DUA KERANG RAKSASA DITEMUKAN DI SULAWESI

Kamis, Juli 14, 2011

Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli Kerang raksasa langka spesies Tridacna rosewateri yang ditemukan di perairan Sulawesi Tenggara oleh pihak Konservasi Taman Laut Kima Toli-Toli, beberapa waktu lalu. Selain T rosewateri, ditemukan juga Tridacna tevoroa. Kedua jenis kima ini sebelumnya tidak tercatat hidup di perairan Indonesia.

Dua spesies kerang raksasa alias kima langka ditemukan di perairan Sulawesi Tenggara. Jika terverifikasi, maka temuan ini menjadikan Indonesia satu-satunya negara tempat habitat hidup kesembilan spesies kima di dunia.

Kedua spesies baru itu adalah Tridacna tevoroa dan Tridacna rosewateri yang ditemukan dan diidentifikasi oleh kelompok swadaya Konservasi Taman Laut Kima Toli-Toli di Kecamatan Lalonggasumeeto, Konawe, Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, jenis kima yang selama ini diketahui hidup di perairan Indonesia adalah Tridacna gigas, T maxima, T derasa, T squamosa, T crocea, Hippopus-hippopus, dan Hippopus porcellanus. Ketujuh jenis kima itu masuk kategori satwa yang dilindungi menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999.

"Kami sebenarnya menemukan kedua kima sejak memulai konservasi setahun lalu. Awalnya kami pikir keduanya jenis yang sudah ada. Namun, setelah diamati saksama, ternyata ciri-ciri fisiknya berbeda," kata Habib Nadjar Buduha, Ketua Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli, Minggu (3/7/2011).

Setelah melakukan riset melalui berbagai sumber internet dan publikasi penelitian ahli kelautan dunia, Habib menyimpulkan, ciri kedua kima serupa dengan spesies Tridacna tevoroa dan Tridacna rosewateri. Selama ini, T tevoroa hanya ditemukan di Kepulauan Fiji dan Tonga di Pasifik. Adapun T rosewateri hanya ditemukan di Mauritius dan Madagaskar. Belum tahu bagaimana mereka bisa ditemukan di perairan Sulawesi.

Kima merupakan kerang laut besar. Ukurannya bervariasi, mulai dari sekepal tangan orang dewasa hingga sepanjang 1,3 meter dan berat 250 kg. Populasi kima kian langka akibat perburuan besar-besaran sebagai makanan dan hiasan.

READ MORE - DUA KERANG RAKSASA DITEMUKAN DI SULAWESI

MENULIS DI BLOG HARUS PUNYA ETIKA

Jumat, Juli 01, 2011


Di dunia internasional sejak tahun 2003 sampai sekarang, masih belum tercapai kesepakatan mengenai apa saja yang termasuk etika dalam menulis blog. Namun menulis di blog haru hati-hati karena terkait ranah etika erat kaitannya dengan moral dan beririsan dengan ranah hukum. Demikian dikatakan Blogger Risa Amrikasari, yang juga seorang penulis dan Konsultan HAKI pada acara Blogilicious RoadBlog yang diselenggarakan oleh idblog network di Gedung Telkom Datel Jakarta Selatan.

Pada kesempatan itu, Risa Amrikasari mengajak para Blogger yang hadir untuk bersepakat mengenai apa saja yang harus dijadikan aturan secara etika dalam mengekspresikan kebebasan berpendapat dan berpikir melalui media online. "Kalau saya sebagai pembicara 'mengatur' para Blogger harus begini dan begitu dalam menulis, tak akan ada hasilnya. Tetapi kalau dengan cara berdiskusi dan bersepakat, keluar dari ruangan ini akan ada kesepakatan setidaknya dari para Blogger yang hadir di sini untuk sama-sama menjunjung dan membudayakan etika menulis di blognya masing-masing," ujar Risa.

Sesi begitu dinamis dan para Blogger berlomba-lomba memberikan masukan yang ditampung oleh Risa melalui catatan oleh moderator. Di akhir sesi, tercapailah "12 Butir Kesepakatan Membudayakan Etika Menulis Blog" yang telah dirangkum. Peserta yang berjumlah sekitar 100 orang pun menandatangani lembar kesepakatan yang telah dibuat oleh Risa, lengkap dengan nama dan alamat blog masing-masing.

Ke-12 butir kesepakatan tersebut adalah :

1. Menghargai dan menjunjung tinggi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual dengan menghindari plagiarisme, pembajakan, dan selalu mencantumkan sumber setiap kali mengutip karya orang lain.

2. Tidak mendiskreditkan pihak lain dan selalu berkomitmen untuk menulis secara proporsional.

3. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur pornografi.

4. Selalu berbagi pengetahuan dan kebaikan melalui blog masing-masing.

5. Tidak berprasangka dan hanya menulis berdasarkan fakta yang diyakini bisa dibuktikan serta tetap dengan menjunjung tinggi etika kesopanan dalam menulis.

