelah spesimen kuncinya disimpan lebih dari satu dasawarsa di South Australian Museum di Adelaide.
Ralph Foster, manajer koleksi di museum tersebut, mengatakan, "Spesies ini diketahui dari sebuah spesimen yang telah berada di museum sejak 1995. Saya menemukannya di rak pada 2006 dan menyadari ada yang tidak biasa."
Foster kemudian menganalisis dengan menggunakan CT Scan untuk mendapatkan citra tiga dimensi rangka hewan itu. Cara ini biasa digunakan ilmuwan untuk menentukan karakteristik taksonomi penting berdasarkan sistem rangkanya.
Setelah menganalisis, Foster menentukan bahwa spesimen tersebut memang spesies baru kuda laut. Spesies ini unik sebab berukuran mini, hanya beberapa milimeter, serta tidak memiliki sirip dorsal atau punggung.
"Penelitian membedakan dengan jelas spesimen dari semua spesies kuda laut yang ada," kata Foster. Karena itu, spesies ini dinamai paradoxus sebab ciri-cirinya aneh dan kontradiktif dengan spesies-spesies lain.
"Spesies ini mungkin tidak pernah atau setidaknya jarang ditemukan sebelumnya," tutur Foster. Hal itu mungkin berkaitan dengan habitat spesies yang terpencil ataupun minimnya survei.
Kedalaman tempat spesimen ini ditemukan termasuk zona Mesophotic. Zona tersebut biasanya di luar jangkauan scuba diver, yang biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui kemungkinan adanya spesies baru.
"Dugaan saya, kemungkinan spesies ini umum pada habitat pilihannya. Namun, dibutuhkan syarat-syarat sangat spesifik untuk membuatnya terdistribusi merata, kecuali Anda menemukan habitat tepat," ucap Foster.
Saat ini telah ditemukan 230.000 jenis kehidupan laut, termasuk kuda laut. Jumlah tersebut diperkirakan hanya 30 persen jumlah sebenarnya. Ilmuwan menduga banyak spesies akan punah sebelum ditemukan sebab banyak laut telah dirusak.
"Kuda laut adalah hewan yang sangat sensitif terhadap polusi dan kerusakan habitat. Bisa jadi jenis yang baru diidentifikasi sudah punah dari alam liar," kata Chris Brown dari Weymouth Sea Life Park.
Diposting oleh Putri Bariel - Blue Biroe di 14.00 0 komentar
Label: APA DAN MENGAPA, BERITA