6. Tidak melakukan spamming melalui kolom komentar.

7. Tetap menjaga kesopanan dan rasa saling menghormati dalam memberikan komentar pada blog yang dikunjungi.

8. Tidak melakukan hack pada website atau blog lain.

9. Tidak menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur SARA.

10. Menggunakan bahasa yang baik dalam menulis.

11. Tetap menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dalam menulis tetapi tidak melanggar hak-hak orang lain.

12. Bersedia meralat informasi yang telah ditulis dalam blog jika di kemudian hari terdapat kesalahan dalam memuat tulisan di blog.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Munculnya berbagai komunitas blog pun membuat kekuatan blogger dalam menyuarakan pesan mereka secara online tak diragukan lagi. Bahkan blog yang dimanfaatkan sebagai media publikasi tulisan-tulisan yang sifatnya akademik maupun ilmiah, telah banyak dijadikan rujukan bagi berbagai penelitian.

Layaknya sebuah tulisan yang bisa diakses dan dibaca oleh semua pengguna internet di seluruh, tentunya dalam menulis blog diperlukan juga aturan-aturan yang menyangkut etika dalam berkomunikasi online. Beberapa tahun belakangan ini, untuk meningkatkan kualitas blog dan tulisan para blogger itu sendiri, ada beberapa aturan baik tertulis maupun tak tertulis. (Mun/A-147)***

Sumber: Pikiran Rakyat online, 01 Juli 2011
READ MORE - MENULIS DI BLOG HARUS PUNYA ETIKA

EMPAT EKOREGION BELUM DILINDUNGI

Rabu, Juni 15, 2011

Pemandangan di Kampung Arborek, Distrik Meosmansar, Papua Barat yang masih terjaga keindahannya.

Sebanyak empat ekoregion dari 12 ekoregion laut di perairan Indonesia belum memiliki kawasan konservasi. Keempat daerah tersebut meliputi Halmahera (Maluku), Teluk Tomini (Sulawesi), Laut Arafuru, dan Jawa selatan. Tahun 2012 Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan muncul kawasan konservasi dari wilayah itu.

Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan Agus Dermawan, pekan lalu di Jakarta, mengatakan, temuan tersebut merupakan hasil pengumpulan data dari lembaga swadaya masyarakat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan kawasan konservasi laut.

"Tahun 2010 sejumlah 20 peneliti dari Coral Triangle Support Program (CTSP) melakukan penelitian di 12 ekoregion Indonesia. Hasilnya kami kembangkan dan menunjukkan empat wilayah belum memiliki areal konservasi," kata Agus.

Sementara ke-12 ekoregion laut itu melingkupi Perairan Sumatera Barat, Selat Malaka, Paparan Sunda (Laut Jawa), Palawan (Kalimantan bagian utara), Laut Sulawesi/Selat Makassar, Teluk Tomini, Laut Banda, Halmahera, Papua, Laut Arafuru, Lesser Sunda (Bali dan Nusa Tenggara), serta Jawa bagian selatan. Pembagian ini didasarkan kedekatan karakteristik ekosistem perairan setempat.

Sumber : Kompas Indonesia
READ MORE - EMPAT EKOREGION BELUM DILINDUNGI

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN RI dan DUBES AUSTRALIA LUNCURKAN PANDUAN TERUMBU KARANG DAN PERUBAHAN IKLIM

Selasa, Mei 31, 2011


Duta Besar Australia untuk Indonesia, Greg Moriarty bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Muhammad, hari ini meluncurkan buku versi Indonesia berjudul ‘Terumbu Karang dan Perubahan Iklim: Panduan Pendidikan dan Kesadaran’ atau ‘Coral Reef and Climate Change: The Guide for Education and Awareness’ yang diterbitkan oleh Universitas Queensland, di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Fadel Muhammad, bekerja sama dengan Universitas Queensland mengatur penerjemahan buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia.

“Penelitian kelas dunia Australia dalam ilmu-ilmu lingkungan hidup diakui secara luas. Kami gembira bahwa melalui buku ini, kami akan mampu memberi sumbangsih dan bekerja sama dalam pelestarian terumbu karang Indonesia yang indah,” ujar Dubes Moriarty.

Buku ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ilmu dan pelestarian terumbu karang. Hal ini mencakup penelitian ilmiah mutakhir dengan foto-foto yang informatif yang mencakup topik-topik termasuk oseanografi, biologi terumbu karang dan dampak perubahan iklim.

Buku ini memberi alat dan rekomendasi yang praktis untuk merencanakan dan mengukur kesehatan terumbu karang dan program untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pelestarian terumbu karang.

Buku ini diterbitkan pertama kali di Australia pada November 2009. Buku ini diproduksi dan diterbitkan oleh CoralWatch Foundation di Universitas Queensland.

Sumber : Kedutaan Besar Australia

READ MORE - MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN RI dan DUBES AUSTRALIA LUNCURKAN PANDUAN TERUMBU KARANG DAN PERUBAHAN IKLIM

8 SPESIES BARU IKAN KARANG DITEMUKAN DI BALI

Kamis, Mei 26, 2011


Ilmuwan dari Conservation International menemukan delapan spesies ikan karang baru dan satu spesies karang baru di Bali. Spesies-sepsies tersebut diyakini merupakan spesies khas Bali, bukan migrasi dari wilayah lain. Demikian dilansir kantor berita AFP.

Spesies ikan itu meliputi golongan belut, damsels, serta ikan warna-warni. "Kami telah melakukan survei kelautan di 33 tempat di Bali dan berhasil mengidentifikasi 952 ikan karang dan kami menemukan delapan spesies baru," kata penasihat tim peneliti Mark van Nydeck Erdmann.

Survei kelautan dilakukan di kawasan wisata populer timur laut Tulamben, kawasan Dicing, Nusa Dua, Gili Manuk, dan Pemuteran pada kedalaman 10 hingga 70 meter. Hasil penelitian dinilai mengejutkan sebab Bali ternyata memiliki biodiversitas ikan yang tinggi.

Spesies baru yang ditemukan belum dinamai, tetapi masing-masing masuk dalam genus Siphamia, Heteroconger, Apogon, Parapercis, Meiacanthus, Manonichthys, Grallenia, dan Pseudochromis. Sementara jenis karang yang ditemukan masuk dalam golongan Euphyllia.

Karena jenis ikan ini pertama kali ditemukan di Bali, ilmuwan berasumsi bahwa semua spesies tersebut khas Bali. Bersama penemuan itu, ilmuwan menyatakan bahwa kondisi terumbu karang saat ini lebih baik daripada 20 tahun lalu.

Di tengah penemuan spesies ikan baru itu, ternyata beberapa jenis ikan komersial, seperti kerapu, napoleon, dan hiu, sudah sulit ditemukan. Hal ini membuktikan adanya overfishing sehingga menuntut pengendalian penangkapan.

READ MORE - 8 SPESIES BARU IKAN KARANG DITEMUKAN DI BALI

KONTES INOVATOR MUDA 6 DIMULAI

Rabu, Mei 11, 2011

Lomba Makalah Tentang Ekosistem Terumbu Karang!!!
Melalui Proses Sekolah, Penelitian, Studi Pustaka dan Presentasi Makalah

PERANG IDE, BERHADIAH JUTAAN RUPIAH - Inovatif, Kreatif, Persuasif dan Menonjolkan Potensi Daerah

TEMA :
MODEL PELESTARIAN TERUMBU KARANG DARI KACAMATA GENERASI MUDA

Persyaratan Kontestan :
  • Kontestan merupakan siswa SMA/ sederajat se- Indonesia
  • Tim terdiri dari 3 orang
  • Kreatif dan mandiri
  • Mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia
  • Lampiran persetujuan dari sekolah, biodata kontestan dan nomor telepon yang bisa di hubungi
  • Makalah belum pernah dipublikasikan di media manapun
  • Lolos pra-seleksi di tingkat daerah (khusus site COREMAP) pusat
Pra Seleksi :
  • Kontestan dari wilayah kerja COREMAP akan mengikuti seleksi tingkat daerah
  • Kontestan di luar wilayah kerja COREMAP dapat langsung mengirimkan makalah ke panitia pusat
  • Penerimaan makalah terakhir 15 Oktober 2011
  • Seleksi nasional 16 - 30 Oktober 2011
  • Pengumunan finalis (3 terbaik) 31 Oktober 2011
Format Makalah :
  • Tebal makalah 10 - 15 halaman
  • Huruf arial ukuran 12
  • Spasi 1,5
  • Cover terdiri dari : Judul, Nama Tim, Nomor Induk Siswa, Asal Sekolah
  • Isi : Abstrak, Kata Pengantar, Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil dan Referensi
Alamat Pengiriman dan Informasi :
PANITIA PUSAT KIM 6 - TAHUN 2011
Gedung LIPI - Jl. Raden Saleh No. 43 Jakarta Pusat
Telp : (021) 314 3080 ext. 1403 dan 1405
e-mail : edukasi@coremap.or.id atau edukasicoremap@yahoo.co.id


READ MORE - KONTES INOVATOR MUDA 6 DIMULAI

MAYORITAS TERUMBU KARANG DI BANGKA : MATI

Selasa, Mei 10, 2011

Mayoritas terumbu karang transplantasi di Teluk Limau, Bangka mati. Kematian diduga akibat tutupan sedimen yang berasal dari penambangan laut.

Ketua Tim Eksplorasi Terumbu Karang Universitas Bangka Belitung (UBB) Indra Ambalika mengatakan, 100 terumbu karang transplantasi ditanam pada 2009.

"Pada pemantuan Oktober 2010 diketahui empat terumbu karang buatan itu mati. Terumbu karang itu tertutup lumpur. Sisanya terlihat masih hidup dan mulai menempel di konsentrat balok semen yang dirancang untuk terumbu karang transplantasi itu," ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (2/5/2011).

Namun, tim UBB pesimis terhadap terumbu karang lain saat memantau lokasi pada Maret 2011. Saat itu ada 17 kapal hisap timah dan puluhan tambang apung beroperasi di sekitar lokasi transplantasi. Kami khawatir karena kapal-kapal hisap dan tambang apung itu membuang berton-ton lumpur limbah penambangan. Arus laut membawa lumpur ke lokasi penanaman terumbu karang, tuturnya.

"Kekhawatiran itu terbukti dalam pemantauan pada Minggu (1/5/2011). Hanya dua terumbu karang bertahan. Sementara 98 lain mati karena tertutup lumpur. Terumbu karang tidak bisa bertahan karena sedimen lumpur terlalu tinggi. Air terlalu keruh dan tidak cocok untuk pertumbuhan. Padahal, dulu lokasi itu kami pilih karena ekosistemnya masih mendukung. Setelah kapal hisap beroperasi, daya dukung ekosistem menyusut drastis," tuturnya.

Sementara Kepala Dinas Kelautan Kepulauan Bangka Belitung Sugianto mengatakan, hal itu dampak ketidakjelasan tata ruang di Bangka Belitung. "Peraturan tata ruang tidak kunjung selesai dibahas karena banyak faktor. Belum ada pembagian jelas suatu wilayah untuk apa. Jadi, terbuka kemungkinan semua wilayah dipakai untuk apa saja," tuturnya.

Pihaknya sudah membuat ketetapan penambangan harus beroperasi minimal 1,5 mil dari pantai. Wilayah dalam radius 1,5 mil itu dianggap tempat berkembang biak ikan. Selain itu, sebagian nelayan juga lebih aman bergerak dalam wilayah itu.

Namun, banyak penambangan beroperasi di dalam wilayah 1,5 mil itu. Tambang apung dengan jarak kurang dari 200 meter dari pantai bisa terlihat di hampir seluruh pantai di Pulau Bangka. Tambang apung akan lebih banyak lagi beroperasi bila ada kapal hisap atau kapal keruk di suatu pantai.

Sampai saat ini, PT Timah saja mengoperasikan 11 kapal keruk. Sementara mitra PT Timah mengoperasi 55 kapal hisap. Tidak di ketahui berapa jumlah kapal keruk dan kapal hisap yang dioperasikan pihak lain di perairan Bangka Belitung. Pasalnya, tidak ada data pasti.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - MAYORITAS TERUMBU KARANG DI BANGKA : MATI

PERUSAKAN KARANG, MASIH ANCAM WAKATOBI

Kehidupan Suku Bajo di Desa Mola, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Selasa (3/5/2011). Di tempat ini sulit menyebut warga Bajo sebagai suku pengembara. Sebagian warga suku Bajo di Desa Mola tidak lagi hidup di atas laut lepas. Mereka sudah tinggal di dalam rumah berdinding batu bata dan beratap seng.

Aktivitas penambangan karang di Wakatobi masih menjadi ancaman bagi kelangsungan ekosistem laut. Meski jumlah penambang sudah turun, beberapa masih beroperasi, di antaranya yang berasal dari Wangi-wangi.
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3126491' border='0' alt='' /></a>

Koordinator Program WWF Wakatobi Sugiyanta mengatakan, beberapa tahun lalu teridentifikasi 72 penambang karang, 30 di antaranya murni sebagai penambang dan sisanya sebagai sampingan.

"Setelah pembinaan jumlahnya sudah menurun tapi masih ada," kata Sugiyanta. Menurut Sugiyanta, faktor yang mendorong aktivitas penambangan adalah tak adanya pilihan mata pencaharian, lebih mudah mendapat uang dan adanya permintaan dari pasar.

Penambangan kadang juga dilakukan untuk kebutuhan pembangunan pribadi. Aktivitas penambangan biasanya dilakukan dengan linggis dan mengganggu proses budidaya rumput laut. Sugiyanta mengatakan, penambangan membuat air menjadi keruh sehingga mengganggu kesuburan rumput laut yang dibudidayakan warga lain.

Meski penambangan karang jelas dilarang, namun penting menemukan upaya strategis untuk mengajak warga berhenti melakukannya, tak bisa langsung melarang. "Kita sedang upayakan alternatif mata pencaharian, seperti budidaya rumput laut dan ekoturisme," kata Sugiyanta.

Menurut Sugiyanta, jika dibiarkan, penambangan karang akan berdampak negatif pada ekosistem dan warga sendiri. "Dampaknya adalah penurunan jumlah ikan karang. Secara tidak langsung, nanti juga akan berdampak pada kehidupan nelayan," ucap Sugiyanta.

Kepala Bidang Pengambangan Perikanan DKP Wakatobi Bahrul Haer mengatakan, aktivitas penambangan yang juga mengganggu adalah penambangan pasir. Menurutnya, aktivitas penambangan pasir justru lebih sulit diatasi.

"Kalau karang dilarang, untuk membangun masih bisa datangkan batu dari darat. Tapi kalau pasir, masih perlu dicari solusinya," kata Bahrul. Ia mengatakan saat ini masih mengupayakan cara penyelesaiannya, termasuk upaya mendorong perikanan tangkap ramah lingkungan.

Wilayah Wakatobi yang terdiri dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongo adalah kawasan Taman Nasional Laut. Penyelesaian masalah lingkungan medorong suksesnya program konservasi wilayah yang masuk dalam kawasan Segitiga Karang Dunia itu.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - PERUSAKAN KARANG, MASIH ANCAM WAKATOBI

KERANG RAKSASA MAKIN LANGKA

Tridacna squamosa

Populasi kerang laut raksasa atau kima di sekitar perairan Sulawesi Tenggara makin langka akibat maraknya perburuan terhadap hewan dilindungi itu. Hingga saat ini, pemerintah belum memiliki langkah konservasi apapun untuk melestarikan hewan yang berperan vital dalam keseimbangan ekosistem laut dangkal itu.

Ketua Konservasi Taman Laut Kima Toli-toli, Habib Nadjar Buduha, mengatakan, perburuan kima (Tridacna) di wilayah pesisir timur Sultra sudah terjadi sejak lama. "Kima diburu untuk diambil dagingnya dan cangkangnya sebagai hiasan," kata Habib saat ditemui di pusat konservasi kima yang didirikannya secara swadaya di Kabupaten Konawe, Sultra Minggu (8/5/2011).

Dari temuan-temuannya di lapangan, selain nelayan lokal, banyak pula nelayan asing yang berkedok mencari ikan namun sebenarnya berburu kima di perairan Sultra hingga Sulawesi Tengah. "Seringkali aat menyelam, kami tinggal menemukan cangkang-cangkangnya saja di dasar laut," ujar Habib.

Kondisi itu disesalkan Habib. Pasalnya, di wilayah perairan Indonesia hidup tujuh dari sembilan jenis kima yang ada di dunia. "Dua di antaranya merupakan yang paling langka di dunia, yakni Tridacna gigas dan Tridacna derasa yang sekarang hanya tersisa di perairan Sulawesi hingga Papua," katanya.

Ukuran kima bervariasi mulai dari sekepalan tangan orang dewasa hingga bisa tumbuh mencapai panjang 1,3 meter dan berbobot 250 Kg. Harga daging kima yang mencapai 150 dollar AS per Kg di pasaran internasional membuatnya menjadi komoditas incaran.

Karena itu, Habib berharap pemerintah pusat bisa segera turun tangan untuk melindungi biota laut ini. Pemerintah negara-negara lain di Asia, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Australia sudah melakukan konservasi kima. "Hanya Indonesia yang belum," ujarnya.

Kima memegang peranan penting dalam ekosistem laut dangkal karena ia menjadi filter alami air laut dan cangkangnya menjadi tempat hidup berbagai biota terumbu karang. Telur dan anak-anak kima juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan laut.

Dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Bidang Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sultra Ridwan Bolu mengakui terbatasnya jumlah personil maupun anggaran untuk mengawasi perburuan kima tersebut.

DKP Sultra hanya bisa menggelar patroli laut sekali dalam sebulan di satu kabupaten/kota. Dengan jumlah 12 kabupaten/kota di Sultra, maka DKP hanya bisa menggelar satu kali patroli di setiap kabupaten dalam setahun.

Ridwan menambahkan, selain kendala teknis itu, banyak pula masyarakat yang belum paham tentang status kima sebagai hewan yang dilindungi. "Banyak nelayan yang mengambil kima untuk konsumsi sehari-hari," ujarnya.

Untuk mengatasi kendala itu, Ridwan menyatakan pihaknya mengadopsi sistem pengawasan berbasis masyarakat. Masyarakat didorong membentuk kelompok-kelompok untuk mengawasi wilayah lautnya. "Saat ini sudah terbentuk 80 kelompok di seluruh Sultra," katanya.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - KERANG RAKSASA MAKIN LANGKA

UNDANGAN CALON VOLUNTEER KIM 6 - TAHUN 2011

Senin, Mei 09, 2011



Kepada Yth.
Calon Volunteer KIM 6 dan Forkom Matabuka
di Tempat

Perlu kami informasikan bahwa Coral Reef Rehabilitation and Management Program (COREMAP) II - LIPI adalah salah satu program Pemerintah Indonesia yang bertujuan untuk melindungi, merehabilitasi dan mengelola secara lestari terumbu karang serta ekosistem terkait di Indonesia. Melalui Bidang Pendidikan, COREMAP II - LIPI melakukan serangkaian kegiatan pendidikan kelautan yang melibatkan berbagai khalayak mulai dari tingkat SD, SMP, SMA / sederajat hingga Perguruan Tinggi.

Dalam upaya meningkatkan kegiatan pendidikan dari tahun ke tahunnya, pada tahun 2011, Bidang Pendidikan mengadakan agenda nasional yaitu Kontes Inovator Muda yang ke - VI (KIM 6) bagi siswa – siswi SMA / sederajat di seluruh Indonesia. Disamping itu, dilaksanakan juga Forum Komunikasi Masyarakat Pecinta Terumbu Karang (Forkom Matabuka) berupa Lomba Blog Kelautan untuk Tingkat Pelajar SMA/Sederajat dan Mahasiswa.

Sehubungan dengan kegiatan itu, kami telah membuka kesempatan bagi Mahasiswa (jadwal kuliah tidak padat) atau sudah lulus kuliah (tidak ada keterikatan pekerjaan di perusahan/ instansi lain) untuk bergabung sebagai relawan (volunteer). Maka berdasarkan lamaran dan CV yang telah kami terima, maka kami mengundang sdr/i untuk dapat hadir pada :

Hari/Tanggal : Rabu/ 18 Mei 2011

Waktu : 10.30 WIB – Selesai

Tempat : Gedung COREMAP II - LIPI, Lantai 3
Jalan Raden Saleh No. 43 Jakarta Pusat

Agenda :

- Ramah Tamah (Perkenalan)

- Pengarahan dan penyampaian informasi mengenai kegiatan KIM 6/

Forkom Matabuka terhadap pelaksanaan kerja relawan (volunteer).

Demikian informasi dan undangan kami, atas perhatian dan kerjasama Saudara/i calon volunteers, kami ucapkan terima kasih. Salam Lestari.

Bidang Pendidikan Kelautan,

CRITC COREMAP II-LIPI,

UP. Dwi Sekar Asih, S. Sos/ Ranthi Bariel Putri, S. Si
Gedung COREMAP - LIPI
Lantai 4, Ruang 403
Jl. Raden Saleh No. 43, Jakarta Pusat
Telp/ Fax : 021-3143080 ext 1403/ 1405
Hp : 0852 1000 2298

Perhatian :

Informasi dan undangan ini juga akan kami kirimkan ke email para calon volunteer atau melalui telepon.

Para calon volunteer diharapkan mengkonfirmasikan kehadhirannya melalui SMS dengan Format (Datang/ Tidak Datang, Nama, Tempat/Tanggal Lahir, Asal Universitas) ke 0852 1000 2298 - Contoh : Datang, Putri, Jakarta/09052011, Universitas Indonesia

READ MORE - UNDANGAN CALON VOLUNTEER KIM 6 - TAHUN 2011

KERAJAAN YANG RAPUH

Jumat, April 29, 2011

Dari polip karang yang mungil, tumbuh sesuatu yang menakjubkan: Great Barrier Reef Australia. Mungkinkah semuanya akan binasa?

Oleh JENNIFER S. HOLLAND
Foto oleh DAVID DOUBILET
Tidak jauh di bawah permukaan Laut Koral, tempat menetapnya Karang Penghalang Besar, gigi ikan kakatua (Scaridae) menggerus karang, cakar kepiting menyentak saat mereka berebut tempat persembunyian, dan ikan grouper (Epinephelus) seberat 275 kilogram menggetarkan kantung renangnya untuk mengumumkan kehadirannya dengan gebrakan yang mantap. Ikan hiu dan silver jacks (Carangidae) berkelebat-kelebat. Cabang anemon bergeletar dan ikan serta udang kecil-kecil seakan menari-nari riang sambil menjaga ceruknya. Benda apa pun yang tidak bisa menempelkan diri pada benda kaku pasti terseret dan terlontar oleh alunan gelombang laut.

Keragaman karang yang amat kaya itulah yang antara lain membuatnya memukau. Terumbu karang itu dihuni oleh 5.000 jenis moluska, 1.800 spesies ikan, 125 jenis hiu, dan berbagai makhluk mini yang tak terhitung banyaknya. Namun, pemandangan yang paling memesona—dan alasan utama terumbu karang ini meraih status Pusaka Dunia—adalah luas bentangannya, mulai dari tangkai bunga karang dan lempengan karang yang rata oleh ombak (Heliofungia actiniformis), hingga bebatuan mirip sarung tangan oven yang digelantungi karang cokelat mirip tombol sehalus sadel dari kulit. Karang lunak bertengger di atas karang keras, ganggang dan spons mewarnai bebatuan, dan setiap celah menjadi hunian makhluk hidup. Makhluk hidupnya, seperti karang ini, bertransformasi dari utara—tempat dimulainya terumbu—hingga ke selatan. Pergerakan kelompok makhluk hidup yang sangat beragam ini tidak ada tandingannya di dunia.

Waktu dan gelombang laut dan sebuah planet yang selalu berubah menciptakan Karang Penghalang Besar jutaan tahun yang silam, menggerogotinya, dan menumbuhkannya kembali—terus-menerus. Sekarang semua faktor penunjang pertumbuhannya mengalami perubahan dengan kecepatan yang belum pernah dialami Bumi. Kali ini terumbu karang tersebut mungkin mengalami kerusakan melebihi ambang batas genting yang menyebabkannya tidak dapat pulih kembali.

Tak Kenal Maka Tak Sayang Bangsa Eropa diperkenalkan kepada Karang Penghalang Besar oleh penjelajah Inggris, Kapten James Cook, yang menemukannya secara kebetulan. Pada suatu senja di bulan Juni 1770, Cook mendengar suara gesekan kayu dengan batu; dia tidak pernah membayangkan bahwa kapalnya membentur dunia makhluk hidup paling luas di Bumi: lebih dari 26.000 kilometer persegi bentangan terumbu karang dan pulau kecil-kecil yang menebal dan menipis dan berlika-liku sepanjang kira-kira 2.300 kilometer.

READ MORE - KERAJAAN YANG RAPUH

BLUE CARBON UNTUK WARGA PESISIR

Rabu, April 27, 2011

Wartawan The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyusuri hutan mangrove di Pulau Nusa Lembongan, Bali, 10 April 2011

Wayan Sukitra melepaskan tali yang mengikat setiap perahu dengan tambatannya. Ada delapan perahu yang dinaiki anggota The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), yang menyusuri hutan mangrove seluas 9 kilometer persegi di Pulau Nusa Lembongan, Bali.

Setelah berkeliling dengan perahu yang harga sewanya Rp 70 ribu per unit, peserta diajak mengunjungi kafe dan toko cendera mata. "Ini usaha dari kelompok masyarakat Mangrove Tour," kata Sukitra, yang menjadi ketua kelompok itu, kepada wartawan yang mengunjunginya pada 10 April lalu. Pada Juli hingga September, ujarnya, banyak turis asing berwisata ke hutan mangrove di Desa Jungut Batu, Nusa Lembongan.

Hutan ini menjadi tempat wisata semenjak 2003. Sebelumnya, kata Sukitra, warga menebangi mangrove untuk kayu bakar dan lahan industri garam. Alhasil di beberapa tempat terjadi abrasi. Kemudian seorang turis asal Prancis mengajak Sukitra mengembangkan wisata mangrove.

Warga lantas menanam bakau pada lahan kosong dan membentuk Mangrove Tour. Sekarang kelompok ini memiliki 33 perahu dan masyarakat menggunakan kompor gas untuk memasak. Mereka juga menyajikan hidangan laut, seperti kepiting bakau, untuk wisatawan serta aktivitas menyelam.

Menurut Daniel Murdiyarso, peneliti Center for International Forestry Research (Cifor), apa yang dilakukan warga Jungut Batu merupakan bagian dari adaptasi perubahan iklim. "Hutan bakau memiliki peran yang besar dan selama ini belum dieksplorasi," katanya kepada wartawan peserta workshop yang diadakan Cifor dan SIEJ di Bali pada 8-11 April 2011.

Ternyata, bukan hanya adaptasi, tapi hutan bakau juga memiliki peran dalam mitigasi perubahan iklim. Tanaman ini memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. "Kepadatan karbon hutan mangrove lebih tinggi empat kali daripada hutan tropis umumnya," demikian kesimpulan penelitian yang dilakukan Cifor dan USDA Forest Services (Departemen Pertanian Amerika Serikat Bidang Kehutanan).

Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam Nature GeoScience edisi 3 April 2011. Riset ini dilakukan oleh Daniel C. Donato, J. Boone Kauffman, Daniel Murdiyarso, Sofyan Kurnianto, Melanie Stidham, dan Markku Kanninen. Sampel penelitian mereka diambil dari hutan mangrove di Kepulauan Mikronesia (Kosrae, Yap, dan Palau), Indonesia (Sulawesi, Jawa, serta Kalimantan), dan Sundarbans (Delta Sungai Gangga-Brahmaputra serta Bangladesh).

Menurut Daniel, ini merupakan studi yang pertama kali mengintegrasikan pentingnya mengukur total cadangan karbon berdasarkan geografi atau luas wilayah hutan mangrove. Tim peneliti memperkirakan tingkat pembusukan dan penguraian di hutan mangrove lebih cepat daripada hutan di daratan.

Sebagian besar karbon disimpan di bawah hutan mangrove daripada di atas permukaan tanah dan air. Jumlah karbon yang tersimpan di atas tanah sebanyak 100-120 ton per hektare. Sementara yang di bawah tanah bisa 1.200-1.300 ton setiap hektare. "Itu untuk semua jenis mangrove," kata Daniel.

Stephen Crooks, Direktur Perubahan Iklim Biro Konsultasi Perlindungan, Peningkatan, dan Perbaikan Ekosistem yang Bergantung pada Air (ESA-PWA), menjelaskan, hutan mangrove, rawa pasang-surut, dan padang lamun menghilangkan karbon dari atmosfer serta menguncinya di dalam tanah selama ratusan hingga ribuan tahun.

Tidak seperti hutan daratan umumnya, ekosistem laut secara terus-menerus membangun kantong-kantong karbon. "Juga menyimpan blue carbon dalam jumlah besar ke sedimen dasar laut," kata Crooks, yang hadir di Bali sebagai pembicara dalam lokakarya Tropical Wetland Ecosystems of Indonesia: Science Needs to Address Climate Change Adaptation dan Mitigation.

Cecep Kusmana, ahli mangrove dari Institut Pertanian Bogor, juga menjadi pembicara dalam forum tersebut. Pada 2008 hingga 2010, dia melakukan penelitian mangrove jenis api-api di Muara Angke, Jakarta Utara. "Mangrove usia 2 tahun berhasil menyerap 230 gram karbon dioksida per 100 gram daun," katanya. Sedangkan satu pohon mangrove tersebut berat total daunnya sampai 1,5 kilogram.

Daniel Murdiyarso dan teman-temannya juga menghitung bahwa perusakan dan degradasi ekosistem mangrove diperkirakan menghasilkan hingga 10 persen dari emisi deforestasi global. Sebab, yang hilang bukan hanya karbon di atas permukaan mangrove, tapi juga di bagian bawahnya.

Di Indonesia, saat ini ada 3,1 juta hektare mangrove atau 22,6 persen di dunia. Hutan ini terancam rusak jika tidak ada upaya melindunginya. Di Kalimantan saja, laju kerusakannya mencapai 7 persen dalam lima tahun terakhir.

Perusakan disebabkan oleh penggunaan lahan untuk budi daya perikanan, infrastruktur, dan aktivitas pembangunan lainnya. Ancaman terhadap mangrove bertambah akibat naiknya permukaan air laut, yang diperkirakan mencapai 18-79 sentimeter pada abad ini. Di Jawa, dampak perusakan mangrove telah dirasakan, yaitu abrasi tinggi dan kesulitan mencari ikan.

Daniel berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melindungi hutan mangrove. Apalagi penelitian Cifor dan USDA menunjukkan bahwa mangrove memberi sumbangan sangat potensial untuk mengurangi emisi karbon dibanding hutan hujan tropis. "Saat ini belum ada insentif bagi perlindungan hutan mangrove," kata Crooks.

Menurut Crooks, upaya tersebut memiliki potensi untuk dikaitkan dengan skema REDD+ (Reduction Emission from Degradation and Deforestation plus) dan mekanisme pendanaan karbon lainnya. Tanpa menunggu kucuran dana dari luar negeri, kelompok masyarakat Mangrove Tour di Pulau Nusa Lembongan, Bali, sudah menunjukkan kepada dunia bahwa, untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tidak harus merusak lingkungan.

READ MORE - BLUE CARBON UNTUK WARGA PESISIR

BUDI DAYA KERAPU BISA RUSAK TERUMBU

Senin, April 25, 2011

Budidaya kerapu merupakan salah satu upaya untuk mencegah pengambilan ikan karang tersebut secara langsung di alam. Namun, budidaya yang tidak efisien juga tetap bisa merusak ekosistem terumbu karang.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif LSM Mitra Bentala Herza Yulianto dalam acara Media Trip bersama WWF pada hari Senin (18/4/2011) di Lampung. Ia mengatakan, kerapu biasanya dibudidayakan di keramba apung di laut lepas yang kadang berada di wilayah yang terumbu karangnya masih bagus. Dengan demikian, kondisi lingkungan keramba secara langsung berpengaruh terhadap ekosistem terumbu karang.

Herza mengungkapkan, potensi kerusakan berasal dari material sisa budidaya. "Untuk kerapu, dampak limbahnya bisa lebih kritis karena langsung kontak dengan lingkungannya," ungkap Herza.

Akumulasi sisa pakan, misalnya, bisa mengendap di dasar laut dan terumbu karang. Sisa pakan bisa berubah menjadi zat racun dan mengakibatkan pemutihan terumbu karang. Di Lampung, akumulasi sudah terjadi di wilayah Tanjung Putus.

Menurut Herza, kerusakan masif terumbu karang memang belum terjadi saat ini, tetapi perlu diantisipasi. Ia menekankan penggunaan pakan yang efisien dan pemantauan dasar perairan untuk mendeteksi adanya akumulasi limbah.

Herza bersama timnya juga pernah mengembangkan rumpon untuk mengatasi masalah tersebut. "Harapannya nanti sisa pakan bisa dimakan oleh ikan-ikan yang terkumpul di situ, tidak langsung ke dasar," urainya.

Zonasi dan perizinan

Sementara itu, Koordinator Program Akuakultur WWF Indonesia, Cut Desiana, mengatakan, untuk mengantisipasi dampak lingkungan akibat budidaya, perlu diupayakan peraturan tentang zonasi dan perizinan.

"Soal lingkungan misalnya, zonasi budidaya juga harus melihat wilayah-wilayah tertentu yang dilindungi, misalnya karena adanya terumbu karang, padang lamun, atau lokasi pemijahan ikan," jelasnya.

Menurut dia, peraturan zonasi yang dikeluarkan pemerintah saat ini belum cukup rigid. "Tata ruang pesisir ini banyak yang belum selesai. Pemerintah daerah belum aktif melakukan pendataan," ungkapnya.

Tentang perizinan, Desiana mengatakan, "Izin usaha harus di-screening bahwa lokasinya memang tepat, tidak ada potensi konflik, dilihat potensi wilayah dan kepadatannya seberapa besar."

Desi mengungkapkan bahwa studi tentang perizinan itu harus melihat daya dukung lingkungan. "Ini muaranya adalah adanya pembatasan nantinya, sesuai dengan daya dukung lingkungannya," katanya.

Menurut Desi, pemerintah harus mengadopsi standar yang kredibel dalam mengupayakan lingkungan budidaya yang baik. Selain itu, ia juga menggarisbawahi perlunya melihat akses masyarakat lokal sebab pantai merupakan fasilitas publik.

Desi mendefinisikan budidaya yang ideal dan berkelanjutan sebagai budidaya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.

Sumber : Kompas Indonesia

READ MORE - BUDI DAYA KERAPU BISA RUSAK TERUMBU

 
 
 

TENTANG FORKOM

FORKOM KOMUNIKASI MASYARAKAT PENCINTA TERUMBU KARANG merupakan wadah komunikasi diantara masyarakat dalam upaya meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pelestarian ekosistem terumbu karang, COREMAP dengan komponen penyadaran masyarakat telah berupaya mengkampanyekan berbagai program kepada masyarakat luas. Selengkapnya

TRANSLATE POST

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Forkom Komunitas